Chapter 8

118 105 16
                                        


Please vote and comment 🙏🙏

Jangan lupa tinggalkan jejak

Typo bertebaran

Happy reading 🌞

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

****

"Jadi gimana, Lun? Lu dihukum apa sama kepsek?"

Begitu melihat Aluna kembali dari ruang kepala sekolah, Meyka langsung menghampirinya dengan wajah penuh kekhawatiran.

Sedari tadi ia tidak bisa fokus belajar.

Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Takut kalau Aluna benar-benar mendapat hukuman akibat rumor yang beredar.

Namun berbeda dengan dugaan Meyka.

Aluna justru terlihat santai.

Bahkan terlalu santai.

"Tenang aja."

Aluna meletakkan tasnya di atas meja.

"Gw bebas."

Meyka berkedip.

"Hah?"

"Terus?"

Aluna menyeringai tipis.

"Yang dihukum malah si lampir."

Butuh beberapa detik sampai Meyka memproses kalimat itu.

Lalu matanya membulat.

"Tunggu."

"Feby yang dihukum?"

Aluna mengangguk santai.

"Yup."

"Dia sendiri yang jebak dirinya."

Meyka langsung tertawa.

"Asli?"

"Asli."

"Buset."

"Baru kali ini gw liat lu ngebongkar kebusukan orang."

Aluna hanya mengangkat bahu.

Biasanya ia memang tidak peduli.

Selama orang itu tidak mengganggu hidupnya, ia memilih diam.

Namun kali ini berbeda.

Feby dan Arvian sudah mulai melewati batas.

Kalau ia terus diam, mereka akan semakin menjadi-jadi.

Kadang seseorang memang harus diberi pelajaran.

Dan kali ini Feby mendapatkannya.

Bel tanda pelajaran berikutnya berbunyi.

Painful MemoriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang