Setelah menutup pintu, Junianto duduk di kursinya sambil memijat kening. Pikirannya kembali pada beberapa menit lalu saat Naywena hampir tertimpa gulungan kain. Saking paniknya, dia sampai tidak sadar sudah menunjukkan sinyal bahwa mereka punya hubungan di depan para pegawainya. Dia sangat berharap para pegawainya menganggap aksinya tadi hanya sebatas kepedulian dia sebagai bos terhadap bawahannya.
Junianto yang masih berkelana dalam pikirannya, seketika tersentak oleh suara pintu yang terbuka secara tiba-tiba. Ekspresi wajahnya jadi kesal karena berpikir pegawainya yang sudah lancang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu dahulu. Dia langsung berdiri, hendak mengomeli pegawainya. Sesaat kemudian, matanya terbelalak saat melihat ibunya yang datang.
"Ma—Mama, kok, nggak nelepon Jun dulu kalau mau datang ke sini?"
Merlin duduk di sofa, diikuti Junianto yang duduk di dekat ibunya.
"Kenapa Mama harus ngabarin kamu dulu? Emangnya, Mama nggak boleh datang ke sini?" tanya Merlin seraya meletakkan sebuah kotak ke meja.
"Bukan gitu, Ma, tapi—"
Merlin menyela, "Mama bawain bakpao kesukaan kamu. Kebetulan Mama lewat sini, jadi mampir dan pengin lihat kerjaan kamu. Gimana, ada kesulitan?"
Junianto berusaha menetralkan degup jantungnya dengan menyunggingkan senyum. "Nggak ada kesulitan, kok, Ma. Semuanya berjalan lancar."
"Baguslah, Mama senang mendengarnya. Kamu makin dewasa dan bertanggung jawab atas pekerjaan kamu." Merlin mengalihkan topik. "Ayo, makan bakpaonya! Mumpung masih hangat."
Junianto mengangguk. "Iya, Ma." Dia membuka kotak tersebut dan aroma khas bakpao menguar seketika. Baru satu gigitan, pintu ruangannya diketuk. Kali ini pasti pegawaiku, pikirnya. Dia pun mengunyah bakpao tersebut dengan santai.
Naywena melangkah masuk dengan wajah yang berseri-seri sembari menenteng dua map hijau. Hanya dengan cara seperti ini, dia bisa berduaan dengan Junianto di dalam kantor. Setelah menutup pintu, tatapannya tertuju kepada seorang wanita paruh baya yang duduk di dekat Junianto. Meski tidak pernah bertemu, dia yakin wanita itu adalah ibunya Junianto karena wajah mereka sangat mirip.
Merlin memperhatikan Naywena begitu lekat, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jadi, gadis ini yang dimaksud Prama? Tidak terlalu cantik, penampilannya juga biasa aja. Berani banget dia cari kesempatan mendekati Jun!
Junianto terkesiap menatap Naywena berada di dalam ruangannya. Dia spontan terbatuk-batuk karena tersedak isian bakpao.
Naywena bergegas mengambil botol air mineral yang ada di atas meja kerja Junianto, lalu menyodorkannya kepada Junianto. "Minum dulu, Pak."
"Iya, terima kasih." Junianto menerima botol tersebut, kemudian meneguk air itu sampai tandas setengah. Setelah tenggorokannya membaik, dia bertanya kepada Naywena, "Ada apa kamu ke ruangan saya?"
"Saya mau memberikan map ini untuk Bapak."
Junianto menerima map tersebut. Matanya bergerak ke arah pintu, mengisyaratkan kepada Naywena untuk segera keluar dari ruangannya.
"Kamu bisa kembali bekerja."
"Baik, Pak." Naywena berbalik, melangkah menuju pintu.
Selama percakapan Junianto dan Naywena, Merlin terus mengamati interaksi keduanya, sampai akhirnya dia bangkit berdiri, lalu menghampiri Naywena. "Tunggu sebentar! Nama kamu Naywena, kan?"
Junianto terheran-heran, dari mana ibunya tahu nama Naywena, sedangkan dia tidak menyebut nama atau pun memperkenalkan Naywena kepada ibunya.
Naywena berbalik dan agak menunduk. "Iya, Bu. Ada apa?" Dia cukup kaget mendengar namanya disebut Merlin yang merupakan calon mertuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Belenggu Cinta Palsu
Romance[JUARA 5 EDITOR CHOICE: AUTHOR GOT TALENT 2022] Junianto terpaksa mengakhiri hubungan rahasianya dengan Naywena-yang sudah terjalin selama enam tahun-demi menerima perjodohan dari orang tuanya. Ketika Naywena mulai dekat dengan pria lain, Junianto b...
