Junianto melangkah gontai memasuki area kantor. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya, menyapa dengan hormat. Namun, dia membalas sapaan tersebut dengan anggukan kepala saja. Tubuhnya terasa lemas, sesekali dia menguap dan mengucek matanya yang berair. Hampir semalaman, dia tidak bisa tidur karena kepikiran tentang obrolan orang tuanya. Dia khawatir ibunya tahu, lalu melakukan sesuatu yang bisa memisahkan dia dengan Naywena.
Di ruangan admin, suasana masih lengang. Naywena yang baru datang, sudah disambut oleh tumpukan bon dan map di mejanya. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Baru dua hari tidak masuk kerja, pekerjaannya sudah sebanyak ini. Bagaimana kalau satu minggu? Bisa jadi, dia tidak makan dan minum demi menyelesaikannya.
Sebelum rekan yang lain datang, Naywena bergegas keluar ruangan. Secara kebetulan, dia melihat Junianto melewati ruangannya. "Jun," panggilnya.
Langkah Junianto seketika terhenti, lalu menoleh ke belakang. "Nay, kamu udah sembuh?" tanyanya dengan ekspresi kaget.
Naywena mengangguk. "Mungkin karena makan buah dari pacar, makanya aku jadi cepat sembuh," balasnya, sambil tersenyum simpul.
"Syukurlah, aku senang ngelihat kamu udah masuk kerja lagi." Junianto memandang ke sekitarnya, waswas ada yang melihat mereka.
"Kamu pasti belum sarapan, kan?" Hubungan yang sudah terjalin selama lima tahun membuat Naywena tahu kebiasaan Junianto yang selalu sarapan di atas pukul delapan, sehingga Junianto tidak pernah sarapan di rumah. Dia menyodorkan sebuah kotak bekal kepada Junianto. "Aku buatin nasi goreng untuk kamu. Nanti dimakan, ya!"
Dari jauh, terdengar samar-samar suara derap langkah kaki yang mengarah ke tempat mereka. Junianto jadi gelisah, apalagi teringat dengan kata-kata ibunya semalam. "Makasih bekalnya, tapi lain kali, jangan terang-terangan menemui aku kayak gini! Kalau ada pegawai yang melihat kita, gimana? Aku nggak mau ada yang ngelapor ke orang tua aku, terus mereka jadi tahu hubungan kita. Aku masuk dulu, ya." Usai menerima kotak bekal tersebut, Junianto bergegas masuk ke ruangannya sebelum ada yang melihat mereka berdua.
Naywena berdiri mematung di sana. Wajahnya berubah murung seraya mencerna ucapan Junianto barusan. Batinnya terus bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika orang tuanya tahu tentang hubungan mereka, sampai-sampai membuat Junianto begitu takut? Apa dia akan dipenjara oleh orang tuanya Junianto hanya karena berpacaran dengan anaknya?
"Naywena!"
Seruan Santi membuyarkan lamunan Naywena. Dia menatap Santi sedang berlari kecil menghampirinya.
"Kamu udah sembuh, Nay?"
Naywena pura-pura tersenyum. "Iya, aku udah membaik. Kelamaan istirahat di rumah, kerjaan aku jadi makin banyak."
Ekspresi ceria yang semula terlukis di wajah Santi, mendadak berubah sendu. "Nay, maafin aku, ya. Bukannya aku nggak mau bantuin kamu ngerjain kerjaan kamu, tapi aku dilarang sama Pak Prama. Kamu tahu sendiri, kan, gimana watak dia? Dia bilang itu kerjaan kamu, ya, harus kamu sendiri yang nyelesainnya."
"Iya, aku ngerti, kok! Kamu nggak perlu minta maaf, lagian ini bukan salah kamu." Naywena menarik lengan Santi menuju ruangan admin. "Ayo, kita masuk!"
Santi mengikuti langkah Naywena. Sejenak kemudian, dia terheran dengan keberadaan Naywena. "Oh, ya, Nay. Tadi kamu ngapain berdiri di luar? Lagi nunggu seseorang?"
Naywena gelagapan. Mendadak, dia bingung mau menjawab apa. "A—aku lagi nungguin kamu," balasnya. Hanya itu yang terlintas di pikirannya.
"Sebegitu kangennya kamu sama aku? Aku kesepian nggak ada temen ngobrol," ujar Santi dengan ekspresi pura-pura sedih.
"Kan, ada Nella," sahut Naywena dengan candaan.
Santi merengut kesal setiap mendengar nama si Mulut Cabe. "Dia bukan teman aku!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Belenggu Cinta Palsu
Romance[JUARA 5 EDITOR CHOICE: AUTHOR GOT TALENT 2022] Junianto terpaksa mengakhiri hubungan rahasianya dengan Naywena-yang sudah terjalin selama enam tahun-demi menerima perjodohan dari orang tuanya. Ketika Naywena mulai dekat dengan pria lain, Junianto b...
