♕ TREASURE JAPAN LINE ft. CHAN, MINHO, HYUNJIN, AND FELIX FROM STRAY KIDS ♕
Ikatan darah adalah takdir, dan takdir adalah kutukan. Di dunia di mana kemampuan adalah segalanya, sebuah dendam memicu konspirasi yang mengikat mereka pada pertumpahan dar...
Kicauan burung menyapa, dua pasang mata melirik kearah jendela, oh, rupanya hari sudah pagi, dan Bangchan masih setia termenung di tempat yang sama. Malam ini, tak sedetikpun lelaki itu dapat tidur. Ia melirik sekilas kearah Minho yang tergeletak diatas karpet.
Usai meluapkan emosinya pada Minho tadi malam, tiba-tiba ingatannya membawa kembali pada saat itu, saat dimana hubungan mereka dengan para Poseidon terbilang sangat rukun. Bangchan menghempaskan diri keatas kasur, hatinya menciut, dia rindu pada momen yang tak akan pernah terulang lagi di hidupnya.
Sekarang adalah tanggal lima November dua ribu dua puluh tiga, artinya, sudah tiga belas tahun berlalu setelah percakapannya dengan Yoshi kala itu. Di tanggal, bulan dan waktu yang sama, Bangchan merasa dirinya memasuki ruang dan waktu secara mundur.
Di alam bawah sadarnya, dapat Bangchan lihat dirinya sendiri yang kerap masih berusia lima tahun, duduk berdampingan dengan Yoshi diatas rumput halus, dua bocah yang saling memasangkan mahkota ilalang di kepala mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⏳⏳⏳
Before the conspiracy occurs. November 5, 2009.
"Mahkota ini cocok di kepalamu." Bangchan terkekeh, tangan kecilnya merapikan helaian surai Yoshi yang tertiup angin pagi.
"Kau juga cocok."
"Omong-omong, kalau kita duduk berdampingan dengan mahkota seperti ini, aku rasa aku sedang melihat Asahi dan Felix di masa depan, mereka akan sangat keren." Ungkap Bangchan.
"Kau benar, setelah tantangan kita yang bertukar adik selama seminggu terpenuhi, rasanya aku tidak rela kalau kita berpisah." Tutur kata Yoshi membuat senyum Bangchan pudar.
"Mengapa tiba-tiba sekali membahas perpisahan?"
Yoshi menoleh, dapat dia lihat ekspresi tak suka pada raut Bangchan. Detik berikutnya, senyum khas anak kecil menghiasi wajah Yoshi, tangan anak itu terangkat untuk merangkul pundak sempit sepupunya.
"Aku hanya merasa tidak adil, Chris. Memangnya anak kecil sepertiku sudah layak memikirkan kehidupan? Aku masih ingin bermain seperti anak-anak lain. Kamu punya usia yang sama denganku, jadi kupikir lebih baik aku berbagi hal ini padamu dibandingkan pada mereka yang masih bayi." Ucap Yoshi.
Bangchan paham siapa mereka yang dimaksud Yoshi, tentu saja para adik-adiknya.
Detik berikutnya, pikirannya membayangkan bagaimana jika -perpisahan- itu benar-benar terjadi. Tak akan ada lagi kebersamaan, tak akan ada lagi istilah bertukar adik, dan tak akan ada lagi canda tawa, mungkin semua itu akan tergantikan dengan mereka yang saling beradu senjata.