logical attack

107 15 18
                                        

Enjoy ෆ

Saat ini pukul 8 pagi, di sebuah kamar dengan kondisi lampu terpadam, ruangan ini hanya bermodalkan cahaya yang berasal dari jendela. Walaupun gorden masih tertutup setengah, cahaya matahari yang masuk ke dalam membuat tiga orang di kamar itu rusuh dan saling menyuruh untuk menutup sisa celah yang terlihat paling terang. Tapi ternyata hanya dua orang yang rusuh, satunya lagi masih anteng di tengah-tengah mereka.

"Buruan tutup ancrit! Silau, men!" Racau Haruto yang posisinya paling dekat dengan jendela.

"Lo yang paling ujung woi, kutu beras! Please jangan ganggu dulu, deh. Gue sibuk!" Balas Mashiho tak kalah ngegas.

Haruto lantas menoleh ke samping kanan, tiba-tiba tangannya gatel pengen nabok Mashiho ketika matanya menangkap sosok anak kedua itu ternyata sedang memeluk Asahi layaknya guling. Haruto cemburu, dia langsung mepet-mepet dan ngerusuh tempat Mashiho.

BUAK!!

Pantat Mashiho jadi sasaran.

"ANJER! APAAN SIH?!"

"MINGGIR! KAK SAHI PUNYA GUE, LO GAK DIAJAK."

"DIH, APAAN? GAK ADA GAK ADA, DARI TADI JUGA DULUAN GUE DARIPADA LO! JAUH-JAUH SANA, BAU JIGONG."

Asahi yang menjadi rebutan adik dan kakaknya cuma bisa diam sambil menatap dua pasang tangan yang bergelut diatasnya, alias tabok-tabokan.

Awalnya Asahi sendirian dikamar ini setelah melakukan pemulihan di Nauze. Namun, saat waktu menunjukkan tengah malam, Asahi terbangun karena merasakan sensasi aneh ditubuhnya, anak itu melihat Mashiho dan Haruto yang tiba-tiba sudah memeluknya dari segala sisi, untung saja kasurnya luas.

Atensinya kembali pada dua orang yang tidak bisa diam barang sedetik saja. Ternyata mereka lebih memilih cosplay cacing kepanasan ketimbang kalem seperti Asahi.

Duk!!

Mampus, Haruto langsung hening setelah kepalanya kepentok headboard. Dalam hati Mashiho puas-puasin deh tuh, tapi disisi lain dia khawatir lah, takut otaknya eror. Pasalnya, punggung Haruto bergetar dan langsung memposisikan dirinya menghadap kearah jendela.

"Waduh, Haru?" Kaki Mashiho nyebrang lalu nyenggol si bungsu yang membelakanginya. "Woi, satu tambah satu berapa?"

Plak!

"Idiot, lo kira gue bodoh, dua lah!" Jawab Haruto mengacungkan tiga jari.

Asahi tak kuasa menahan tawa, pemuda bersurai putih itu menyembunyikan setengah wajahnya ke dalam selimut.

Tak sampai 5 detik setelah Mashiho menggelengkan kepalanya, dia melihat tangan Haruto sudah berubah, anak itu memamerkan jempol kebalik, alias isyarat meremehkan kepadanya. Mashiho mau ngamuk. Dia bangkit dari tidurnya, lalu menghujani Haruto dengan timpukan bantal berkali-kali.

"WOI! KEPALA GUE LAGI PUSING, UDAH UDAH!" Teriak Haruto meringkuk melindungi kepalanya.

"SAPE PEDULI? EROR AJA SEKALIAN TUH ISINYA."

"KAK SAHIII, TOLONG!"

Ctek!

Lampu kamar menyala, dan keributan yang sedang berlangsung seketika berhenti. Tiga pasang mata menoleh perlahan kearah Yoshi di ambang pintu dengan bantal guling yang membuatnya terlihat ringkih.

Yoshi menatap datar tiga adiknya yang memakai piyama kembar, si sulung kemudian menghela nafas, persis seperti seorang ibu yang lelah menghadapi kelakuan anak-anaknya.

Mereka kira Yoshi akan marah karena mengganggu acara tidurnya yang sangat nikmat, tapi ternyata kejadian diluar prediksi BMKG terjadi, lelaki itu malah join dan ikut serta mengacak-acak kasur Asahi.

DIAMONDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang