the first touch of Poseidon and Agni

165 18 3
                                        

Enjoy ෆ

Sesuai rencana, SMK Wiratmadja menyiapkan dua bus sekolah untuk berangkat ke lokasi turnamen hari ini. Satu mobil bus yang cukup menampung satu tim pemain dan minibus untuk orang-orang khusus, keduanya sudah berjejer di parkiran.

Jarak SMK Wiratmadja ke SMK Wijaya sejauh 20 kilometer, sebenarnya mereka bisa saja pakai kendaraan pribadi, tapi kepala sekolah menyarankan untuk memakai mobil milik sekolah, kalau ada yang nyasar kan repot, katanya. Padahal tanpa guru-guru ketahui, hampir setiap bulan mereka ketemuan dengan anak-anak Wijaya, ytta ...

Lagipula yang berangkat bukan cuma pemain saja, tapi satu kelompok suporter juga ikut untuk memeriahkan pertandingan nanti.

Parkiran yang tadinya kosong melompong, jadi padat orang-orang yang berdatangan, termasuk seluruh anak-anak murid yang akan tanding, mereka sudah ada disini sekitar dua puluh menit lalu.

Semua orang sibuk dengan kegiatannya hingga menimbulkan suara ricuh. Atensi Yoshi beralih pada Haruto yang sibuk menjahili Mashiho, tapi Mashiho sama sekali tidak menganggap keberadaan si bungsu.

Lenguhan lemah terdengar, Yoshi mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang membuat hatinya beku. Walaupun tengah berada di situasi seperti ini, pola pikir Yoshi benar-benar kusut, ia sama sekali tidak menemukan sedikitpun celah untuknya menyelesaikan hal ini.

"Kak Mashi mengatakan sesuatu padamu?" Menoleh kesamping, rupanya bukan cuma dia yang memperhatikan dua sejoli itu. Yoshi menghela napas, "gue bingung harus jelasin kayak gimana."

"Sahi tahu Kak Yoshi khawatir, begitupun denganku. Tapi, selagi dia masih bersama kita, seharusnya kita tidak perlu setakut itu."

"Maksud lo?" Tanya Yoshi yang merasa kalimat Asahi ambigu.

"Seseorang telah menghipnotis Kak Mashi." Celetuk Asahi tanpa menatap lawan bicaranya, Yoshi mengernyit. "Apa tujuannya?"

"Aku tidak tahu."

Yoshi mengulum bibir, laki-laki itu tengah berusaha menyusun kata-kata yang sedari tadi berputar-putar di kepalanya. Ditatapnya Asahi yang menunduk menatap aspal.

"Sahi, sebelumnya gue mau minta maaf sama lo, gue gak bermaksud bikin lo gak nyaman. But, are you willing to use your abilities?" Tanya Yoshi hati-hati, ia berharap Asahi bersedia menggunakan kemampuannya untuk mencari tahu akar permasalahan ini. Tapi naasnya permintaan Yoshi dijawab gelengan oleh Asahi.

"OK, that's fine, gue ngerti perasaan lo." Lirih Yoshi.

"Maksudku, aku tidak mungkin membiarkan kalian begitu saja. Sebenarnya aku sudah menggunakan kemampuanku jauh sebelum kau meminta."

Yoshi menoleh cepat.

"Tapi aku tidak bisa mencari tahu isi hati dan pikirannya." Asahi menengadahkan kepalanya, kemudian menatap Yoshi. "Aku sempat mencuri pikiran Kak Mashi, tapi disana hanya ada kegelapan, semuanya benar-benar kosong, aku tidak tahu apakah kemampuanku yang tidak mampu menjangkau semua itu atau bagaimana."

Yoshi yang mendengar penjelasan Asahi, pikirannya semakin berbelit.

"Gak papa, gue menghargai lo yang udah lawan rasa takut buat kita, thanks ya."

"Bukankah memang seharusnya begitu?"

Yoshi menatap kosong kearah depan, tiba-tiba pikirannya memutar kembali kejadian beberapa hari lalu di waktu malam. Jantung lelaki itu berhenti berdetak beberapa saat, ekspresi wajahnya otomatis mengikuti bagaimana perasaannya di dalam sana.

"Kejadiannya terjadi di waktu yang sama, pas gue pergi, Mashi juga diluar. Kalo bener ada sangkut-pautnya sama mereka, apa tujuan mereka ngincar gue dan yang lain?"

DIAMONDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang