♕ TREASURE JAPAN LINE ft. CHAN, MINHO, HYUNJIN, AND FELIX FROM STRAY KIDS ♕
Ikatan darah adalah takdir, dan takdir adalah kutukan. Di dunia di mana kemampuan adalah segalanya, sebuah dendam memicu konspirasi yang mengikat mereka pada pertumpahan dar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika ini adalah kamu, apa hal yang pertama kali kamu rasakan apabila bertemu dengan saudara setelah bertahun-tahun kalian tidak bertemu? Sejatinya, setelah mengetahui bahwa merekalah pelaku atas celakanya salah satu anggotamu. Canggung? Kesal?
Saat ini, di markas Oddinary, kedua belah pihak tengah berhadapan tiga lawan tiga, dengan meja bundar yang menjadi batas antara mereka. Banyak sekali pertanyaan yang membuat kepala terasa mengeluarkan uap, niat hati ingin segera mendapatkan semua jawaban itu.
Semuanya dimulai dengan Bangchan yang menatap Mashiho penuh arti. Sebagai sesama Neurology, mereka tentu memiliki pikiran yang sepadan.
"Halo, kapten."
"Hai, Kak Chris." Respon Mashiho, tangannya terangkat untuk membalas jabatan tangan Bangchan.
Mashiho menggigit bibir bagian bawahnya, mencoba menyamarkan rasa tak suka yang terpampang di wajahnya.
"Sebelum kalian tau rencana kami. Gue yakin kita sama-sama punya pertanyaan, akan lebih baik kalau kita saling terbuka, karena misi ini bergantung pada komunikasi antar anggota." Ucap Bangchan.
"Gak usah banyak bacot. Tinggal ngomong lo mau tanya apa, kalau bertele-tele gue tebas pala lo." Tukas Haruto tanpa menghiraukan reaksi yang lain.
Kalimat yang terkesan kurang ajar membuat sang lawan bicara tersinggung. Di seberang Haruto, Hyunjin mengepalkan tangannya dengan tatapan mata yang menghujam tajam kearah si bungsu Kanemoto. Dan Haruto yang sadar akan tatapan itu lantas mengangkat wajahnya menantang. "Apa lo?"
"Woi bocil, kalau gak bisa bantu apa-apa, minimal diem. Gak ada yang nyuruh lo buka mulut." Sergah Hyunjin menegakkan punggungnya.
"Lah, suka-suka gue. Siapa lo ngatur-ngatur? Tuhan?"
Hyunjin bangkit dari posisinya, dia tatap Haruto lekat. Pikirannya tiba-tiba terlintas peristiwa sebelum kehancuran ini terjadi, dan hal itu membuat Hyunjin semakin naik pitam. Dia tidak rela harga dirinya diinjak dua kali oleh pihak yang bersalah, enak saja.
Empat orang lainnya yang menyaksikan perdebatan ini belum ada yang bergeming. Mereka akan bertindak kalau Hyunjin dan Haruto sudah melewati batas.
"Wajar aja kalau gue ngatur, ini tempat gue. Yang gak wajar itu lo, mana ada tamu ngotot, gak tau adab emang."
Telinga Haruto panas, dia bahkan tidak tahu-menahu mengapa mereka dipanggil ke markas asing ini. Dan setelah dia sampai, ini kah yang Haruto dapatkan?
"Terus ngapain lo manggil kita kesini, an-!"
"Haruto." Panggil Yoshi.
Brak!!
Semua orang sontak berdiri kala Hyunjin menggebrak meja. Anak itu menunjuk Haruto beberapa saat, lalu mengacak rambutnya. Sesungguhnya diam adalah pilihan yang tepat, lagipula ini bukan masanya untuk berdebat. Hyunjin kembali mendudukkan dirinya bete.