red light

186 26 2
                                        

Enjoy ෆ

Barangkali gue emang orang yang gampang baper. Kalau tanya kenapa, karena gue gampang mengagumi.

Gue pernah jatuh cinta dan patah hati sekaligus pada seorang lelaki 'gila' yang sering melintas di depan gerbang sekolah.

Dulu gue cinta pada seseorang yang gue perjuangin, tapi akhirnya ada hal yang bikin kami gak lagi bertahan.

Entah kenapa semesta selalu ngatur pertemuan gue dengan orang-orang baru ketika gue jatuh dengan hati patah, udah coba mengobati dan perbaiki diri. Maka, gue pun jatuh cinta lagi, kadang bersambut dan kadang enggak.

Kadang gue berpikir hidup ini kayak labirin. Kita gak pernah tau apa yang bakal kita hadapi atau siapa yang bakal kita temui di begitu banyak persimpangan. Barangkali bener kalau Tuhan suka kejutan. Pada suatu persimpangan itu, takdir ngatur pertemuan gue ... Sama lo.

Buat lelaki yang pernah gue ajak makan bareng, semoga kita bisa tetep jadi sepasang teman baik yang saling menemani hingga nanti. Dan gue gak ragu lagi, bahwa sekalipun gue sudah jatuh cinta berkali-kali, jatuh cinta terbaik gue adalah lo.

°°°

Waktu menunjukkan pukul 4:15 pagi, langit masih dalam keadaan gelap, tapi Asahi sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Saat adzan subuh berkumandang dari masjid terdekat, lelaki itu melangkahkan kakinya masuk ke kawasan sekolah, suara langkah kaki langsung jadi suara latar di keheningan itu, membawanya pergi berjalan kearah kelas.

Tanpa rasa takut, Asahi membuka pintu kelas dengan tenang, matanya langsung disuguhi pemandangan gelap yang mencekam. Tangannya menekan saklar lampu, seketika ruangan yang tadinya gelap jadi terang, memperlihatkan keadaan bangku yang masih tertata rapi.

Asahi berjalan kearah bangkunya dan menyimpan tas disana, matanya langsung berhadapan dengan bangunan sekolah yang terlihat horor kalau dalam keadaan gelap gulita begini. Asahi meraih kemonceng dan mulai membersihkan rak buku di belakang kelas. Iya, hari ini jadwal piketnya, makanya dia berangkat subuh-subuh. Mengerjakan sesuatu sambil dilihat orang lain membuat Asahi risih.

Pada saat Asahi sibuk menata buku, tiba-tiba angin berhembus menerpa wajahnya dan menerbangkan kecil anak rambutnya. Asahi menoleh, padahal jendela di dekatnya masih tertutup. Lantas, darimana asal angin itu? Memilih untuk tidak peduli, Asahi kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Prang!!

Suara barang pecah. Asahi menoleh cepat, tangannya kembali menggantungkan kemonceng ke tempat semula. Dengan rasa penasaran, Asahi berjalan kearah pintu kelas yang bermaterial kaca, matanya mengintip ada apa diluar sana, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa, hanya lorong kosong dengan lampu yang remang-remang.

Wushh

Angin kembali berhembus, menyebabkan gorden jendela didekatnya berayun-ayun. Asahi membuka pintu kelas perlahan, saat pintu terbuka, seketika angin misterius tadi hilang. Asahi menoleh kearah kiri, dia lihat lorong yang langsung disambut persimpangan, tiba-tiba lampu disana nyala padam berkali-kali.

Asahi menutup pintu kelas dan mulai berjalan kesana, entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang menyuruhnya menghampiri kejanggalan itu. Saat tiba disana, Asahi berdiri di depan pintu perpustakaan, dan lampu yang awalnya nyala padam kembali normal. Tapi tak lama kemudian, lampu itu padam sepenuhnya. Lelaki itu terus berdiri disana, sampai dia merasakan ada tangan dingin yang menyentuh pundaknya.

Asahi membalikkan badan, bukan dia yang kaget, malah sang pelaku yang terperanjat melihat Asahi. Lelaki itu melirik name tag yang terpasang di dada kirinya, disana tertuliskan nama 'JENO'.

DIAMONDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang