"Kamu udah ngajuin surat pengunduran diri ke bos, belum?" tanya wanita yang bertubuh kurus dan tinggi.
Wanita yang berjalan di sebelahnya tengah berbadan dua. Langkahnya begitu hati-hati karena usia kandungan yang sudah memasuki bulan ke-9. "Aku udah bikin suratnya, tinggal ngasih ke bos hari ini."
"Padahal, kamu bisa ambil cuti melahirkan, Jen. Nggak usah sampai mengundurkan diri. Aku bakal kesepian nggak ada teman ngobrol."
Jeni tergelak pelan. Dia dan temannya itu memang sudah akrab sejak duduk di bangku SMK dan bekerja di tempat yang sama selama tiga tahun ini. Dia menepuk pundak temannya seraya berkata dengan mimik yang santai, "Aku mau melahirkan, San. Jadi, suamiku nggak izinin aku untuk kerja lagi. Lagian, masih ada teman yang lain di sini, selain aku. Kamu bisa berbaur dengan mereka biar nggak kesepian."
"Iya, sih, tapi aku lebih nyaman ngobrol bareng kamu dibanding teman yang lain." Suara Santi berubah pelan, nyaris seperti bisikan karena posisi mereka mendekati ruangan kerja mereka. "Ya, kamu tahu sendiri, kan? Tipe teman seruangan kita itu kayak gimana. Lebih banyak yang toxic daripada yang tulus."
Saking seru mengobrol, kedua wanita itu sampai tidak menyadari sang bos baru mendengar semua percakapan mereka. Senyumnya begitu semringah karena menemukan alasan yang tepat untuk menerima lamaran kerja Naywena. Jadi, tidak akan ada yang mencurigainya.
***
Naywena menatap gedung berlantai tiga yang bertuliskan Bunga Tekstil. Bibirnya tersenyum simpul, tidak menyangka kekasihnya menjadi bos di kantor tersebut. Andai semua orang tahu sosok kekasihnya, tidak akan ada lagi orang yang mencemooh dirinya yang dikira masih menjomlo hingga sekarang.
Setelah menghela napas berkali-kali, dia memantapkan langkahnya masuk ke gedung itu. Dia melihat orang-orang yang tampak sibuk membongkar gulungan kain yang masih terbungkus rapi di lantai satu. Dia pun menghampiri mereka dan menanyakan keberadaan sang pimpinan karena mau melamar kerja. Salah satu karyawan pria menyebut ada di lantai tiga. Debaran jantungnya pun makin berpacu cepat saat dia menaiki satu per satu anak tangga. Dia begitu khawatir akan pendapat karyawan lain jika tahu dia diterima kerja langsung oleh bos baru mereka. Ketika tiba di lantai tiga, suasana di sana tampak sepi. Naywena berjalan menyusuri lorong dan menemukan papan nama Junianto di depan pintu.
Suara ketukan pintu mengalihkan tatapan Junianto dari lembar-lembar kertas yang berserakan di atas meja. Dia segera membuka pintu karena yakin Naywena sudah datang. "Hai, masuklah!"
Naywena buru-buru masuk, sedangkan Junianto langsung menutup pintu agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
Naywena memandang seisi ruangan itu dan tersenyum menatap penampilan Junianto yang tampak berwibawa dengan setelan kemeja kantor. Dalam hati, dia sangat bangga kekasihnya sudah menjadi bos.
"Kamu bawa surat lamaran itu? Biar aku simpan."
Naywena mengeluarkan sebuah map dan menyodorkan ke Junianto. "Apa kamu yakin tidak ada yang curiga?"
Junianto meletakkan map itu ke dalam lemari kaca yang ada di sudut ruangan. "Kamu nggak usah pikirin hal itu. Nggak akan ada yang curiga. Kebetulan, ada karyawan yang mau resign karena akan melahirkan. Kamu bakal gantiin posisi dia sebagai admin bagian penjualan."
Naywena mengangguk-angguk, lalu duduk di kursi bagian depan meja Junianto. "Kira-kira kapan aku mulai kerja, Jun? Hari ini atau besok aja?"
"Besok aja, ya. Biar kamu bisa santai dulu hari ini." Junianto yang duduk di sebelah Naywena dan sengaja memutar kursi agar bisa berhadapan dengan Naywena. Sebelah tangannya meraih tangan Naywena, lalu dia genggam dengan tangan kiri, sedangkan membelai wajah dengan tangan kanan. Tatapannya begitu lekat menatap Naywena. "Aku harap kamu mau bersabar, ya, Nay."
KAMU SEDANG MEMBACA
Belenggu Cinta Palsu
Romantika[JUARA 5 EDITOR CHOICE: AUTHOR GOT TALENT 2022] Junianto terpaksa mengakhiri hubungan rahasianya dengan Naywena-yang sudah terjalin selama enam tahun-demi menerima perjodohan dari orang tuanya. Ketika Naywena mulai dekat dengan pria lain, Junianto b...
