Chania, Greece ; 1840
Di pagi yang terik para prajurit sudah berbaris rapi. Memakai baju senada yang biasa mereka sebut dengan baju latihan. Di depan sana, seorang pemuda kekar berjalan mengelilingi mereka. Sesekali ia melontarkan pertanyaan dengan suara lantang.
Pemuda itu berjalan ke arah seorang gadis yang berdiri di barisan pasukan bagian kiri. Orang biasa memanggil gadis itu Belga, ia menjadi salah satu prajurit perempuan yang cukup dikenal di batalyon karena kemampuan bertarungnya. Tidak, tidak hanya bertarung. Ia selalu menjadi nomor satu di perlombaan lari bahkan saat dia baru masuk menjadi prajurit baru.
"Belga, ada yang ingin Aku bicarakan denganmu, temui Aku setelah latihan," tukas pemuda itu.
"Baik, Kapten." Pemuda ituㅡKapten Javascoㅡhanya mengangguk dan berlalu untuk melanjutkan tugasnya.
Ada sekitar dua ratus pasukan di sana. Pagi hari di akhir pekan adalah jadwal latihan rutin bagi para prajurit. Latihan selesai sekitar satu setengah jam. Semua prajurit kembali ke dalam asrama. Namun, tidak dengan Belga. Ia memenuhi panggilan dari Kapten seperti yang diperintahkan sebelumnya.
Tiga pemuda dan seorang gadis sudah berdiri mengumpul di samping halaman. Mereka terlihat memperbincangkan sesuatu, "Apa Aku terlambat?" sapa Belga.
"Tidak, Kapten belum datang," balas salah satu pria di sana.
Saveaㅡgadis yang sedari tadi berbicara dengan tiga pemuda ituㅡmemberikan tanggapan, "Aku sangat cemas."
"Apa?" tanya Belga.
"Apakah Kita akan mendapat evaluasi saat pengawalan Ratu kemarin?"
"Ah, tidak mungkin," ucap pemuda tinggi yang baru saja meneguk minumannya.
"Mungkin saja!"
"Ku ingat kita melaksanakan tugas dengan baik, apa yang harus dievaluasi?"
"Kita tidak bisa mengatakan sudah melaksanakan tugas dengan baik setelah Putri Eliza terluka!"
"Itu bukan kesalahan kita, setidaknya kita menyelamatkannya walaupun ia harus tergores pedang."
"Kalaupun kita akan dihukum, maka Kau lah yang mendapat hukuman paling berat karena Kau yang menariknya," Belga membuka suara.
"Jangan berbicara seperti itu, tega sekali Kau padaku."
"Hei hei, apa ini kalian sangat ribut," Kapten Javasco datang dengan suara lantangnya. "Langsung saja, Aku tidak punya banyak waktu. Pleton kalian mendapat jatah cuti selama satu pekan mulai dari esok hari. Ini adalah bentuk apresiasi langsung dari Ratu karena kalian berhasil melawan bandit-bandit itu."
Singkat, jelas, tegas. Kalimat itu membuat Belga dan Savea membelalakkan mata tidak percaya,
"Sudah itu saja. Untuk Savea dan Belga, jangan lupa agenda kalian siang ini, silahkan beristirahat."
"Siap! Terima kasih, Kapten."
Selesai dengan semua urusannya, Belga berjalan lunglai memasuki bilik kamarnya, mengambil handuk kemudian berjalan keluar bilik untuk ke kamar mandi.
Ia bergegas membersihkan dirinya agar bisa cepat beristirahat. Di siang nanti, ia mendapat tugas untuk mengawal Ratu berkeliling dan sudah dipastikan jika ia akan pulang petang hari. Selesai mandi ia segera kembali menuju kamarnya dan tidur.
Selang beberapa jam sebuah suara melengking membuatnya bangun, "RUBELGA!"
Belga bangun dengan segala keterkejutannya, hal pertama yang ia lihat adalah seorang gadis cantik dengan rambut pendek berdiri di depan pintu kamarnya. Saveaㅡgadis ituㅡberjalan gemas ke arah Belga yang masih asik bergelung di atas kasur, "cepat bangun! Sampai kapan Kau akan tidur?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
ADOLPHINE: Ddeungryu [END]
WerewolfHai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, itu adalah suatu ketidaksengajaan. Aku disebut-sebut memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, pada...
![ADOLPHINE: Ddeungryu [END]](https://img.wattpad.com/cover/317779042-64-k63586.jpg)