Jakarta dari kemarin terus
diguyur hujan. Gadis bernama Kana itu lebih memilih bergelut dengan selimut tebalnya daripada bersiap untuk pergi sekolah. Lagipula saat ini hujan sangat deras bahkan sesekali petir terdengar. Orang bodoh mana yang lebih memilih sekolah dan harus menerima resiko besar akan demam atau terjebak hujan ditengah jalan.
06.05
Kana menatap datar jam dinding kamarnya. Udara sangat dingin, bahkan jempol kaki gadis itu seperti mati rasa.
Mengambil handphone di atas nakas, Kana melihat-lihat isi roomchatnya. Banyak sekali pesan dari nomor tidak di kenal. Membuka salah satu roomchat, Kana menyipitkan mata.
0812658709432
ini Atra, mind to save my number?
Ada apa lelaki itu mengiriminya pesan. Padahal kalau alasan karena mereka sekelas, dari dulu harusnya lelaki itu sudah meminta Kana untuk menyimpan nomornya.
Jadi kenapa baru sekarang?
Atra
udah
Kembali menaruh handphonenya di nakas. Kana bangkit dari tidurnya. Melewatkan acara mandi, gadis itu lebih memilih mengambil jaket berbulu dari walk in closet. Memakainya dan berlalu keluar kamar.
Tujuan ia kali ini adalah dapur. Kana sangat lapar. Bayi dalam perutnya sudah protes minta di kasih jatah.
Sesampai di dapur Kana dapat mendengar kebisingan dari ruang tengah. Tempat yang biasa keluarganya gunakan setiap selesai makan malam.
Keluarganya tidak mungkin berkumpul disana pada jam segini. Apalagi musim hujan.
Pasti Papa dan Bunda lebih memilih mesra-mesraan di kamar lantai lima. Jadi tidak mungkin kalau itu mereka berdua.
Mengambil roti dan selai kacang. Kana mendudukan dirinya sendiri di kursi meja makan. Mulai menikmati sarapannya.
"Lo ga sekolah?"
uhuk uhukk
Kana tersedak, sesegera mungkin dia mengambil susu yang disodorkan oleh orang yang membuatnya terkejut. Menengok kebelakang Kana dapat melihat lelaki tegap yang memiliki lesung pipit tersenyum menatapnya.
"Maaf udah gapapa?"
Kana mengangguk singkat menanggapi pertanyaan kaka kelas-yang juga sahabat Levan.
"Kak Shaka tumben kesini?"
Kali ini Kana yang bertanya. Ia penasaran kenapa kaka kelas sekaligus ketua osis sekaligus lagi pacar dari Eleanor bisa ada dirumahnya se-pagi ini.
"Yang lain juga disini. Tadinya mau jemput Levan sama Arkan. Taunya mereka mager sekolah. Jadi yaudah kita semua bolos aja." Jawab Shaka melanjutkan tujuannya, mengambil cemilan.
Pantesan ruang tengah sangat berisik. Ternyata ada mereka. Astaga Kana sampai lupa kalau dirinya belum mandi. Pasti Shaka bisa mencium bau tak sedap. Jorok sekali Kana.
Semoga Shaka tidak menyadari kalau Kana belum mandi.
Kana melirik sekilas ke arah Shaka, lelaki itu tampak bingung menatap rak yang begitu banyak.
Bantu atau tidak?
Mengunyah suapan terakhir rotinya. Kana berjalan mendekat, tapi se-bisa mungkin dia memberi jarak. Agar Shaka tidak mencium bau tidak enak dari tubuhnya.
"Rak cemilan yang ini Kak."
Tersenyum tipis Shaka berjalan mendekat membuat Kana seketika memundurkan tubuhnya.
Kana masih tidak mau ketauan kalau dia belum mandi. Jangan sampai ketauan.
Gadis itu dapat merasakan punggungnya sudah mentok ke meja dapur. Sedangkan Shaka sudah semakin dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kana dan Fana
Teen FictionHanya tentang keindahan Kana dan Tiga laki-laki yang menyukainya.
