♕ TREASURE JAPAN LINE ft. CHAN, MINHO, HYUNJIN, AND FELIX FROM STRAY KIDS ♕
Ikatan darah adalah takdir, dan takdir adalah kutukan. Di dunia di mana kemampuan adalah segalanya, sebuah dendam memicu konspirasi yang mengikat mereka pada pertumpahan dar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat ini di luar Mansion, desiran angin terasa lebih kencang dari biasanya, Keita berkali-kali memalingkan wajahnya kala sehelai rambut memaksa masuk kedalam matanya. Niat hati ingin mencari ketenangan dengan melihat-lihat keadaan negeri, namun semesta tak sedikitpun membuka telinga untuk mendengarkan keinginan insan satu ini. Cakrawala memperlihatkan sisi kelam nya, awan hitam menaungi seluruh kota, para Agent yang bertugas di luar ruangan pun langsung mendapat instruksi dari para mentor untuk menghentikan sementara aktivitasnya dan diperintahkan mencari tempat yang aman.
Petir menyambar, mengundang suara yang memekikkan telinga. Melihat semua orang berlarian mencari tempat untuk berlindung tak membuat Keita beranjak sedikitpun dari posisinya, matanya terus menelisik memandang ke segala arah, entah apa yang dia cari. Yang jelas, perasaannya tidak pernah tenang semenjak kejadian dimana dirinya membunuh Caecilia. Yang ada dipikirannya sekarang hanya Poseidon.
Hari ini, tepat pada tanggal 10 Desember 2009, Keita dan Akeno sepakat mengungsikan Poseidon ke suatu tempat yang cukup jauh. Hal ini murni keinginan pihak wanita, mendapat kesepakatan pun cukup memakan waktu, banyak hal yang perlu Keita korbankan demi mendapat restu dari sang suami untuk merealisasikan keinginannya.
Tentu saja, respon Akeno cukup dewasa untuk menanggapi situasi ini. Walaupun pria itu tidak tahu-menahu tentang mengapa istrinya ingin mengungsikan Poseidon dengan tujuan melindungi mereka. Entahlah, semenjak kematian Caecilia, sikap wanita itu terbilang sangat aneh. Jika memang tidak terlibat apa-apa dengan kasus tersebut, seharusnya Keita tidak perlu melakukan itu.
Setelah Akeno berbicara empat mata dengan sang istri dan bertanya mengapa, Keita hanya menjawab bahwa dia merasa sesuatu yang buruk tengah mengincar keempat putranya. Rasa percaya dan tidak percaya memiliki poin seimbang, wajar jika Keita berpikir seperti itu, dia pikir mungkin karena kemampuan Invisible nya, tapi disisi lain, Akeno sedikit merasa bimbang. Percayalah, mengambil keputusan tanpa berpikir dua kali adalah pilihan yang buruk.
"Master! Master!" Teriak Soobin, anak kecil itu terlihat berlari sambil mengangkat kedua tangannya panik.
Akeno lekas menoleh, hembusan angin kencang membuat ia memicingkan matanya. "Hei, Nak! Ada apa? Mengapa tidak bergabung dengan tim?"
"Saya tidak bohong, Master! Tadinya saya mau menjemputnya, tapi— saya malah jatuh di tempat yang becek, saya tidak mau princess Master ikut kotor karena saya." Ucap Soobin penuh kejujuran.
Akeno menyamakan tingginya dengan Soobin, tubuh kecil itu terlihat menggigil kedinginan. "Pergilah, ganti pakaianmu."
Setelah memastikan Soobin benar-benar pergi, Akeno berjalan keluar mansion dengan langkah cepat, pria itu benar-benar mendapati Keita yang berdiri di tengah hujan. Dengan bermodalkan payung, Akeno berjalan mendekati sang istri yang membelakanginya.