12. Ludolf

710 163 33
                                        

⚠️ Content Warning //  Mature content ⚠️ 

Be a wise reader please, Happy reading!

Pavinone ; 18xx

Belga selesai membersihkan dirinya. Ada rasa takut karena sikap yang Hogan berikan setelah kejadian itu. Pria itu hanya menyuruhnya membersihkan diri, lalu pergi begitu saja. Selama ini Hogan tidak pernah bersikap sedingin itu.

Belga menarik napas panjang, ia membulatkan tekad untuk meminta maaf walaupun rasa takutnya lebih besar. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dan menemukan Hogan berdiri di depan meja dengan secarik kertas di tangannya. Rahang pria itu terlihat mengeras, raut nya seperti dipenuhi oleh api kemarahan.

"Kupikir kau sudah menerimaku," ucap Hogan disertai senyum miringnya. "Jadi sebenarnya apa maumu, Rubelga?"

Mendengar Hogan memanggil namanya, ia merasa ada rasa sesak di dadanya, "m-maaf, bukan itu maksudku."

"Lalu apa? Kau diam-diam membuat peta untuk kabur, bukan? Kau bahkan mengacuhkan perkataanku. Ada alasan mengapa aku memintamu untuk berhati-hati dengan orang asing."

"Aku hanya ingin bertemu Nenekku..."

"Aku melarang mu, Rubelga. Jika aku mengatakan tidak, kau tetap tidak boleh melakukannya!" Hogan meremas kertas itu dan membuangnya.

"Hogan..."

"Jangan membantah!"

Pyarrr..

Cermin di meja rias pecah karena pukulan Hogan, "rupanya usahaku selama ini sia-sia," ucapan terakhir Hogan kembali mengiris hati Belga.

Pria itu meninggalkan Belga dengan suara bantingan pintu saat ia pergi. Lutut Belga terasa lemas. Hatinya sakit mendengar perkataan Hogan. Air matanya jatuh, ia menangis dalam diam.

Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Bahkan lebih sakit daripada sindiran yang biasa Neneknya lontarkan.

Ia terduduk memeluk lututnya, baju yang ia kenakan mulai basah. Diam-diam Belga merutuki kebodohannya. Ia merasa gelisah karena merasa membuat kesalahan besar. Hogan menjaganya dengan sepenuh jiwanya, tapi ia malah dengan mudah mengikuti orang yang baru beberapa menit ia kenal.

Belga kembali bangkit dengan tubuh bergetar. Ia keluar untuk mencari Hogan dan meminta maaf. Namun, saat membuka pintu tampak Beta Jarome berdiri dengan tatapan iba. "Salam Luna," ucap pria itu. "Akan lebih baik jika Anda beristirahat terlebih dahulu, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk kembali bertemu Alpha ."

Ucapan pria itu membuat Belga mundur. Ia membenarkan ucapan Jarome, baik dirinya maupun Hogan membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran. Mungkin ia bisa menemuinya esok hari.

___

Hari demi hari berlalu. Terhitung lima hari ia tak bertemu dengan Hogan. Belga terus mencari pria itu, namun ia tetap tidak kunjung menemukannya. Bahkan ketika ia bertanya pada Jacob dan Jarome, mereka hanya memberi jawaban bahwa Sang Alpha sedang sibuk dengan pekerjaannya.

Sekarang Belga berdiri di balkon kamar. Ia hanya diam memandang langit jingga yang perlahan berubah menjadi gelap, disertai dedaunan yang mulai gugur di bawah sana.

Ditangannya terdapat sebuah kepingan perunggu yang tak lain adalah lencananya. Lencana yang membawanya datang ke takdir hidupnya. Belga menatap benda itu sendu. Jika saja ia tidak kehilangan benda itu, ia tak akan ada di sini. Mungkin sekarang ia sudah kembali bertugas karena masa cutinya sudah habis.

ADOLPHINE: Ddeungryu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang