Last part, happy reading!
Pavinone ; 18xx
"Apalagi ini, Rubelga?! Kau bermain di belakangku!" Hogan berteriak di depan Belga. Hogan melepas tangan Belga yang melingkar kemudian berjalan ke arah Jerome yang terduduk sembari memegang pipi kirinya. "Rupanya kepalamu akan menjadi kepala Beta ketiga yang akan ku pajang," Hogan menarik kerah pria itu sampai ia berdiri.
"Dia adikku!" teriakan Belga membuat Hogan menghentikan langkahnya. "Jangan bunuh adik ku!" lanjut Belga dengan suara gemetar.
Hogan melepas cengkramannya dan beralih ke arah Belga. "Maksudmu?"
Belga berlari ke arah Jerome yang merasa kesakitan, ia memeluk adik semata wayangnya itu dengan erat lalu mengusap bekas pukulan Hogan di wajah adiknya.
"Jelaskan!" titah Hogan kepada mereka. Jarome mengangkat kepalanya, matanya basah oleh air mata. Ia mulai menjelaskan sebuah kisah yang ia dapat dari bibinyaㅡSierra.
Beberapa tahun sebelumnya...
.
"Pergilah, pergilah bersama Elluin," ucap seorang pria.
"Tidak, kau juga harus ikut bersamaku, Alpha," ucap seorang wanita di sampingnya. Derai air mata tak berhenti keluar dari pelupuk mata wanita itu saat melihat Mate nya sekarat.
"Elluin, bawa dia," ucap pria itu pada pria bertelinga panjang yang berdiri di belakang wanita itu. "Aku mencintaimu, Sierra. Selamatkan dirimu demi aku."
Elluin mengangguk dan dengan segera menggendong wanita itu pergi. Wanita bernama Sierra itu tak berhenti memberontak. Namun, tenaganya tidak begitu kuat untuk melawan Elluin. Sierra hanya bisa berteriak menatap Alpha Ramon yang tergeletak menatap kepergiannya.
"Turunkan aku, Elluin. Ini perintah!" ucap Sierra tegas.
"Tidak, Luna. Perintahnya adalah membawa Anda pergi," balas Elluin. Semakin lama Sierra semakin lemas, energinya seperti habis karena menangis sementara Elluin membawanya semakin masuk ke hutan.
"Turunkan aku," ucap Sierra lagi. Pria itu menuruti perintahnya, mereka sudah keluar cukup jauh dari wilayah Bloodvenom pack.
"Kita harus pergi ke barat, Luna. Kita tidak bisa beristirahat untuk saat ini." Sierra sama sekali tidak memberi jawaban pada pria itu, mereka hanya terus berjalan dalam diam.
Tiba-tiba saja suara gesekan dedaunan kering terdengar di telinga mereka. Diiringi dengan suara rintihan perempuan di balik sebuah pohon besar. Elluin bergerak pelan menuju suara itu, ia menyuruh Sierra untuk tetap berada di belakangnya. Betapa terkejutnya mereka saat menemukan seorang wanita yang tengah bersandar di sebuah pohon sembari memegangi perut besarnya.
"Rusee!" Sierra berlari ke arah wanita yang merupakan adik kandung dari Ramon itu.
"Kak..." balas Rusee lemah, mata sembab dan tubuh penuh keringat membuatnya terlihat rapuh.
"Dimana Sonya?"
"Ibu membawa Sonya," Rusee menangis, ia mengadu kepada kakak iparnya tentang putri sulungnya yang dibawa pergi oleh Ursula.
Sierra membeku. Gadis kecil yang belum genap berusia satu tahun itu dalam bahaya. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Kembali ke pack akan membuat suasana semakin runyam. "Elluin, bawa dia," Sierra menyuruh pria itu untuk menggendong tubuh Rusee.
"Putriku," Rusee masih menangisi putrinya. Sierra hanya bisa menenangkan adik iparnya itu.
"Tenanglah, Rusee," Elluin akhirnya juga ikut menenangkan wanita itu. Sierra hanya diam seribu bahasa, ia larut dalam pikirannya sendiri. Ia masih mencerna pembantaian yang dilakukan Ursula kepada pack nya sendiri. Wanita itu tidak sengaja membunuh putranya sendiri karena obsesi. Namun, ia malah menyalahkan Ramon dan membunuh pack nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADOLPHINE: Ddeungryu [END]
WerewolfHai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, itu adalah suatu ketidaksengajaan. Aku disebut-sebut memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, pada...
![ADOLPHINE: Ddeungryu [END]](https://img.wattpad.com/cover/317779042-64-k63586.jpg)