Aku adalah anak perempuan pertama. Kalau kamu menemukan aku dalam versi manja, berarti kamulah orangnya.
- Tanzela Haedar -
•
Hari ini Gentala sengaja berangkat satu jam lebih awal. Dikarenakan pada jam pertama kelasnya ada ujian, sebagai siswa yang baik sudah semestinya ia kembali membaca hasil belajar semalam. Bahkan ia sampai menyerahkan tugas OSIS berjaga didepan gerbang pada Audrey dan Finca karena tak mau melewatkan belajar.
"Ck!" decak Gentala karena suara berisik dari teman-temannya yang baru datang mengganggu konsentrasi. Ia sampai heran sendiri, mereka laki-laki tapi kenapa sangat berisik seperti perempuan.
"Gen, cewe lo beringas juga ternyata." ujar seorang cowok bertubuh tinggi besar sambil terkikik. Cowok itu adalah Gerald, teman sebangku Gentala.
Jelas saja Gentala kebingungan. Memang sih Zela itu bringas, tapi kan Gerald tidak akan bicara begitu kalau tak ada sebab. "Maksud lo?"
"Dia tarung sama anak OSIS tuh di gerbang depan. Dua lawan satu coy, gede juga nyalinya."
Tanpa berkomentar lagi Gentala langsung menutup buku dan keluar dari kelas. Dengan kecepatan penuh ia berlari ke gerbang depan yang berjarak lumayan jauh dari kelasnya.
"JELA!!" teriak Gentala begitu netranya menangkap siswa yang bergerombol di gerbang depan. Perlahan tapi pasti Gentala menerobos masuk kedalam gerombolan lalu menarik paksa tubuh Zela yang masih adu jambak dengan Finca dan Audrey.
"LO BERTIGA APA-APAAN SIH?!" sentak Gentala, menghentikan pergerakan tiga perempuan titisan iblis itu.
"Mereka yang mulai duluan, Gen!" ujar Zela.
"Bohong Kak! Dia yang nyerang duluan!" sahut Finca tak terima.
"LO YANG MANCING DULUAN YA!" teriak Zela lebih keras lagi sambil menunjuk wajah Finca dan Audrey.
Layaknya orang kesetanan, Zela hendak kembali menerjang dua perempuan itu namun dengan cepat Gentala menghadang tubuhnya, bahkan memaksa Zela untuk pergi dari sana. Sehingga tak ayal aksinya itu mendapat sorakan kecewa dari penonton.
"Yah gak asik!"
"Tau! Lagi seru juga."
"Bang, lo kebangetan dah. Belom ada pemenangnya juga udah main tarik aja!"
Gentala tak peduli dengan omongan orang-orang dibelakang. Ia tetap pada pendiriannya, menjauhkan Zela dari Finca dan Audrey.
CKLEK
Gentala membawa Zela ke uks dan mendudukkan perempuan itu di salah satu brankar kosong. Zela meronta tapi Gentala memegangi pundaknya erat.
"Udah!" ujar Gentala pelan namun penuh akan penekanan.
"Lepasin!"
"Dibilangin udah, ngerti nggak?"
"Aku belom puas ngasih perhitungan ke mereka!"
"Terus mau kamu apa?! Tanding di ring, iya?!" sentak Gentala. Tangannya terkepal kuat hingga buku jarinya memutih.
Sontak Zela diam, tak tau kenapa Gentala jadi semarah ini. Sorot matanya menunjukkan emosi yang membara dari dalam diri cowok itu hingga Zela memalingkan wajah, tak mau menatap wajah menyeramkan Gentala.
Gentala kembali meraih tangan Zela. "Ayo kalo mau, aku bawa kamu ke ring sekarang!"
"Apa sih, lepasin!" Zela menarik tangannya dari cengkeraman Gentala.
Terjadi keheningan sesat. Gentala menetralkan amarah sembari menatap Zela yang dengan sengaja menghindari tatapannya. Ia sangat yakin kalau Zela tidak sedang menetralkan amarah juga tetapi sedang dongkol padanya, terbukti dari pundak cewek itu yang masih naik turun tak beraturan.
"Coba liat, mana yang sakit?" tanya Gentala dengan nada lebih lunak.
"Nggak ada."
Nah, benar kan tebakan Gentala. Malah sekarang Zela yang marah padanya.
Gentala menghembuskan napas, membuang semua amarah kemudian beranjak ke kotak P3K, mengambil kapas, alkohol dan obat merah. Tanpa banyak bicara cowok itu langsung meraih tangan Zela yang jelas-jelas terdapat beberapa luka bekas cakaran disana.
"Ini nggak sakit?" tanya Gentala.
"Ish sakit! Kok di totol alkohol sih!" ringis Zela ketika Gentala dengan sengaja dan tanpa permisi menotolkan kapas berisi alkohol pada bagian dekat siku nya.
"Tadi katanya nggak ada yang sakit."
"Emang ya kamu tuh nggak peka!"
"Salah lagi," gumam Gentala tapi masih terdengar.
"Hiks hiks HUAAAAA.." rengek Zela sambil menghambur ke pelukan Gentala. "Perih, Gen."
Dan Gentala hanya mengusap-usap punggung Zela karena sudah tau hal seperti ini akan terjadi. Zela memang menjadi macan ketika diluar tapi ketika bersamanya entah kenapa berubah menjadi hello kitty.
"Makanya jangan berantem biar nggak sakit. Mana lagi yang sakit?"
Zela memegangi kepalanya. "Kepala ku pusing, tadi mereka jambak kenceng banget."
Gentala dengan cekatan mengusap kepala Zela sambil memijitnya perlahan. "Sebenernya perkara apa sih? Pagi-pagi udah ribut."
"Mereka masalahin seragam lagi. Kalo gitu caranya, tiap hari aku dapet hukuman orang seragamku gini semua."
"Makanya ganti seragam biar nggak jadi masalah."
"Kok kamu jadi ikutan nyalahin aku sih?!" sewot Zela.
"Iya lah. Liat aja seragam kamu beda dari siswi yang lain. Nggak memenuhi aturan."
"Dari mana beda nya? Sama kok kaya Mica sama Akira."
Gentala memutar bola mata jengah. "Karna mereka satu spesies sama kamu."
"Ih nyebelin! Spesies dikira aku monyet apa?!" Zela melepaskan diri dari pelukan Gentala saking kesalnya. Bukannya mendapat pembelaan malah ikut disalahkan.
Gentala mengambil kursi kemudian memilih duduk disamping brankar. Ekspresinya berubah serius dan sudah tertebak apa yang akan dilakukan. "Kamu seneng abis berantem kaya gitu?"
"Enggak tuh biasa aja."
"Kalo biasa aja kenapa sering dilakuin? Kamu udah gede, Jel. Nggak ada guna nya ribut-ribut kaya gitu. Yang ada nambah musuh dan akhirnya sekolah kamu nggak konsentrasi."
Zela mengerucutkan bibir kesal, padahal kan pertengkaran itu bukan karena keinginannya tapi memang dua kuyang tadi yang memancing masalah.
"Mulai sekarang kamu harus menghindari hal-hal yang bisa bikin masalah. Terus kalo dibilangin juga di dengerin, jangan masuk kuping kanan keluar kuping kiri." tegur Gentala melihat tingkah Zela.
"Iya Gen."
"Terus selanjutnya apa yang mau kamu lakuin?"
"Nemuin Finca sama Audrey."
"Buat?"
"Tanya apa mau mereka."
"Ck!" decak Gentala. Cowok itu berdiri sehingga menimbulkan suara decitan antara kursi dan ubin yang tak nyaman di telinga. "Emang susah ngomong sama kamu."
Gentala berjalan menuju pintu keluar, mengundang tanya di benak Zela. "Lah Gen, mau kemana?"
"Balik ke kelas daripada disini terus yang ada stres."
"Kok marah sih? jangan balik dong. Temenin aku disini." rengek Zela namun enggan turun dari brankar.
"Nggak bisa. Aku ada ujian jam pertama."
"Kalo gitu nanti istirahat jemput aku disini terus anterin ke kelas ya?"
"Kalo nggak mager."
BRAK
Zela berjingkat kaget karena ulah Gentala membanting pintu. "Shit!" umpatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
WHY?
Teen FictionKeyakinan bahwa Gentala mencintai nya adalah sumber kekuatan Zela. Meski harus menghadapi banyak persoalan, itu tak akan membuat Zela melepas Gentala begitu saja. Hingga ada satu titik dimana Zela kehilangan kekuatannya. Yaitu untuk yang pertama kal...
