Bab 21

2.1K 70 0
                                    

Setelah tes urin keluar sikap Rafa ke Bima sudah tidak seperti saat dia memergoki Rafa. Tetapi Rafa masih belum memaafkan Bima sepenuhnya, hubungan mereka sudah mengalamu kerenggangan.

Bima mengantarkan ayah dan bundanya kembali kerumah untuk beristirahat. Rafa juga melakukan hal demikian kepada papa dan mamanya. Syifa dijaga oleh kakak keduanya, Radit. Setelah Radit mengantarkan opa dan oma, dia segera kembali kerumah sakit terlebih dahulu. Bima segera kerumah sakit kembali setelah berganti pakaian, dia begitu cemas dengan keadaan Syifa. Meskipun disana sudah ada Radit tapi dia ingin dia ada disana saat Syifa bangun nanti.

➖➖➖

Bima memasuki ruang rawat Syifa dan mendapati Radit yang tertidur di Sofa. Bima tidak ingin menganggunya di pilih duduk di kursi samping kasur inap Syifa. Bima memandangi wajah ayu Syifa saat sedang tidur, memegang tangan Syifa dan nenciumnya sambil nengucapkan permintaan maaf berulah kali. Radit sebenarnya telah terbangun saat Bima memasuki ruangan, tapi dirinya memilih tak bersuara dan memperhatikan apa yang dilakukan sabahat kakaknya ini. Karena perlakuan bima yang mdnurutnya baik, Radit kembali melanjutkan tidurnya. Sedangkan Bima tidur di kursi dengan kepala berada di kasur inap Syifa.

Bima terbangun dari tidurnya karena merasakan pegal di lehernya. Bima mendapati Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi sepertinya telah selesai mandi. Radit yang biasanya menyapa dan beramah tamah dengan Bima kali ini dia bingung harus melakukan apa, dia tau Bima disini juga tidak ada niatan merusak adiknya. Tapi... Ah sudahlah lebih baik diam. Radit melewati Bima segera kembali duduk di sofa yang tadi pagi ia tiduri. Bima sendiri memilih diam dan pergi kekamar mandi.

"Gue mau cari sarapan dulu. Jaga Syifa" kata Radit dengan nada datarnya. Panggilan Radit terdengar aneh bagi keduanya, biasanya Radit memanggilnya kak Bim. Mendengar itu tetap diangguki oleh Bima.

Bima kembali duduk di posisinya. Kali ini dia terus memandangi wajah Syifa, karena dengan memandang Syifa menjadi ketenangan baginya. Saat Bima ingin mengabadikan wajah di kamera ponselnya tetapi tidak menemukannya. "Mungkinkah tertinggal di kamar hotel?" Ia mencoba mengingatnya. "Kayaknya nggak bawa hp deh pas ke toilet" Bima pasrah jika nanti ponselnya hilang.

"Makasih Dit" ucap Bima. Ternyata Radit juga membelikan makanan untuknya. Mereka berdua makan dalam diam di sofa ruangan tersebut.

Bima segera menuju tempat Syifa karena melugat Syifa bangun. Syifa yang mengingat bagaimana tadi malam kakaknya, Om Aji dan wajah kecewa semua orang membuat dia kembali histeris. Bima segera mendekap Syifa dengan erat dan membisikkan kata agar Syifa tenang.

"Aku disini, jangan takut"

"A-ku ko-tor" tangis Syifa.

"Kamu nggak kotor, aku yang brengsek. Maafkan aku. Aku akan menikahimu. Aku janji akan menjagamu meski nyawaku jadi taruhannya" kata Bima sambil mencium kening Syifa. Bima menggerakkan wajah Syifa untuk melihatnya agar Syifa bisa merasakan ketulusannya. Karena perlakuan Bima tersebut membuat Syifa tenang. Syifa menggerakkan tangannya ke wajah Bima yang babak belur dan menyentuhnya.

"Sa-kit?" Bahkan Bima tidak ingat rasa sakit dipukuli oleh Ayahnya dan Rafa.

"Enggak" jawab Bima sambil senyum. Tanpa sadar Rafa telah datang dan memperhatikan keduanya. Kalau saja Bima tidak melakukan hal bejat itu pada Syifa, Rafa pasti akan bahagia dan tenang memberikan adiknya. Meskipun Bima disini tidak sepenuhnya salah tapi Bima tetap menargetkan Syifa menjadi objek pelampiasannya.

"Syifa" panggil Rafa membuat Syifa takut. Syifa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bima dan memeluk Bima dengan erat. Meskipun hubungannya dan abangnya ini telah baik kepadanya tapi baginya Rafa masih galak.

"Syifa" kali ini panggilan Rafa melembut. Rafa menghampiri Syifa dan memegang tangan adiknya itu. "Maafin abang. Abang nggak marah sama Syifa, Abang marah dengan orang yang jahatin kamu" Rafa menjeda kalimatnya lalu melanjutkan kembali. "Abang sayang sama Syifa. Maafin abang kalau dulu abang galak sama Syifa" suara Rafa terdengar seperti menahan tangis "Abang nggak bisa jagain Syifa. Maafin abang. Syifa mau kan maafin abang?" Perkataan Rafa ini membuat Syifa melihat kearah abangnya. Dan Rafa mengeluarkan airmatanya. Hal ini pertama kali Rafa mengeluarkan air matanya.

Syifa segera memeluk erat abangnya itu "Syi-fa ma-a-fin a-bang" ujarnya. "Syi-fa ju-ga sa-yang a-bang" lanjutnya. Rafa mencium pipi kanan adik bungsunya.

Radit mendekat kepada dua saudara kandungnya ini. Bima yang tau Radit mendekat, dia menyingkir terlebih dahulu. Memberikan ruang untuk ketiga saudara kandung ini. Radit segera nendekap erat abang dan adiknya.

"Kok kakak nggak di sayang" kata Radit. Syifa tersenyum dan mencium pipi kiri Radit. Mereka berpelukan erat seperti teletubbies.

Tok... Tok... Tok...

"Selamat pagi, pasien di periksa dulu ya" suster dan dokter memeriksa keadaan Syifa.

"Keadaan pasien sudah membaik. Hari ini sudah boleh pulang kerumah" ucap dokter.

"Terimakasih dok" kata Bima.

"Syifa makan dulu baru pulang" perintah Radit. Saat Syifa makan, Rafa mendapat panggilan pak lukman yang akan memberikan file rekaman CCTV hotel.

"Nanti bapak langsung kerumah saja"

"Ya pak, terimakasih juga" ujar Rafa

"Bim, Lo ntar kerumah Gue. Urusan ini belum selesai" kata Rafa.

"Ya, tapi ada yang mau Gue omongin ke Lo. Berdua" ajak Bima. Rafa dan Radit keluar rawat inap menuju taman rumah sakit.

"Sebenernya saat malam di lorong deket toilet Gue tau siapa yang buat jebakan sialan ini?" Rafa menaikkan alisnya seakan bertanya 'siapa?'

"Sarah" jawaban Bima membuat Rafa terkejut. Bima menjelaskan perkataan Sarah dan Tya di lorong kemarin dan mengenai dia yang akan jadi korban karena dia telah meminum jus alpukat itu. Dan Bima juga menjelaskan ini semua Sarah lakukan demi mendapat uang dengan cara instan. "Gue nggak tau motif pastinya dulu dia pacarin Gue apa. Tapi realitanya begitu Raf. Wanita sialan itu mau membuat gue jadi miliknya agar bisa dapetin harta gono gini setelah menikah lalu ceraiin Gue dan mau atur rencana selanjutnya buat jebak Lo lagi. Gue nggak bilang semua orang kemarin karena Gue nggak ada bukti" Bima menghembuskan nafas sejenak "Lo bener, gue bejat karena nargetin Syifa jadi pelampiasan Gue. Gue milih adik Lo yang nggak tau apapun. Gue minta maaf" maaf Bima.

"Sialan Sarah, Gue akan buat sengsara karena udah libatin Syifa" amarah Rafa sudah tidak terbendung lagi. Rafa bangkit dari duduknya dan saat berjalan beberapa saat Rafa berhenti menghadap kepada Bima yang nasih duduk di kursi taman. "Gue izin Lo nikahin adik Gue. Tapi kalau Lo sampe lakuin hal yang buruk seujung kuku pun terhadap Syifa, Lo tau berhadapan dengan siapa" kata Rafa.

Salahkah bila berbeda?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang