BCP_23

46 9 24
                                        

"Kenapa kamu ngomong kayak tadi di depan Santi? Kamu sengaja, kan?” Naywena mengerling Prama yang sedang menyetir.

Prama melirik Naywena sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis. “Sekali-kali ngisengin kamu, nggak apa-apa, kan?”

“Bagi kamu, emang nggak berefek apa-apa. Bagi aku, itu akan jadi masalah baru. Santi akan ngira yang negatif tentang aku gara-gara ucapan kamu tadi.”

“Negatif gimana maksud kamu?” Prama membelokkan setir ke kiri, kemudian jalan lurus lagi.

“Ya ... negatif kayak ... em, aku baru aja putus, terus dia lihat aku sering naik mobil kamu. Nanti dia malah mikir aku punya hubungan gitu sama kamu, padahal, kan, kita nggak ada apa-apa,” ungkap Naywena dengan malu-malu. Suaranya makin pelan, tetapi masih bisa didengar Prama.

Prama langsung paham dengan ucapan Naywena. Seulas senyum tebersit di bibirnya. "Kita wujudkan jadi nyata aja."

Naywena seketika bergidik, seolah-olah yang dikatakan Prama itu sesuatu yang menyeramkan. “Hah? Kita? Oh my God! Aku nggak pernah ngebayanginnya, bahkan di dalam mimpi sekali pun. Mending jangan, deh, ntar jadi masalah."

Prama tergelak mendengar reaksi Naywena yang mengira dia benar-benar ingin mewujudkannya, padahal hanya berkata asal.

Naywena tertegun sesaat. Baru kali ini, dia melihat Prama tertawa lepas. Prama yang dia kenal dingin dan ketus, seketika lenyap oleh pemandangan yang langka ini.

"Kenapa ngelihatin aku setajam itu? Nanti naksir beneran, aku nggak tanggung jawab, lho!"

Naywena mengerjap-ngerjap, kesadarannya kembali dari lamunan sesaat. "Kaget aja lihat kamu ketawa kayak tadi. Benar-benar beda dengan keseharian kamu di kantor."

Prama sampai tidak bisa berkata-kata. Dia baru menyadari perubahan itu. Sudah lama sekali, dia nyaris tidak pernah tertawa lepas. Terakhir yang dia ingat saat sebelum ayahnya tewas dalam kecelakaan.

Melihat respons Prama, hati Naywena merasa bersalah. "Aku salah ngomong, ya? Maaf."

"Kamu nggak salah, kenapa minta maaf?"

"Soalnya, kamu diam gitu. Aku pikir, kamu tersinggung."

Deringan ponsel Naywena menjeda obrolan mereka. Saat gadis itu sedang mencari ponsel di dalam tas, Prama tiba-tiba mengerem. Dia mematung, sampai-sampai tidak sadar isi tasnya sudah berhamburan di bawah.

“Kamu nggak apa-apa, kan, Nay?” tanya Prama dengan ekspresi agak cemas.

“Iya, aku nggak apa-apa, kok. Cuma kaget.”

“Maaf, ya. Aku nggak tahu mobil di depan mau menepi. Soalnya, dia nggak pasang lampu sein.” Prama membantu merapikan barang-barang yang berserakan dan memasukkannya lagi ke tas Naywena, lalu melanjutkan perjalanan.

Ketika sudah sampai di depan rumah Naywena, Prama langsung pulang tanpa singgah dahulu karena sudah malam.

“Itu Prama, kan?” tanya Salim yang baru saja hendak ke teras. “Kenapa dia yang nganterin kamu pulang, Nay? Motor kamu di mana?”

“Ban motor aku bocor, Pa. Harus nunggu besok baru bisa bawa ke bengkel. Jadi, aku simpan di samping kantor, terus dia nawarin tumpangan.”

Niko yang sedang duduk di sofa sembari main game, menceletuk, “Ah, palingan itu alasan Kak Nay aja, Pa, biar bisa satu mobil lagi sama cowok itu!”

Rasa kesal Naywena tadi muncul lagi. “Kakak udah telepon kamu untuk jemput, tapi kamu nggak angkat sama sekali!”

“Aku sibuk, lagi main game,” sahut Niko, santai.

Belenggu Cinta PalsuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang