Chapter 12

116 84 33
                                        

Jangan lupa tinggalkan jejak

Please vote and comment 🙏

Enjoy guys

Typo bertebaran

Happy reading 🌞

****

Dikediaman Giova, suasana di sana tidak pernah benar-benar baik-baik saja setelah tragedi mengerikan itu terjadi. Papanya semakin jarang pulang dan seolah tidak lagi peduli kepadanya.

Raja sendiri sudah terbiasa dengan suasana seperti itu. Kebahagiaan dan tawa yang dulu memenuhi rumah ini seakan telah direnggut begitu saja.

Saat Raja sedang memikirkan semua kejadian itu, tiba-tiba papanya, William Giova, datang menghampiri dengan amarah yang sudah memuncak. Tanpa mengatakan apa pun, pria itu langsung menampar Raja dengan keras.

PLAK!!!

Suara tamparan itu menggema di ruang tamu yang sepi.

Raja terkejut mendapat tamparan secara tiba-tiba dari papanya. Ia sempat ingin bertanya apa kesalahannya, tetapi melihat sorot mata William yang penuh amarah, ia memilih mengurungkan niatnya.

" Kamu tau apa kesalahan kamu ha!!" teriak William hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan.

Raja hanya diam sambil menundukkan kepala. Ia tidak menyahuti perkataan papanya, karena ia tahu kalau dirinya menjawab, kemarahan William justru akan semakin menjadi.

" Kenapa kamu gak becus jagain adik kamu ha?! Dia satu-satunya adik yang kamu punya!"

" Apa kamu mau kejadian dulu terulang lagi?" ucap papanya dengan murka.

" Aku jagain dia, Pah," sahut Raja pelan.

" Kalau kamu jagain dia, gak mungkin dia masuk rumah sakit. Raja, kamu mikir dong!" cercah papanya.

" Papa gak mau tau ya. Kalau sampai papa dengar adik kamu kenapa-kenapa, kamu orang pertama yang papa salahin," ucap William sebelum akhirnya meninggalkan anak sulungnya sendirian di ruang tamu.

Kepergian William membuat emosi Raja meledak.

" Arghhh... brengsek! Kenapa harus jadi gini sih!!!!" amuk Raja sambil menendang kursi kecil yang berada di dekatnya.

" Gw bakal cari pelakunya yang udah bikin keluarga gw hancur berantakan," tekad Raja dengan hati yang dipenuhi kebencian.

Raja pov

Gw masuk ke kamar gw yang lebih dominan berwarna hitam itu.

Sunyi.

Seperti biasa.

Gw buka laci dan ambil P3K, mulai bersihin luka di sudut bibir gw yang sobek gara-gara tamparan papa tadi.

Perih.

Tapi entah kenapa, rasa sakit itu gak ada apa-apanya dibanding apa yang udah gw lihat dan rasain selama ini.

Kalian mau tau rahasia gw?

Dulu, keluarga gw bukan begini.

Dulu gw pikir gw punya keluarga yang normal... bahkan bahagia.

Tapi semuanya berubah sejak kejadian di taman itu, dua belas tahun yang lalu.

Bukan cuma kejadian itu yang ngerusak semuanya.

Tapi apa yang terjadi setelahnya.

Saat itu keluarga Giova lagi ada di tengah masalah besar.

Painful MemoriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang