Pavinone ; 18xx
Belga semakin tidak bisa bergerak. Pria pucat bernama Julien itu memborgol salah tangannya dengan rantai. Kini ia hanya bisa berjalan dua meter dari dari pintu dengan menyelipkan liontin hijau itu di rantainya. Raulla tidak akan bisa keluar jika liontin itu masih di sana, Belga pun tak bisa mengambil benda itu dengan tangan kosong.
Di tempat ini Belga hanya menunggu seseorang yang selalu Julien bicarakan. Melihat liontin hijau itu, Belga yakin jika orang yang dimaksud adalah neneknya. Entah apa yang akan wanita itu lakukan padanya. Ia telah bersekongkol dengan musuh bebuyutan dari Hogan. Bisa jadi wanita itu ingin membawanya menjauh dari Hogan atau malah menghabisi mereka.
Jauh dalam hatinya, Belga takut Hogan terperangkap dalam jebakan Julien. Pria itu benar-benar licik. Ia bisa memanipulasi semua sesuai keinginannya sendiri. Tujuh hari sudah ia berdiam di tempat ini. Keyakinannya akan Hogan yang datang semakin berkurang. Benarkah pria itu sudah melupakannya? Apa ia juga akan berakhir seperti Luna Abigale? Jika memang seperti itu lebih baik ia mati sendirian.
Namun, ia teringat akan satu hal yang harus dipertahankan, "tidak, aku harus tetap hidup walaupun Hogan tidak kembali," ucapnya tegas. Ia kembali menyamankan duduknya, menyingkirkan rantai di tangan dan bersandar pada dinding. Mereka sama sekali tidak memberikan alas tidur untuk Belga, ruangan ini hanya ruangan kosong dengan sebuah rantai panjang dan sebuah jendela kecil. Serta sebuah obor di dekat pintu sebagai sumber cahaya di malam hari.
Belga masih dalam dunianya saat suara pintu membuyarkan lamunannya. Samar-samar ia melihat bayangan seorang wanita masuk. Belga terkejut saat tahu siapa wanita itu.
—
Houser berdiri beberapa meter di depan kastil itu. Kastil gelap yang ada di mimpinya. Sejenak setelah Sierra memberitahu keberadaan Belga, Hogan segera mengatur strategi dan berniat menyerbu Julien malam itu juga. Namun, wanita itu menahannya agar tidak terlalu tergesa-gesa dan menyiapkan strategi yang matang.
Houser menggeram tidak sabar sebelum mengeluarkan lolongan yang menjadi komandan agar pasukannya bergerak, "aku yang akan menghabisimu kali ini, Julien," gumamnya geram. Ia dan pasukannya menerobos kastil itu membuat beberapa orang yang berjaga di sana kalang kabut.
"Akhirnya kau datang juga, Alpha Hogan," seorang pria berkulit pucat yang duduk di sebuah kursi besar di ruang utama menyambutnya. "Sayang sekali, mungkin sekarang Mate mu sudah mati di tangan neneknya," pria itu menyunggingkan senyumnya.
"Bajingan kau, Julien!"
"Kau sama bajingannya dengan kakakmu!"
Tanpa banyak bicara Houser menerjang tubuh Julien, tapi pria itu bergerak lebih cepat untuk menghindari. Ia membuat Houser menabrak kursi besar itu dengan keras.
Pertarungan tak bisa dihindarkan. Ruangan itu menjadi saksi bagaimana sengitnya dua pemimpin dua bangsa yang berbeda itu saling beradu. Houser mengoyak tubuh itu, sementara Julien beberapa kali membanting tubuh serigala itu ke lantai. Darah Houser menghiasi ruangan itu. Sudah banyak luka di tubuhnya tapi ia tak kunjung tumbang. Tekadnya masih kuat untuk membalaskan luka yang ia pendam selama ini.
___
"Nenek..."
"Dasar cucu tidak tahu diuntung!" wanita itu menampar pipi Belga dengan keras. "Seharusnya saat itu aku membiarkanmu mati."
"Aku tidak habis pikir dengan apa yang kau lakukan, Nek," Belga memegang pipinya. Ia merasakan sebagian wajahnya perih akibat tamparan dari wanita itu.
"Tahu apa kau? Ini urusanku. Lihatlah dirimu sekarang, aku bersusah payah membesarkanmu agar jauh dari mereka, tapi kau malah pergi dan memilih pria itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ADOLPHINE: Ddeungryu [END]
Lupi mannariHai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, itu adalah suatu ketidaksengajaan. Aku disebut-sebut memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, pada...
![ADOLPHINE: Ddeungryu [END]](https://img.wattpad.com/cover/317779042-64-k63586.jpg)