BONUS CHAPTER

941 110 79
                                        

Pavinone; 18XX 

Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun tengah fokus mengunci target panahannya. Ia mengintai seekor rusa yang terletak beberapa meter di depannya. Bahkan, ia menahan nafas saat hendak melepas anak panah. Satu kali bidikan membuat rusa itu tumbang, anak itu kembali menembakkan panahnya.

"Kau dapat?" sebuah suara membuat anak itu menoleh. Tampak seekor serigala besar berwarna putih keabuan berjalan ke arahnya. Anak itu mengangguk, ia mengajak serigala itu menuju ke arah binatang buruannya.

"Tapi dia tidak terlalu besar, tidak seperti yang biasa Ayah bawa," balas anak itu.

"Tidak apa, kau akan bisa mendapatkan buruan yang lebih besar bahkan tanpa menggunakan panahan lagi," ucap serigala itu lagi. "Mari kita pulang dan tunjukkan hasil buruan ini kepada ibumu," anak laki-laki itu mengangguk.

Mereka kembali ke sebuah kastil dengan seorang wanita tengah duduk sembari menyisir rambut seorang gadis kecil yang tengah sibuk dengan sesuatu. "Ibu!" teriak anak laki-laki itu.

"Akhirnya kau pulang juga, dari mana saja kau, Hyden?" tanya wanita itu menyambut anak sulungnya.

"Aku pergi berburu."

"Mengapa tidak bilang kepada Ibu?" wanita itu mengusap wajah Hyden yang berlumuran tanah, "kau terluka? Mengapa banyak tanah di tubuhmu?"

"Jika aku meminta izin, Ibu pasti tidak akan mengizinkan aku. Lagi pula, Ibu tidak perlu khawatir, aku pergi bersama Ayah, Paman Jarome, dan beberapa Paman hunter."

Wanita itu menghela nafasnya, "baiklah, sekarang dimana Ayahmu?"

"Sedang berganti baju, sepertinya."

"Itu Ayah!" gadis kecil yang sedari tadi hanya diam di samping wanita itu turun dan berlari ke arah seorang pria tinggi yang datang ke arah mereka dengan membawa seekor rusa yang sudah mati dan diikat. Pria yang memiliki wajah sama persis dengan Hyden itu menyambut gadis kecil dan menggendongnya. Ia juga beberapa kali mencium pipi gadis itu.

"Hai cantik, apa kau merindukan Ayah?" tanya pria itu.

"Aku marah, Ayah. Mengapa Ayah hanya mengajak Kakak?"

"Oh, putri kecilku mau pergi berburu juga?"

"Lalu itu apa?"

"Ini? Hasil buruan kakakmu."

"Benarkah?" wanita yang masih duduk di kursi taman bertanya ke Hyden. Anak itu mengangguk bangga. Namun, senyumnya tiba-tiba sirna saat melihat sebuah kertas di atas kursi.

"Hei, ini milikku!" pekiknya. "Helen, kau merusak karyaku!" Hyden menunjuk ke arah gadis kecil yang masih bergelayut manja di pelukan ayahnya.

"Tidak, aku tidak merusak karyamu."

"Apa katamu? Lihat, kau mencoret-coretnya dan membuat gambaran baru di atas gambaranku!"

"Aku membuat karya jelekmu menjadi lebih indah, Kak," gadis itu tanpa rasa takut masih terus membalas perkataan kakaknya yang sudah terlihat kesal.

Wanita di depan mereka bingung melerai pertengkaran itu, ia menatap tajam ke arah pria yang sedari tadi hanya tertawa melihat pertengkaran sepasang kakak-beradik itu, "Hogan, kau tidak berniat memisahkan mereka?" ucapan sang wanita membuat pria itu mengalihkan pandangannya karena takut.

"Helen, benarkah ini milik kakakmu?" ucap pria itu lembut.

"Tapi kertas ini berada di atas mejaku, Ayah," protes Helen.

"Lain kali, kau harus meminta izin kepada pemiliknya sebelum memakai benda yang kau temukan."

"Hm, baik Ayah."

ADOLPHINE: Ddeungryu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang