BCP_25 (END)

167 10 23
                                        

Bagas pikir, Junianto akan kembali ke rumahnya dalam satu hari karena tidak bisa hidup mandiri. Pemikirannya itu salah besar. Buktinya, Junianto masih belum kembali meski sudah tiga hari berlalu.

Bagas tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mencari keberadaan Junianto. Berbagai upaya sudah dilakukan. Mau lapor ke polisi, dia takut akan ditahan karena dia yang menyebabkan Junianto pergi dari rumah. Satu-satunya cara hanya menyebarkan foto Junianto, berharap ada yang melihat dan bisa menghubunginya.

Yang paling membuatnya khawatir adalah kondisi Merlin yang lemah di atas kasur saking memikirkan Junianto. Dia tidak sanggup hidup jika Merlin ikut pergi meninggalkannya.

Ketika dia duduk sambil minum kopi di serambi belakang rumah, ada nomor yang tidak dikenali mengirim sebuah video ke ponselnya. Dia segera menonton video tersebut. Sesaat kemudian, air mata mengucur ke pipinya tanpa disadari. Hatinya terenyuh melihat penampilan Junianto yang begitu memukau para pengunjung kafe. Orang tersebut memberi tahu keberadaan Junianto di Blink Cafe semalam. Dia bergegas menghampiri Merlin dan menunjukkan video tersebut.

Hal serupa juga dialami Merlin saat menonton video itu. Dia tidak bisa membendung air matanya, terharu sekaligus rindu kepada Junianto.

Seketika, dia ingat Junianto pernah mengatakan ingin menjadi seorang penyanyi. Waktu itu, dia melarang Junianto terjun ke dunia musik karena harus menjadi penerus bisnis kakeknya.

Sekali lagi, dia menyesali sikapnya yang terlalu posesif dan egois. Seharusnya, dia mendukung impian Junianto. Untuk mengobati penyesalannya, dia mengajak Bagas ke Blink Cafe nanti malam untuk menemui Junianto. Dia berharap Junianto mau memaafkannya dan Bagas.

***

Naywena sudah siap sebelum Prama datang. Dia tidak tahu pemuda itu akan mengajaknya ke mana. Saat ditanya, Prama berkata, "Kamu akan tahu kalau sudah sampai."

Entah karena ingin memberinya kejutan atau ada yang disembunyikan, Naywena merasa jalan-jalan kali ini agak berbeda dari biasanya. Namun, dia tetap menerima ajakan Prama.

Sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama diam. Yang satu fokus menyetir, yang satunya menatap ke jendela. Tidak ada yang berinisiatif untuk bicara dahulu, seperti pasangan yang sedang merajuk.

Sudah satu tahun kerja bareng, Naywena sangat memaklumi sifat Prama yang agak pendiam. Kadang dia bicara panjang lebar pun, hanya ditanggapi 'ya' dan 'tidak'.

Matanya terbuka lebar saat menyadari jalan yang dilewati sudah tidak asing lagi. Meski benar atau tidaknya Prama akan mengajaknya ke Blink Cafe, dia memilih diam dan mengikuti ke mana pun mobil itu berhenti.

Firasat Naywena benar. Prama memutar setir ke kanan dan memarkirkan mobilnya di halaman parkir Blink Cafe.

Sebelum keluar dari mobil, Naywena bertanya, "Dari sekian banyak kafe, kenapa kamu malah ngajak aku ke sini, Pram? Apa nggak ada tempat yang lain?"

"Kenapa emangnya? Kamu nggak suka tempat ini?" tanya Prama seraya memperhatikan ekspresi Naywena. Ucapan gadis itu terdengar seperti menyiratkan sesuatu yang sedih. Apa tempat ini menyimpan banyak kenangan di antara Naywena dan Junianto?

"Apa kamu pernah datang ke sini?" tanyanya lagi.

Naywena menatap Prama sejenak seraya menghela napas pelan. "Iya, aku pernah datang ke sini bareng seseorang," jawabnya jujur.

Tanpa diperjelas pun, Prama langsung tahu siapa sosok orang itu. Pantas saja, Junianto meminta dia membawa Naywena ke sini. Rupanya, mereka sering datang berdua.

"Ayo, masuk! Aku sudah reservasi satu meja untuk kita berdua."

Naywena mengangguk pasrah. Sebenarnya, dia enggan menginjakkan kaki ke kafe itu lagi. Terlalu banyak kenangan bersama Junianto di tempat itu. Salah satu cara agar bisa melupakan masa lalu sepenuhnya adalah menghindari tempat yang sering dikunjungi. Namun, dia tidak enak hati menolak karena Prama sudah telanjur memesan tempat.

Belenggu Cinta PalsuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang