BCP_11

44 11 27
                                        

Junianto sedang berdiri di pinggir balkon kamarnya. Suasana hatinya benar-benar kacau hari ini. Dia tidak bisa pergi ke mana-mana karena kunci mobilnya disita oleh Merlin tadi pagi. Mau kabur diam-diam pun percuma. Ibunya terus mengawasinya, seakan-akan tahu niatnya itu.

"Jun, kamu udah siap, belum?" teriak Merlin dari luar pintu. "Buruan keluar! Nggak enak sama Tante Angel nunggu kita kelamaan."

"Iya, Ma." Junianto menghela napas pelan. Posisinya sekarang benar-benar terjepit dan serba salah. Kalau dia jadi pergi ke rumah Angela, Naywena pasti kecewa. Kalau dia jadi datang ke rumah Naywena, otomatis semua fasilitas mewah yang diberi orang tuanya akan dicabut. Namun, dia harus memilih salah satunya meski risiko besar sudah menantinya. Setelah dipikir-pikir dengan matang, dia memilih pergi bersama orang tuanya dan terpaksa mengorbankan perasaan Naywena.

Sebelum beranjak pergi, dia mengirim pesan kepada Naywena bahwa dia tidak bisa datang dengan alasan mobilnya dipakai oleh ayahnya.

Di tempat lain, Naywena mondar-mandir di teras rumah, menunggu kedatangan Junianto. Jantungnya berdebar-debar. Ini pertama kalinya, Junianto akan bertamu ke rumahnya setelah enam tahun berpacaran. Momen inilah yang dia tunggu-tunggu. Namun, kebiasaan Junianto yang sering terlambat setiap ada janji, membuat hatinya cemas. Apakah Junianto sungguh-sungguh akan menepati janjinya kali ini?

"Nay, kamu bilang cowok kamu mau datang. Kok, sampai sekarang dia belum ada?" tanya Vina, seakan-akan meragukan kata-kata Naywena semalam, yang memberitahukan hubungan yang dijalin secara diam-diam dengan Junianto selama enam tahun ini.

"Dia, sih, janji mau datang malam ini. Kita tunggu aja, Ma. Mungkin, dia masih ada kegiatan lain." Naywena masih berpikiran positif meski hatinya mulai bimbang.

"Jangan-jangan Kak Nay cuma mengkhayal, Ma. Selama ini, kan, nggak pernah ada cowok yang datang ngapel ke rumah. Nggak mungkinlah, tiba-tiba Kak Nay bisa punya pacar," sindir Niko, yang sedang duduk di ruang tamu sembari main game.

Naywena mendengkus seraya menahan kesal di dalam hati. "Kalau kamu nggak percaya, lihat aja nanti."

Niko tertawa sinis, seolah-olah mengejek tantangan dari kakaknya. "Aku penasaran. Kayak gimana wujud pacar Kak Nay? Mirip pangeran di buku dongeng, nggak?"

"Yang jelas, dia lebih ganteng dari seorang pangeran," sahut Naywena, yang sudah diambang batas kesabaran.

Vina menghela napas pelan. "Kalian berdua ini, udah gede masih aja berantem. Udahlah, Mama mau ke dapur dulu. Kalau dia udah datang, panggil Mama."

"Iya, Ma," balas Naywena dengan suara pelan, kemudian duduk di bangku teras sembari menunggu kedatangan Junianto.

Lima menit kemudian, Naywena menyunggingkan senyum lebar saat muncul notifikasi pesan dari Junianto. Dia buru-buru membacanya.

Junianto: Maafin aku, Nay. Aku nggak bisa datang malam ini. Mobil aku dipakai Papa. Minggu depan, ya.

Senyum gadis itu langsung memudar. Lagi-lagi, dia harus menelan pil pahit karena sudah mengharapkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Seharusnya, dia tahu bahwa Junianto tidak pernah serius dengan hubungan mereka. Merasa sia-sia menunggu kekasihnya di teras, dia langsung masuk dan mengunci pintu.

"Lho, kenapa pintunya ditutup, Kak?" Niko bingung, lalu berujar dengan nada sindiran, "Apa pacar khayalan Kakak nggak jadi datang?"

Naywena mengerling Niko tajam. "Bukan urusan kamu!" hardiknya, lantas melangkah ke kamarnya.

Ketika melihat pintu sudah ditutup, Vina mengernyitkan kening. "Dia nggak jadi datang, Nay?"

"Nggak, Ma." Naywena langsung masuk ke kamarnya. Percakapan ibu dan adiknya terdengar jelas di punggung pintu.

Belenggu Cinta PalsuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang