Sepasang kaki menggantung dan bergerak silih berganti, seorang pemuda berparas tenang duduk di tepi kasur dengan pandangan yang fokus keluar jendela, dimana diluar sana hujan turun dengan deras. Asahi membuang nafas jengah, suasana seperti inilah yang membuat perasaannya tidak normal, seolah-olah mengajaknya untuk memikirkan hal yang berakhir menjadi beban tersendiri. Namun, entah apa yang membuatnya tertarik menonton jutaan tetes air itu menghantam bumi.
"Orang asing itu mengincar Asahi, bukan lo."
"Atas dasar apa? Dia gak suka gue deket sama Asahi?"
"Mana gue tau. Coba lo pikir, belum lama lo bebas dari si bule, tiba-tiba ada kejadian kek gini gimana gue gak curiga?"
Asahi mengibaskan tangannya di depan wajah. Kata-kata Jaehyuk seminggu lalu selalu menghantuinya, dan selama seminggu ini, Asahi sedikit menjaga jarak dengan Zeline, walaupun berkali-kali gagal karena gadis itu terus mengikuti kemana Asahi pergi di sekolah.
Asahi memijat keningnya pusing, mengapa setiap kali dirinya merasa nyaman, selalu ada sesuatu yang dengan mudahnya membuat Asahi kembali bimbang. Asahi berpikir dengan keadaan sadar, dirinya bertanya mengapa Asahi melakukan cara ini.
"Lo mikirin apa, Hikun?"
Si pemilik nama terkejut sampai berdiri dari duduknya, terlalu hanyut dalam pikirannya sampai Asahi tidak menyadari kalau ternyata Yoshi sudah berdiri di samping lemari sambil melipat tangan, menuntut sesuatu.
"Mengapa Kak Yoshi bisa ada disini?" Tanya Asahi heran.
"Ini kamar gue."
Kening Asahi mengerut mendengar jawaban Yoshi, netranya menatap sekeliling hingga ia sadar ternyata ini benar-benar kamar kakaknya. Lelaki itu menggaruk kepalanya bingung.
"Mengapa bisa?"
"Tadi lo tiba-tiba masuk kesini, gue pikir lo mau bahas sesuatu, tapi ternyata malah liat hujan doang." Kata Yoshi.
"O-oh ..."
Yoshi menghela nafas panjang. "Jadi, boleh gue tau apa yang mengganggu pikiran lo?"
"Tidak ada."
Melihat gelagat adiknya yang mencurigakan, alis Yoshi terangkat sebelah. "Liat liat dulu kalau mau bohong, lo pikir lo lagi bicara sama siapa?"
Asahi yang mendapatkan respon seperti itu terus kehabisan kata-kata. Berdebat dengan Yoshi adalah sebuah kesalahan besar, akhirnya Asahi bersandar pasrah di headboard kasur.
"Baiklah, aku kalah."
Yoshi terdiam, memberi adiknya peluang untuk kembali bersuara. Namun, sampai satu menit berlalu, Asahi masih belum mengatakan apa-apa lagi.
"Kalo cuma masalah sepele, lo gak bakal sampe hilang fokus, Hikun,"
"... Do you need a deep talk?" Lanjut Yoshi yang berakhir pertanyaan.
Asahi menatap Yoshi sesaat, dia tidak mungkin memberi tahu kakaknya tentang tragedi di pasar malam kala itu. Ini bukan saatnya, kalau benar orang misterius itu mengincar Asahi, berarti itu merupakan urusannya.
"Sudah cukup menjawab pertanyaanmu?"
Zeline sedikit mengangkat kepalanya menatap Asahi yang sibuk menonton orang teriak-teriak naik kora-kora.
"Dari sini gue paham kenapa lo jarang senyum."
"Jika kamu memberiku pilihan memulai lagi atau amnesia, aku pasti lebih memilih opsi kedua."
Zeline menggelengkan kepalanya. "Jaman udah beda. Kalau lo paksa mau lupain kejadian di masa lalu, gue yakin gak akan pernah bisa. Kecuali kalau lo memulainya lagi dari awal, ketika lo udah bisa beradaptasi, itu pasti bikin pikiran lo otomatis teralihkan, karena otak sama perasaan bergantung sama apa yang lo lakuin."
KAMU SEDANG MEMBACA
DIAMOND
Fantasi♕ TREASURE JAPAN LINE ft. CHAN, MINHO, HYUNJIN, AND FELIX FROM STRAY KIDS ♕ Ikatan darah adalah takdir, dan takdir adalah kutukan. Di dunia di mana kemampuan adalah segalanya, sebuah dendam memicu konspirasi yang mengikat mereka pada pertumpahan dar...
