Di ruang makan, Bagas dan Merlin sedang menikmati sarapan berdua. Obrolan santai selalu menjadi pendamping hidangan yang mereka santap, sehingga suasana tidak terlalu sepi.
Merlin mengambil roti, mengolesnya dengan mentega, lalu menyodorkannya kepada Bagas sambil berkata, "Ella ngasih tahu aku kemarin. Katanya, hari ini pelanggan kita dari Mentok mau dateng ke toko kita untuk ambil enam gulung kain seragam. Dia, kan, masih punya utang yang belum lunas. Apa kamu izinin dia untuk ambil barang lagi?"
Bagas menyantap roti buatan istrinya. "Selama dia masih bisa bayar nyicil, nggak masalah. Yang penting, dia masih mau tanggung jawab untuk lunasin semua utang dia. Lagian, dia udah tiga tahun jadi pelanggan tetap kita."
Merlin mendengkus kesal dengan sikap suaminya yang dinilai terlalu baik. "Ah, kamu selalu aja kasih utang ke pelanggan! Gimana kalau mereka kabur terus lupa lunasin utang? Kita, kan, juga harus bayar gaji pegawai dan putar modal."
Setelah mengunyah beberapa potong roti, Bagas meneguk susu tawar yang masih hangat. "Itu namanya risiko, Ma. Dalam berbisnis, udah biasa ada utang-piutang. Kalau kita nggak pernah ngasih utang, yang ada usaha kita jadi sepi pelanggan. Emangnya, kamu mau kayak gitu?"
"Ya ..., nggak maulah." Merlin terpaksa merendahkan nada suaranya.
"Usaha tekstil ini udah dirintis ayah aku selama empat puluh tahun, terus diwarisin ke aku ...."
Merlin melanjutkan makan tanpa mengacuhkan ucapan suaminya. Dia sudah hafal dengan sejarah usaha tekstil itu karena sering diulang-ulang oleh suaminya.
" .... Jadi, aku harus mengelola usaha ini dengan baik supaya bisa tetap berjalan." Bagas mengakhiri kisahnya, lalu meneguk susu yang tersisa hingga habis.
Merlin melirik ponselnya yang berada di samping piring roti. Ada pesan masuk dari Ella, pramuniaga toko Bunga Tekstil. Dia pikir Ella memberi tahu soal pelanggan dari Mentok itu. Pas dibuka, pesan tersebut menampilkan sebuah foto Junianto yang sedang berduaan dengan seorang wanita di kafe. Sayangnya, dia tidak bisa melihat wajah si wanita dengan jelas karena posisi duduk yang membelakangi kamera.
Seketika, mata Merlin terbelalak. Dia langsung menelepon Ella, menanyakan kebenaran foto itu. Setelah mendapat kepastian dari Ella, dia menutup telepon. Wajahnya berubah garang.
Ketika melihat perubahan wajah sang istri, Bagas tahu pasti sudah terjadi sesuatu. "Ada apa?" tanyanya, santai.
"Kamu lihat sendiri kelakuan Jun di belakang kita!" Merlon menyodorkan ponselnya ke hadapan Bagas.
Bagas mengernyitkan dahi, lalu melihat foto itu. Matanya juga melebar. Dia tidak menyangka Junianto sudah membohonginya. Semalam, Junianto pamit ingin reuni dengan teman-teman sekolah di kafe. Ternyata, Junianto terciduk bersama seorang wanita.
"Pagi, Ma, Pa. Jun berangkat dulu." Junianto menghampiri orang tuanya di ruang makan. Dia terheran menatap wajah mereka yang tampak marah. "Ada apa, Ma, Pa? Kok, ngelihat Jun kayak gitu?"
Bagas berdiri, lalu menghadap Junianto sambil mengacungkan ponsel Merlin. "Jelasin maksud foto ini ke Papa dan Mama sekarang, Jun!"
Junianto tertegun sejenak. Dia mencoba bersikap biasa saja agar orang tuanya tidak curiga. Jantungnya mulai berdebar-debar. Otaknya berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat.
"Itu ... cewek itu pacar temen aku, Pa. Kan, semalam aku bilang mau reuni dengan teman-teman sekolah aku. Pas aku sampai di sana, baru satu orang yang dateng. Dia ajak pacar dia, terus temen aku pamit ke toilet dan aku ngajak pacarnya ngobrol. Papa sama Mama, jangan terpengaruh dengan foto itu. Bisa jadi, ada yang sirik sama aku, terus dia fotoin aku pas temen aku nggak ada, seolah-olah kelihatan aku lagi berduaan dengan cewek itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Belenggu Cinta Palsu
Romance[JUARA 5 EDITOR CHOICE: AUTHOR GOT TALENT 2022] Junianto terpaksa mengakhiri hubungan rahasianya dengan Naywena-yang sudah terjalin selama enam tahun-demi menerima perjodohan dari orang tuanya. Ketika Naywena mulai dekat dengan pria lain, Junianto b...
