Camping (2)

682 63 3
                                        

09.45

Bus sudah rapi berderet di lapangan sekolah. Murid-murid KSHS juga tampak sudah berkumpul. Ada yang berdiri berkelompok dan ada juga yang memisahkan diri.

15 menit lagi bus akan berangkat.

Sedangkan Kana belum menemukan eksistensi sahabatnya. Mungkin Jessie benar-benar tidak mendapatkan izin agensinya.

Menghela napas pasrah, Kana memasuki Bus kelasnya. Sebagian teman sekelasnya sudah ada di dalam.

Kana memilih duduk di barisan belakang. Menyenderkan kepalanya di jendela menatap pemandangan luar yang berisi murid sekolah. Kana mendengus. Pemandangan apanya.

"Pagi Kana."

Kana menoleh hanya untuk medapati Atra disebelah kursinya. Lelaki itu mendudukan diri disebelahnya tanpa mengucapkan apa-apa.

"Ngapain disini?" Kana mengangkat alis bingung.

"Duduk."

"Gue tau. Tapi kenapa duduk di samping gue?"

"Pengen. Ada larangan?"

"Terserah."

Ini masih pagi dan makhluk bernama Atra sudah menghabiskan sekian persen energinya.

"PMS?"

Atra bingung. Kana memang irit bicara, tapi Atra merasa sekarang Kana lebih terlihat kesal akan kehadirannya. Padahal Atra merasa akhir-akhir ini ia tidak menggangu Kana. Bertemu gadis itu saja jarang.

Gadis itu menggeleng, menyandarkan kepalanya di jendela.

"Jangan berisik. Gue mau tidur."

Memejamkan matanya. Kana tidak benar-benar tertidur. Ia masih memikirkan kemungkinan bahwa lelaki disebelahnya memiliki rasa. Kana tidak bisa terang-terangan menolak Atra disekitarnya.

Dulu disaat Kana menjauhkan diri dari Atra. Semua orang dengan mudahnya sadar. Kalau Kana menghindari Atra lagi, bisa-bisa ia di kira perempuan yang sedang ngambek dengan pacarnya.

"Tra?"

Dapat Kana rasakan laki-laki itu menoleh,
"Belum tidur?"

Kana menggeleng. Membuka mata lebar menatap langit-langit bus.
"Lo pernah suka sama seseorang?"

Atra mengernyitkan dahi, menatap wajah Kana dari samping,
"Pernah. Gue rasa semua orang pernah."

"Gue gak pernah."

"Mungkin belum."

"Gue gak ada pikiran buat suka sama orang sih."

Kana tersenyum kecil lalu memejamkan mata.

Apa kalimat itu sudah jelas?

Harusnya Atra paham kan?

Atra tercengang.
Wah kenapa ia merasa ditolak bahkan sebelum mengatakan apa-apa.

🦋🦋🦋🦋

Bus sekolah sudah tiba beberapa menit yang lalu. Kini Kana sedang menurunkan tas besar yang ia bawa dari garasi bus.

"Biar gue aja." sepasang tangan besar mengambil alih tas Kana.

"Makasih, Tra."

Kana tidak masalah. Tas-nya cukup berat dan dia tidak mau membuang energi terlalu banyak.

"Kana."

"Hm?"

"Gue anggap, gue gak pernah denger apa-apa."

"Apanya?"

"Lupain." Atra menyempatkan mengacak rambut Kana sebelum laki-laki itu berbalik meninggalkannya.

Kana menatap punggung Atra sulit.
Kana merasa aneh.

"Wah anjir, mual banget gue. Bus gue jalannya udah kaya tayo goyang sana-sini. Nyawa gue berasa melayang."

Kana mendengus menatap kembarannya yang baru saja merangkul bahunya,
"Lo nya aja yang cupu."

"Serius weh, tanya kelasan gue. Gila tu supir kesurupan goyang dumang apa ya."

"Lo kali yang kesurupan setan mabok."

Arkan menjawil hidung Kana gemas,
"Lo nih ya sejak kapan nyebelin, hah?"

Sejak satu rahim sama lo.

"Ayo kita jalan, yang lain udah pada duluan. Biar gua bawain tas lo ya Kana."

Tiba-tiba Shaka dan Bian sudah ada dihadapannya.

"Gak usah, Kak. Lo kan osis bukan pengangkut barang."

"Tenang Kana. Profesi gue banyak. Bisa berubah-ubah sesuai mood." Ujar Shaka menepuk dadanya bangga.

"Gausah dengerin." Ucap Bian memilih mengambil tas Kana dan berlalu pergi.

"Lho kan gue yang mau bawain." teriak Shaka tidak terima.

"Yehh lo kebanyakan ngomong, peak." dengus Arkan mendorong bahu Kana pelan menyuruhnya berjalan.

Kana memandang mereka satu persatu. Kana merasa tersesat. Niat awal tidak mau berurusan. Sekarang malah berjalan berdampingan. Minus Atra dan Levan.

Memandang Arkan yang sedikit lebih tinggi darinya. Dulu Kana selalu berdiri di belakang Arkan. Kana yang hanya menjadi pengamat kehidupan Arkan. Kana yang selalu lebih suka menjadi bayangan. Kana yang lebih suka menjadi pendengar kegiatan yang Arkan lakukan.

Sekarang Kana tidak lagi berada dibelakang Arkan. Arkan tepat disampingnya. Bersenandung Riang bersama Shaka. Sekarang Kana lebih leluasa memandang kebahagiaan yang terpancar dari Arkan. Bukan hanya sekedar menjadi pendengar.

Kana tersenyum tipis. Melingkarkan tangan di pinggang Arkan. Sekarang posisi mereka berdua- Arkan yang merangkul bahu Kana dan Kana yang melingkarkan tangan dipinggang Arkan.

Bian tersenyum melihat Kana.

Apa sekarang Kana sudah lebih bisa membuka diri?

"Nah sampai."

Kana menatap tanah luas kosong dihadapannya. Sudah banyak tenda yang terpasang. Bahkan ada wajah asing diantaranya.

Lapangan ini terlihat sangat luas. Mungkin luasnya setara stadion bola. Banyak sekolah lain juga yang ikut serta dalam acara ini. Menggunakan gapura kecil sebagai pembatas antar sekolah.

Kana merasa sedang mengikuti isaac. Acara yang sering dilakukan idol-idol korea. Omong-omong sekarang idol tidak hanya ada di korea. Negara lain juga kini sudah memilikinya. Termasuk Indonesia.

Memikirkan idol apa yang sedang dilakukan sahabatnya ya?

"Kak Kana~~" seorang gadis yang rambutnya di cepol dua berlari menghampiri Kana.

"Heh bocil kemana aja. Gue nyariin taunya udah disini duluan." cerca Arkan mencubit pipi chubby Ruelna.

"Ish! Aku tadi bareng temen kelas. Mobil abang lama, sih."

"Heh cil tadi mobil gue goyang dumang dulu makanya lama."

"Mana bisa!" sebal Ruel memeluk Kana dari samping.

"Liat tuh Kak. Abang nyebelin." adu Ruel mengusap pipinya yang memerah.

"Liit tih kik. ibing nyibilin." ledek Arkan.

"Kak!"

Kana berdecak,
"Arkan!"

Arkan cengengesan melarikan diri bersama Bian. Kini tinggal-lah Kana dengan Ruel. Shaka sudah dari tadi hilang dari pandangan. Kana memaklumi, ketua osis kan sibuk.

"Kak katanya nanti kita ada acara bikin surat loh."

"Surat?"

"Iyaaaa, Kak Kana gak bawa alatnya?"

Kana menggeleng. Untuk apa mereka ada acara surat menyurat. Padahal jaman sudah berkembang. Cukup ketik apa yang ingin dibicarakan lalu mengirimnya. Maka pesan akan sampai ke nomor tujuan.

"Dasar! Kak Kana aku gak mau tau ya. Kaka harus buatin Ruel Surat. Titik gak pakai spasi!" seru Ruel berdecak pinggang.

Kana menghela napas pasrah,
"Iya Ruel Iya."

Kana dan FanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang