REYYA #28 - Kembali ke Paris

218 13 0
                                        

"Lewat sini!"

Kenneth berlari menuju sebuah rak berisi barang barang antik, laki laki itu memutar sebuah piringan hitam hingga pada bagian tengahnya memunculkan hologram berbentuk tombol angka.

Jari panjang laki laki itu segera menekan beberapa tombol, hingga beberapa detik kemudian lemari berat itu bergeser perlahan.

Pintu terus didobrak kencang, sesekali terdengar benturan keras dari benda benda yang mereka lemparkan ke arah pintu.

Namun keamanan Kenneth perlu diacungi jempol, bukan hanya sekedar sidik jari, namun alat pendeteksi wajah, suara, dan netra sebagai penambah keamanan.

Dindingnya pun dibuat Sekokoh mungkin.

Setidaknya, butuh hacker diatas Kenneth untuk membongkar sistem keamanan.

"Tenang oke," Kenneth memegang kedua bahu Zoya, menatap lekat netra gadis itu, berusaha memberikan keamanan.

Zoya menarik nafas dalam-dalam, sebuah lorong panjang dan gelap terlihat saat lemari itu telah bergeser.

"Masuklah dulu," Kenneth berjalan kembali kearah meja, mengulurkan tangan dibawah meja, terlihat menaruh sesuatu.

Kening Zoya mengerut saat Kenneth kembali berada di sampingnya.

"Alat penyadap suara, semoga berhasil menghasilkan informasi walau sedikit," jelas Kenneth mengetahui kebingungan Zoya.

"Ayo!"

Melihat wajah pucat Zoya, Kenneth jadi tak tega, laki laki itu merangkul pindah Zoya erat, membawanya masuk kedalam lorong gelap yang terlihat mengerikan untuk Zoya.

Dang!

Zoya tersentak begitu lorong tiba tiba berubah menjadi terang, sebuah lampu menerangi dari atas begitu mereka masuk.

Berjalan satu meter berikutnya, lampu lain menyala, namun lampu sebelumnya mati, begitu seterusnya.

Lemari tadi pun tertutup otomatis.

Brak!

Bersamaan dengan hancurnya pintu ruangan, orang orang berpakaian hitam tadi masuk sambil menodongkan pistol ke depan.

Mereka mencari disudut sudut ruangan, namun tak menemukan apa apa.

"Maaf bos, tidak ada orang didalam," ujar salah satu orang berpakaian hitam itu sambil menunduk.

"Sial!" Pria yang memakai jas itu melempar asal pistolnya murka.

"Cari sampai dapat! Teliti seluruh ruangan! Pasti ada jalan rahasia yang mereka masuki! Cepat!"

"SIAP!"

*****

Kenneth dan Zoya masih berjalan masuk dengan laki laki itu menggenggam erat bahu Zoya.

Karena tidak ada fentilasi sama sekali, untuk bernafas terasa sulit, walau hawanya dingin.

"Oke, tujuh meter kemudian kita sampai, anak buahku sudah menunggu kita," info Kenneth.

Zoya hanya diam, keadaan tadi berhasil menyentil mentalnya sedikit.

Mereka melanjutkan berjalan tanpa suara, hanya terdengar langkah kaki mereka yang menggema.

Tak lama, mereka sampai didepan pintu besi, Kenneth menempelkan jari jempolnya ketempat yang tersedia, lalu sebuah cahaya memindai kedua netra laki laki itu.

Klik

Pintu terbuka otomatis, harum tanah basah yang terkena hujan menyeruak di indera penciuman mereka, langit sudah mulai gelap, membuat Zoya panik.

Pasti Zack khawatir, mengingat seberapa protektif nya laki laki itu.

Mereka memasuki mobil Kenneth dengan salah satu anak buah milik laki laki itu yang duduk di samping supir.

"Oh iya," Kenneth membuka pembicaraan.

"Apa?"

"Mengenai Zack, aku udah menceritakan semuanya, tentang alasan putusnya hubungan kita dulu, sebelum aku menemui kamu," jelas Kenneth.

Zoya mengangguk, pantas saja Zack tidak marah waktu melihat Kenneth, padahal dulu kakaknya menjadi saksi bagaimana hancurnya ia.

Keheningan menyelimuti mereka, Zoya yang menatap luar jendela, sedangkan Kenneth sibuk dengan ponselnya.

Kening Zoya mengerut saat mobil yang ia tumpangi melaju ke jalan yang berlawanan dengan rumahnya.

"Kita salah arah," beritahunya pada Kenneth.

Laki laki itu menatap ke depan, keningnya mengerut, "enggak kok."

"Ini bukan jalan ke rumah aku Kenneth."

"Ah," seolah tersadar, laki laki itu terkekeh kecil, "sementara ini kita berlindung di apartemen aku dulu ya, sampai keadaan membaik."

Kedua mata Zoya mengerjap, "tapi sampai kapan?"

Kenneth tersenyum kecil, "secepatnya."

__________

Mobil mereka sampai di sebuah gedung besar, Kenneth dan Zoya turun terlebih dahulu, sementara sang sopir memarkir mobil di basement.

Mereka memasuki gedung, dan menaiki lift menuju lantai 15.

Ting!

"Ayo," Kenneth kembali merangkul pindah Zoya hingga sampai di pintu apartemen milik Kenneth, laki laki itu membuka pintu setelah menekan beberapa tombol.

"Kamu mandi dulu di kamar sebelah Utara, nanti bajunya aku taruh di ranjang."

Zoya tersenyum dan mengangguk, "oh ya, tolong kasih tahu Zack, aku gak pulang malam ini, ponsel aku hilang, kayaknya jatuh di lorong tadi."

"Oke, semoga kembaran kamu gak marah," guraunya.

Zoya hanya terkekeh singkat, lalu ia berjalan menuju kamar yang dimaksud.

_______

Begitu Zoya keluar dari kamar, aroma masakan tercium begitu lezat dari arah dapur.

Ia berlari kecil menuju Kenneth yang duduk di salah satu kursi. Gadis itu menghampiri dengan tergesa, seketika mulutnya ia tutup dengan kedua tangan.

Meja makan dipenuhi oleh berbagai macam makanan, dimulai dari pizza, burger, ayam berbumbu, kentang goreng, pasta, hingga cake coklat sebagai dessert, lalu minumnya ada air putih dan Coca cola.

"Kalau kamu mau ice cream, nanti ambil aja di kulkas," ujar Kenneth.

Perlahan senyum senang terukir di bibir Zoya, kalau begini terus, ia bisa betah menginap disini, "makasih."

Kenneth tersenyum lembut, ia menyuruh Zoya untuk segera makan, sebelum semuanya mendingin.

"Gimana respon Zack? Dia ngizinin?" Tanya Zoya dengan mulut penuh.

Tiba tiba Kenneth menghela nafas panjang, "aku terpaksa jujur, aku cerita dari awal tanpa kurang."

Mata Zoya membulat, "terus?"

"Ya... Begitu, dia marah, langsung mau menyusul kesini, tapi tentu aku melarang, bisa bisa 'mereka' tahu keberadaan kita, akhirnya ia mengizinkan dengan satu syarat. Dan akupun sudah berpikir seperti itu sebelum kita kesini."

Kening Zoya mengerut, "apa?" Tanya nya was was.

"Kita akan berangkat ke Paris besok pagi."

"HAH!" Potongan Pizza diletakkan begitu saja, gadis itu menatap Kenneth dengan kedua mata membulat terkejut.

"Disana banyak koneksiku Zoe, kita akan aman disana, plus keberadaan ayahku yang akan membantu kita membasmi mereka," jelas Kenneth.

Zoya menelan pizza dengan susah payah, "apa.... Itu keputusan terbaik?"

"Hm," Kenneth mengangguk penuh keyakinan.

Zoya terlihat berpikir, ini demi keamanannya, sekaligus keamanan orang orang terdekatnya, jika ia pergi ke Paris, otomatis mereka juga ikut meninggalkan negara ini.

"Oke, aku percaya kamu."

________

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 17, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Reynand & ZoyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang