長い夜

190 15 5
                                        

Enjoy ෆ

"Hujan lagi hujan lagi. Cuaca jaman sekarang kenapa baperan amat, dah." Omel Haruto entah pada siapa, laki-laki itu menutup pintu kamarnya dan berjalan seraya memandang seluruh spot rumahnya dari lantai dua.

Malam ini sunyi sekali, tidak ada suara apapun selain gemercik hujan yang mulai gerimis diluar sana. Di saat-saat seperti ini, biasanya Yoshi akan datang ke kamarnya dan mengganggu Haruto, tapi sekarang tidak ada tanda-tanda Yoshi akan mengganggunya, makanya si bungsu merasa ada yang hilang.

Sedikit lama Haruto menatap jam dinding besar yang terpasang di lantai bawah, hingga ia mendengar suara barang pecah. Haruto lekas menoleh, suara itu berasal dari kamar Asahi yang berada disamping kamarnya.

Setelah menyadari bahwa pintu itu tak sepenuhnya tertutup, Haruto berjalan mendekat dan mengintip apa yang terjadi di dalam sana.

"Kak Sahi?" Panggilnya sambil mendorong pintu.

Saat Haruto berhasil masuk, ia melihat si pemilik kamar tengah sibuk mengaca dengan rambut basah, ia hanya menggunakan handuk hitam yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

"Gue denger suara barang jatuh dari kamar lo." Ucap Haruto saat Asahi menatapnya dengan raut bertanya.

"Tidak ada barang jatuh disini, keluarlah."

Kendatipun telah mendapat usiran secara halus, Haruto masih setia berdiam diri, matanya secara tidak sengaja menangkap sebuah luka goresan di pipi kiri Asahi. Laki-laki itu mendekat guna memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Haruto tidak langsung bertanya, otaknya justru mengarah pada kejadian dimana Asahi dirundung di sekolah.

Mengingat wajah menjengkelkan Giovano saat merundung membuat mood Haruto runtuh. Walaupun dia tahu kalau masalah antara Asahi dan Giovano telah usai, tak menutup kemungkinan jika preman sekolah itu tetap melakukannya di belakang tanpa sepengetahuan pihak BK. Kalau benar apa dugaannya, Haruto tidak akan pernah mengampuni preman gila itu. Namun, melihat Asahi yang tenang tenang saja membuat Haruto kembali dikelilingi rasa penasaran.

"Gak mungkin kan, lo self injury."

Asahi menoleh cepat, kakinya menggeser pecahan beling ke kolong meja dengan cepat tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

"Kak Mashi akan menghajarku kalau aku melakukan itu lagi, Haru. Mengapa kamu bertanya demikian?"

"Luka itu. Kalau bukan karena di-bully atau berantem, ya sengaja." Pungkas Haruto. "Lo bukan tipikal orang yang pandai berbohong, Kak. Hati-hati lo sama gue, ada masalah tuh curhat, bukan malah self injury kek gini."

Asahi meraih kaos longgar yang tergantung dipinggir kaca, lalu memakainya.

"Aku tahu, tapi ini belum saatnya untuk kau tahu." Ucap Asahi sambil menutupi luka kecil itu dengan foundation.

"Hanyiiiing! Bisa infeksi, bodoh!" Seru Haruto terkejut, ia merebut kasar puff itu dari tangan Asahi dengan raut marah. "Apa-apaan sih lo, Kak?!"

"Kau menggangguku, Haru. Sudah kubilang keluar dari sini."

"Lo belum jawab soal luka itu-!"

Brak!!

Keduanya tercekat saat suara pintu dibanting terdengar nyaring. Haruto dan Asahi saling menatap, mereka berjalan keluar kamar dengan tergesa, sampai dua pasang mata itu menangkap seseorang berpakaian serba hitam menuruni tangga dengan langkah besar.

"AAAA LEMBAGA HITAM!!" Teriak Haruto, lalu Asahi memukul kecil tangannya. "Itu Kak Yoshi."

Selang beberapa detik setelah Yoshi menutup pintu utama, Asahi menoleh saat menyadari bahwa ia tengah diperhatikan oleh adiknya.

DIAMONDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang