⚠️ Content Warning // Mature content ⚠️
Be a wise reader please, Happy reading!
Pavinone ; 18xx
Sengatan matahari samar-samar masuk melewati tirai jendela kamar. Seorang perempuan membuka matanya perlahan, ia merasa tubuhnya terlalu lelah untuk sekedar membuka mata. Pemandangan pertama yang ia lihat saat membuka matanya yaitu pahatan indah sepasang tulang selangka, terhubung dengan lengan kekar yang melingkar di tubuhnya. Ia bergerak untuk menyingkirkan lengan itu. Namun, hal itu membuat sang empu terbangun.
Mata tajam pria itu terbuka perlahan, perempuan itu segera membalikkan tubuh untuk menyembunyikan wajahnya. Ia terlalu malu untuk sekedar menatap pria itu. Namun, berbeda dengan perempuan itu, sang pria malah bergerak memberikan kecupan di bahu polosnya.
Pria itu beralih ke karya seni yang ia ciptakan di leher perempuan itu malam tadi. Rasa puas dan bangga ia rasakan, ia sudah berhasil menyematkan sebutan "Wanitanya" pada perempuan di depannya. Ia beberapa kali mengecup tanda itu sembari menikmati aroma feromon pemiliknya.
"Hentikan," ucap perempuan itu. "Hogan."
Pria bernama Hogan itu berhenti sejenak, "hm?" Perempuan itu masih berusaha melepas lengan pria itu dari tubuhnya.
"Lepaskan aku," ucapnya lagi.
"Tidak mau," Hogan mengeluarkan suara serak khas orang yang baru terbangun dari tidur.
"Lenganmu berat, aku merasa sesak."
"Bukankah kau yang memintanya semalam?" goda Hogan dengan suara rendahnya.
Perempuan itu terdiam, "akuㅡ" belum selesai ia berbicara, Hogan mengusap lembut bibir perempuan itu dengan ibu jarinya.
"Sttt... Bukankah terlalu pagi untuk membuat keributan? Aku tahu kau kelelahan, akan lebih baik jika kau menyimpan energimu. Sepertinya aku sudah kecanduan, aku mau kita melㅡ akh," perempuan yang kerap dipanggil Belga itu menggigit jari Hogan gemas.
"Kau yang membuat keributan, Hogan," ia membalas perkataan pria itu. Sebenarnya, rasa malu Belga lebih besar dari rasa kesalnya. Ia berusaha menutupi perasaannya setelah kejadian tadi malam. Pria itu sepenuhnya mengambil kendali atas dirinya dan ia tidak sanggup untuk menolak.
"Serigala mesum!" cibir Belga sembari berusaha melepaskan lengan Hogan dari tubuhnya.
"Memang," balas Hogan. Alih-alih mengelak dan melepaskannya, Hogan malah semakin mendekap Belga dan menyesap aroma rambut perempuan itu. Tidak lupa lengan yang mengunci tubuh mungil Belga membuatnya semakin memberontak.
Hogan membalikkan tubuh perempuan itu. Ia membuat tatapan mereka bertemu. Hogan menatap kedua manik hitam milik wanitanya, "maafkan aku, Mate."
Suara, kalimat, sampai tatapan Hogan menjelaskan bahwa ada rasa menyesal yang teramat dalam. "Aku bersikap sangat kasar. Egoku terlalu besar sampai mengatakan hal sekasar itu, aku benar-benar menyesal, Mate. Kalau kau tahu, sebenarnya aku merasa tersiksa karena hal yang kulakukan padamu." Ia mengusap pelan pipi perempuan itu.
Belga tertegun selama beberapa detik, "harusnya aku yang meminta maaf. Aku pantas mendapatkan itu, kau melakukan semua itu bukan tanpa tujuan."
"Tidak ada yang boleh bersikap kasar pada Lunaku."
Kalimat itu memang benar, bahkan Hogan memilih untuk menghukum dirinya sendiri setelah kejadian itu. Beberapa hari ia habiskan untuk mengurung dan menyiksa dirinya sendiri. Ia terlalu lemah untuk sekedar bertemu dengan Belga..
KAMU SEDANG MEMBACA
ADOLPHINE: Ddeungryu [END]
Lupi mannariHai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, itu adalah suatu ketidaksengajaan. Aku disebut-sebut memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, pada...
![ADOLPHINE: Ddeungryu [END]](https://img.wattpad.com/cover/317779042-64-k63586.jpg)