silent cry

111 14 7
                                        

Enjoy ෆ

"Gue harap lo bisa ngerti, hidup gak semuanya tentang dendam, Hyun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue harap lo bisa ngerti, hidup gak semuanya tentang dendam, Hyun."

Hyunjin menatap datar cangkir yang hancur berkeping-keping diatas lantai. Benar, kedatangan Minho dengan maklumat bagaikan petir di siang bolong.

Hatinya sakit, tapi dibalik itu Hyunjin juga berpikir, Bangchan tidak mungkin mengambil langkah ini dengan cuma-cuma. Semua pasti ada latarbelakang nya, apalagi ini menyangkut masa depan mereka. Masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa mereka hidup dibawah kendali kutukan itu.

Yang lebih membuat Hyunjin kecewa lagi, mengapa Bangchan tidak memberitahunya dari awal, dan, mengapa laki-laki itu jujur hanya pada Minho? Hyunjin tahu, bahwa dia memang tipikal orang yang bandel dan mudah tersulut, sama seperti Felix. Tapi tetap saja, Felix masih berada jauh diatasnya.

Helaan nafas keluar dari mulut Minho, dia sangat bersyukur karena marahnya Hyunjin kali ini tidak diliputi kekerasan, sesakit itu, kah? Sampai Hyunjin tidak mampu berteriak sedikitpun.

"Dia gak bakal jujur kalau bukan gue yang nuntut lebih dulu."

Kepalan tangan Hyunjin mengendur, lalu ditatapnya Minho yang sudah menatapnya dari tadi. Seakan paham maksud dari tatapan itu, dengan senyuman tipis yang tersungging, Minho memeluk Hyunjin dan memberikan sedikit usapan lembut di punggungnya. Mencoba meringankan beban yang mengacaukan suasana hati sang adik.

Minho tahu semua ini terlalu mendadak, namun pada kenyataannya, tidak ada waktu yang tepat di dunia ini.

"Gue udah tau dari dulu, setiap kita kumpul di markas dan membahas hal sensitif, sadar gak sadar Kak Chris lah yang paling jarang ngajuin pendapat. Itu karena pemikirannya yang kritis, dia berusaha buat gak ceroboh, sebab salah satu target kita udah ada ditangannya." Ucap Minho, dia merasakan tangan Hyunjin meremas pakaiannya.

"Setelah gue ngasih tau fakta ini ke lo, tolong jangan benci Kak-"

"Gue gak benci." Sergah Hyunjin penuh penekanan, anak itu menggertakkan giginya menahan diri agar tidak menangis di depan Minho, tapi hasilnya nihil, sekuat apapun Hyunjin menahan, seiring tatapan Minho menusuk lebih dalam ke indra penglihatannya, semakin besar pula peluang air matanya untuk keluar.

Hyunjin tidak suka apabila ada orang yang memohon-mohon kepadanya, Hyunjin lebih menyukai Minho yang galak seperti dulu. Walaupun wajah Minho tetap datar, namun, ada sedikit bumbu permohonan yang samar-samar mulai terlihat.

"Sekarang gue ngerasa diserang dari berbagai sisi." Ungkap Hyunjin, dia menyeka air matanya kasar. "Gue butuh waktu, tolong tinggalin gue disini, sekarang."

"Hyun-" Minho menelan kembali kalimatnya. Lelaki bersurai hitam kecoklatan itu berdecak, permintaan Hyunjin kali ini membuat Minho semakin enggan untuk pergi. Minho memandang punggung Hyunjin yang kian menjauh.

"Jangan." Hyunjin bergumam sangat pelan, namun siapapun masih dapat mendengarnya.

Persetan dengan larangan, Minho sudah terlanjur mencemaskan adiknya. Dia berlari kecil untuk menyusul Hyunjin, namun sepersekian detik langkah Minho terhenti, bersamaan dengan mengarahnya pisau lipat yang tiba-tiba berada di depan Minho, benda tajam itu hanya berjarak satu centi saja dengan matanya.

DIAMONDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang