16. Cerita Hogan

601 145 7
                                        

// Content Warning //

Pavinone ; 18xx

Sinar lembut mentari di pagi hari menyambutnya. Perlahan-lahan ia membuka mata setelah rasa lelah membuatnya terlelap. Perjamuan tadi malam membuatnya lelah, rasanya ia akan bangun petang nanti.

Namun, tidak.

Belga malah terbangun di saat fajar baru memulai pekerjaannya.

Pemandangan baru yang beberapa hari belakangan ini selalu ia lihat yaitu tangan kekar yang memeluk tubuhnya setiap ia terbangun dari tidur. Pelukan yang hampir terlepas tapi rupanya sang empu sadar. Ia kembali mengeratkan tangannya, membuat Belga merasakan helaan nafas di tengkuknya. Ia membiarkan hal itu, Belga kembali menutup matanya dan enggan untuk bangun.

Beberapa menit, ia masih tidak bisa terlelap kembali. Belga berbalik menghadap ke sosok indah yang tengah tertidur pulas. Belga mengusap wajah di depannya pelan, diam-diam mengagumi pahatan sempurna di wajah pria itu. Ia menenggelamkan dirinya di tubuh pria itu, berusaha untuk mendatangkan rasa kantuknya kembali.

Belga masih gagal. Ia tetap terjaga.

Akhirnya ia memutuskan untuk bangun, ia menyingkirkan lengan itu pelan serta menyingkap selimutnya. Pria itu bergerak tapi Belga mengelus kepalanya pelan. Setelah tidak ada pergerakan lagi, Belga menyelimuti pria itu kemudian meneguk segelas air di gelas yang ada di atas nakas.

Ia mengikat rambut supaya tidak mengganggu, berjalan keluar kemudian membuka gorden dan jendela lalu membuka pintu untuk pergi ke balkon. Ia melihat keadaan sekitar, tidak ada kegiatan sama sekali. Wajar saja, tadi malam adalah acara pengobatannya, semua orang datang untuk perjamuan dan pulang ketika fajar mulai datang.

Ia menghirup udara pagi dengan tenang kemudian kembali masuk. Matanya menemukan setumpuk buku tebal di meja tempat ia biasa membaca. Ia menepuk dahinya sendiri karena lupa mengembalikan buku itu ke perpustakaan. Akibatnya, buku itu menumpuk dan ia harus membawa buku-buku itu kembali.

Ia mengambil dan menata buku-buku itu agar bisa dengan mudah membawanya. Namun, ia menemukan sebuah kertas kusut yang tidak asing. Kertas itu adalah peta yang pernah ia buat untuk pergi dari kastil. Belga terdiam menatap kertas itu mengingat bagaimana kemarahan Hogan membuatnya gemetar.

"Sia-sia aku membuatnya," ucap Belga menyimpan kertas itu di laci mejanya. Niat untuk kabur sudah hilang, ia mengubah pemikirannya sekarang dan memberi kepercayaan penuh pada pria yang sedang tertidur pulang di sampingnya tadi.

Tidak mau membuang waktu, Belga menyambar night robe untuk menutupi gaun tidurnya yang sedikit terbuka. Lalu mengambil buku-buku di atas meja dan membawanya keluar. Ia merasa sedikit kesulitan karena buku-buku itu cukup tebal. Beruntungnya ia bertemu dengan Beta Jacob.

"Salam Luna, izinkan aku membantu," ucap pria itu dan langsung mengambil alih buku-buku di tangan Belga.

"Terima kasih, Jacob," balas Belga.

"Dengan senang hati, Luna."

Mereka berjalan menuju perpustakaan, Belga membawa dua buku di tangannya membantu membukakan pintu ruangan itu. Selama mereka berjalan, Belga berpikiran untuk menanyakan pertanyaannya tentang Hogan pada pria di sampingnya.

"Beta Jacob, bisa aku bertanya sesuatu?" Belga membuka suara setelah buku-buku itu tertata pada tempatnya. Ia duduk pada sebuah kursi yang ada di sebelah meja besar, "duduklah," ucapnya lagi setelah melihat Jacob hanya berdiri di depannya.

"Tidak apa, Luna."

"Bukankah tidak sopan jika aku duduk sementara kau berdiri?" akhirnya Jacob menuruti perkataan Belga. Ia duduk di depan gadis itu dan memberi jarak. Jacob sangat takut jika Hogan melihat mereka hanya berdua di perpustakaan dengan jarak berdekatan. Hogan bisa marah, menghukum Belga atau lebih parahnya memenggal kepala Jacob kemudian memamerkannya seperti yang biasa pria itu lakukan.

ADOLPHINE: Ddeungryu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang