Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Shalom semuanya!
SELAMAT HARI MINGGU!!❤ Selamat membaca cerita SEIMAN [KRISTEN] Puji Tuhan akhirnya bisa update🥰 Maaf ya baru bisa update sekarang. Maaf juga karena dicerita ini masih banyak kurangnya. Semoga kalian gak bosan ya! Semoga suka!
Jangan lupa voment dan share ya! Thankyou♡
♪ Bersama Mu ♪
❝Ibarat mawar, semakin lo dekati dan sentuh semakin lo terluka. Indah tapi menyakiti, untuk apa?❞ — Andreas
Happy Reading!🌈
Chesa dan ayahnya dengan tergesa-gesa berjalan keruang rawat Andre. Chesa mendapatkan kabar dari pacarnya kalau Andre dibawa kerumah sakit karena dikeroyok. Jordan adalah salah satu orang yang dichat oleh Daniel untuk meminta bantuan teman-teman Jordan.
Ayahnya masuk lebih dulu, menghampiri putra nya yang berbaring di brankar. Didalam sana ada Natan, Dania, Yonata, Yoel, Jordan, dan Daniel. Selebihnya sudah disuruh pulang oleh Jordan setelah mengucapkan terimakasih pada mereka. Tujuannya supaya ruangan tersebut tidak terlalu ramai dan tidak mengganggu Andre.
"Shalom," ujar pria itu lalu langsung mendekat pada putranya.
"Shalom," jawab mereka yang ada diruangan tersebut.
"Siapa pelakunya?" Tanya pria itu, ayah Andre. Pria itu memandangin kondisi putranya membuat rahangnya mengeras. "Beraninya mereka..." geram pria itu. "Gimana perasaan kamu sekarang?" Tanya ayahnya pada Andre.
"Udah gapapa, pa," jawabnya.
"Tadi bang Andre sempat kesakitan, om," adu Daniel pada ayahnya Andre membuat Andre menatapinya.
"Saya sudah menyarankan untuk Andre supaya dironsen, om," sahut Natan kemudian.
"Lalu gimana? Sudah dironsen?" Tanyanya.
"Udah, om. Hasilnya dua hari kedepan," jelasnya.
"Andree..." Chesa mendekati adiknya, berdigik ngeri melihat luka dan lebam diwajah adik laki-lakinya itu. "Hey, kamu gapapa? Mana yang sakit?" Tanyanya ragu pada Andre. Ragu kalau Andre sedang baik-baik saja saat ini.
"Jangan takut. Aku gapapa, kak," jawab Andre meyakinkan kakak perempuannya.
"Lukamu," Chesa memegang dekat bibirnya, mengisyaratkannya pada Andre.
"Gapapa, kak. Nanti juga sembuh."
Chesa duduk didekat Andre, lalu memeluk adik laki-lakinya, menempelkan pipinya dikepala Andre. "Perasaan kakak ke kamu buruk," bisik Chesa pada Andre, mengutarakan kekhawatirannya.
"Jangan overthinking," jawab Andre, berusaha menenangkan kakaknya.
Chesa mengeratkan pelukannya. Jujur saat ini perasaan Chesa benar-benar tidak tenang, takut Andre kenapa-kenapa. Andre mendengus geli melihat Chesa, kakaknya jika ber-overthinking pasti selalu memeluknya atau sharing dengannya.