Saat Junianto masuk, matanya spontan terbelalak melihat Naywena masih berkutat di depan komputer. Inilah penyebab lampu di ruangan itu masih menyala. Cepat-cepat dia menghampiri kekasihnya. "Nay, kenapa kamu belum pulang? Ini sudah malam," ucapnya dengan ekspresi cemas.
Naywena tersentak dengan kehadiran Junianto. Dia bangkit berdiri dan memeluk Junianto sambil terisak. "Jun, rasanya aku nggak sanggup kerja di sini."
Junianto mengusap punggung Naywena. "Apa yang membuat kamu ngerasa nggak sanggup?"
Naywena mengurai pelukannya, menatap Junianto dengan tatapan sendu. "Manajer itu kejam banget. Kamu lihat aja tumpukan map ini. Dia nyuruh aku merekap laporan penjualan dari awal tahun. Waktu yang dikasih cuma tiga jam. Saat aku bilang belum selesai, dia bilang aku lambat. Apa dia pikir aku ini robot atau punya kekuatan sihir bisa ngerjain semuanya dalam sekejap mata?"
Setiap ekspresi Naywena sedang merengut kesal, entah mengapa tampak begitu menggemaskan bagi Junianto sehingga tidak tahan untuk mencubit pipi kekasihnya. Tatapannya ke arah map sejenak, kemudian menatap Naywena lagi. "Pada minggu pertama, semua pekerjaan pasti terasa sulit dan berat, Nay. Itu hal yang wajar, kok. Aku juga sama, semuanya terasa sulit sampai nggak sanggup untuk melanjutkannya. Namun, sedikit demi sedikit, aku coba untuk mengubah mindset sehingga aku mulai terbiasa menerima pekerjaan aku. Kalau kamu berhenti dari pekerjaan ini sekarang, kamu mau kerja di mana? Cari kerja, kan, susah. Apalagi, kamu cuma tamatan SMK."
Melihat ekspresi Naywena yang bertambah sedih membuat hati Junianto terenyuh. Dia menuntun Naywena untuk duduk. Setelah kondisi Naywena terlihat tenang, Junianto melanjutkan, "Menurut aku, kamu hanya perlu membiasakan diri dengan pekerjaan di sini. Nggak ada yang instan, Nay. Semua butuh proses."
"Mengatakannya emang gampang, Jun, tapi terasa sulit saat kamu mengalaminya. Andai Pak Pram tahu hubungan kita yang sebenarnya, aku yakin dia nggak akan berani nyiksa aku kayak gini."
"Prama emang tegas dan disiplin. Dia udah lama kerja di sini, kira-kira delapan tahun. Loyalitas dia dalam bekerja patut diacungi jempol. Makanya, papa mengangkat dia jadi manajer sekaligus orang kepercayaan papa sejak dua tahun terakhir ini. Jadi, kamu harus banyak sabar menghadapi dia, ya."
Naywena menghela napas panjang seraya mengalihkan tatapan ke layar komputer yang masih menyala. "Terus, kerjaan aku gimana?"
"Emangnya, masih banyak?"
"Tinggal sedikit, sih."
"Ya, udah. Aku bantuin nyelesain laporan ini. Setelah itu, aku anterin kamu pulang."
Naywena terkesima dengan perhatian Junianto padanya. Sayangnya, hubungan asmara ini belum bisa dipublikasikan ke siapa pun. Andai semua rekan kerja seruangannya tahu bos mereka adalah kekasihnya, mungkin mereka akan segan dan berpikir dua kali sebelum berniat mengabaikannya. Semua itu begitu indah dalam khayalan Naywena, tetapi tidak dengan dunia nyata yang keras dan penuh air mata.
***
Prama masuk ke ruangan yang masih sepi. Dia selalu datang lebih pagi daripada karyawan yang lain. Ketika dia meletakkan tas di atas meja, matanya tertuju pada sebuah map yang kemarin dia berikan kepada Naywena. Dia membuka isinya dan melihat laporan yang dia suruh sudah selesai. Akan tetapi, map tersebut seharusnya ada di atas meja Junianto kemarin. Mengapa Naywena justru menaruh di atas mejanya?
Urat-urat di wajahnya mulai mengeras, seolah emosinya siap meledak. Sayangnya, orang yang ingin dia marahi belum datang. Dia melirik arlojinya, pukul tujuh pagi. Junianto pasti belum datang, pikirnya. Dia bergegas mengantar map tersebut ke ruangan Junianto. Jika tidak, image dia sebagai manajer teladan akan tercemar gara-gara Naywena terlambat mengerjakan laporan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Belenggu Cinta Palsu
Romance[JUARA 5 EDITOR CHOICE: AUTHOR GOT TALENT 2022] Junianto terpaksa mengakhiri hubungan rahasianya dengan Naywena-yang sudah terjalin selama enam tahun-demi menerima perjodohan dari orang tuanya. Ketika Naywena mulai dekat dengan pria lain, Junianto b...
