Pagi ini di awal bulan Oktober, halaman parkir gedung kantor Bunga Tekstil dipenuhi kendaraan roda dua milik karyawan. Baik karyawan toko maupun kantor, diperintah berkumpul di depan gedung dan harus datang lebih awal dari waktu biasanya oleh bos besar untuk menyambut kedatangan bos baru. Mereka sudah datang lima belas menit yang lalu. Namun, yang mereka tunggu belum kunjung menampakkan diri. Tak sedikit dari mereka yang mengeluh dan mengomel karena bosan terus menunggu, seperti tidak ada kepastian. Sebagian dari mereka juga penasaran seperti apa bos baru mereka kelak saat memimpin kantor.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di area parkir. Akhirnya, orang yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi datang juga. Mereka berdiri sembari menunggu bos besar, istri, dan putranya keluar dari mobil. Pidato singkat pun menjadi pembukaan dari bos besar sekaligus memperkenalkan sosok putra tunggalnya yang baru lulus kuliah akan menjadi bos baru mereka ke depannya.
Sebagian besar karyawan wanita memandang takjub dengan sosok bos baru mereka yang tampak berwibawa, berdiri tegap di samping ayahnya. Wajahnya yang putih bersih terus mengumbar senyum ke semua karyawan. Desas-desus yang beredar tentang prestasi si bos baru pun tampaknya benar, sangat kentara dari penampilannya yang begitu rapi dengan setelan kemeja lengan panjang dan celana kain berwarna hitam.
"Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Junianto dengan percaya diri, mengakhiri pidato ayahnya.
Riuh tepuk tangan menjadi penutup acara penyambutan yang berlangsung sepuluh menit itu, kemudian mereka bubar dan kembali bekerja seperti biasanya. Halaman parkir pun mulai renggang karena sebagian kendaraan sudah beralih ke toko yang terletak di BTC (Bangka Trade Center), tepatnya di area pusat perbelanjaan kota Pangkalpinang.
Bagas selaku bos besar Bunga Tekstil dan Merlin—istrinya—menuntun putra mereka masuk ke ruangan yang sudah disiapkan. Ruangan tersebut diapit ruangan administrasi dan ruang kerja khusus Bagas. Walaupun sudah memberi kuasa penuh kepada Junianto untuk mengelola kantor, Bagas tetap masih harus datang ke sana sesekali untuk meninjau kinerja para karyawannya.
Junianto mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang akan ditempati selama bekerja di sini. Ukuran ruangan tersebut tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk mengisi satu lemari kaca yang sebagian diisi map-map tebal, satu set meja kerja, dan dua buah kursi di depan meja.
"Gimana menurut kamu, Jun? Kamu suka?" tanya Bagas, meminta pendapat putranya. Dia khawatir Junianto tidak nyaman selama berada di kantor.
"Papa kamu yang ngatur semua ini, lho!" tambah Merlin sambil menyentuh pundak Junianto.
Junianto berjalan-jalan mengitari ruangannya. "Iya, aku suka, Pa. Desainnya simple dan sesuai dengan selera aku."
Bagas menghela napas lega. "Syukurlah kalau kamu menyukainya. Papa dan Mama mau ke toko dulu. Kalau kamu butuh sesuatu atau masih bingung dengan pekerjaan, kamu bisa hubungi Prama. Dia manajer di sini sekaligus tangan kanan Papa."
"Iya, Pa." Junianto terpaksa menyunggingkan senyum ke orang tuanya meski dalam hati ingin sekali menolak pekerjaan ini. Setelah orang tuanya keluar, Junianto duduk di kursi putar dengan ekspresi lesu. Bukan pekerjaan seperti ini yang dia inginkan, hanya duduk dan terkurung di dalam ruangan. Benar-benar membosankan! Namun, dia bisa apa selain menuruti semua keinginan orang tuanya jika tidak mau dicabut dari Kartu Keluarga?
Pemuda itu menghela napas panjang. Baru beberapa menit saja, waktu yang berjalan terasa sangat lama. Dia menyandar pada punggung kursi, lalu menatap koleksi foto seorang wanita di ponselnya. Wanita yang sudah menjadi pujaan hatinya selama lima tahun. Rasa jenuh pun seketika lenyap dan terganti dengan senyuman lebar. Wanita itu memang obat segala kegundahannya. Paras wanita itu pun seakan tidak pernah luntur dimakan usia, masih sama sebelum dia pergi ke Jakarta untuk kuliah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Belenggu Cinta Palsu
Romance[JUARA 5 EDITOR CHOICE: AUTHOR GOT TALENT 2022] Junianto terpaksa mengakhiri hubungan rahasianya dengan Naywena-yang sudah terjalin selama enam tahun-demi menerima perjodohan dari orang tuanya. Ketika Naywena mulai dekat dengan pria lain, Junianto b...
