Cuaca siang ini benar-benar cerah. Mumpung libur kerja pada hari Minggu, Niko memanfaatkan waktu luang dengan bermain game online di teras. Ketika sedang fokus membidik lawan di dalam game, Vina memanggilnya.
“Nik, tolongin Mama bentar. Beliin garam dan kecap asin di toko. Mama mau masak untuk makan siang papa kamu.”
Niko menyahut tanpa mengalihkan tatapan dari layar ponsel, “Aku lagi nggak sempet, Ma. Mama nyuruh Kak Nay aja. Game-nya nggak bisa ditinggal, nih!”
“Ya, udah.” Vina menghela napas pelan, lantas masuk lagi dan berjalan ke kamar Naywena. Dahinya berkerut melihat penampilan anaknya yang sudah rapi dengan mini dress berlengan motif bunga-bunga merah. “Nay, kamu mau pergi ke mana? Ke acara pertunangan dia?”
“Ya, enggaklah, Ma. Ngapain aku datang ke sana? Dia udah bahagia sama pilihan dia sendiri. Jadi, aku udah ikhlasin dia.”
“Terus, sekarang kamu mau pergi ke mana?” tanya Vina yang masih penasaran.
“Mama masih ingat, nggak, aku pernah donorin darah waktu papa masuk rumah sakit?”
“Iya, Mama ingat. Kenapa emangnya?”
“Ibu itu mau ketemu sama aku. Bentar lagi, anaknya mau datang jemput aku. Kebetulan juga, anaknya itu teman kerja aku.” Naywena begitu berat saat menyebut Prama sebagai teman kerjanya. Belum tentu, Prama juga akan menganggapnya demikian.
“Karena teman kamu belum datang, kamu pergi ke toko bentar, ya. Beliin garam dan kecap asin. Mama mau masak untuk makan siang papa kamu.”
Naywena jadi bimbang antara mau menolak dan menerima. Bagaimana kalau Prama sudah datang saat dia pergi ke toko? Karena ini untuk kepentingan ayahnya, dia pun akhirnya menerima perintah ibunya.
“Iya, Ma.” Naywena mengambil dompet dan kunci motor dari dalam lemar. Sebelum keluar dari kamar, dia berujar lagi, “Kalau teman aku udah datang, Mama suruh dia tunggu aku bentar, ya, Ma.”
“Iya, Mama nanti kasih tahu. Mending kamu pergi sekarang, deh. Bentar lagi, waktu Papa makan siang dan minum obat.”
Naywena bergegas pergi ke toko. Kebetulan, letak toko tersebut dekat dengan rumahnya. Sesampai di sana, dia harus terjebak dalam keramaian. Pemilik toko dan anak buahnya tampak kewalahan melayani satu per satu pembeli. Mau tidak mau, dia harus sabar menunggu.
Tak lama kemudian, sebuah Avanza abu-abu berhenti di halaman rumah Naywena. Niko yang masih duduk di teras, terbengong-bengong melihat seorang pemuda keluar dari mobil itu dan berjalan menghampirinya. Seketika, dia melepas ponsel di kursi dan mengabaikan game online yang sedang dimainkan. Dia berdiri sembari bertanya-tanya tentang sosok pemuda itu.
“Permisi, aku mau tanya. Apa benar ini rumahnya Naywena?” tanya Prama.
“Iya, benar.” Niko tergagap-gagap. “Kakak siapa, ya?”
“Aku Prama, teman kerja Naywena. Bisa ketemu dia?”
“Tunggu bentar.” Niko cepat-cepat masuk sembari memanggil nama kakaknya dengan lantang.
Salim yang sedang menonton televisi, merasa terganggu dengan suara Niko. “Kakak kamu lagi ke toko bentar. Ada apa, Nik?”
“Ada cowok ganteng yang nyariin Kak Nay, Pa.”
Salim mengerutkan dahi. “Cowok? Siapa, Nik?”
“Aku nggak kenal, Pa. Cowok itu nggak pernah datang ke sini. Dia bilang teman kerja Kak Nay.”
Ketika Salim hendak berdiri, Vina—yang baru balik dari dapur—bergegas menghampiri suaminya. “Kamu mau ke mana, Lim?”
“Kata Niko, ada teman kerja Nay datang. Aku mau lihat bentar.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Belenggu Cinta Palsu
Romance[JUARA 5 EDITOR CHOICE: AUTHOR GOT TALENT 2022] Junianto terpaksa mengakhiri hubungan rahasianya dengan Naywena-yang sudah terjalin selama enam tahun-demi menerima perjodohan dari orang tuanya. Ketika Naywena mulai dekat dengan pria lain, Junianto b...
