O4. Lencana dan Sungai

844 203 41
                                        

Chania, Greece ; 1840

Belga terbangun karena kicauan burung memenuhi kepalanya, pagi sudah datang. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi kasur untuk mengumpulkan kesadaran. Setelah puas, ia berjalan untuk membuka jendela agar udara pagi masuk ke kamarnya.

Ekor matanya menatap sebuah tas yang sedari kemarin belum dibuka. Rencananya, ia akan mengeluarkan barang-barang di sana kemarin. Namun, tubuhnya terlalu lelah. Ia menarik tas itu dan duduk di lantai, mengeluarkan barangnya satu per satu.

Semua barang sudah dikeluarkan, namun ia tidak bisa menemukan lencananya. Lencana penghargaan yang diberikan sekitar satu tahun lalu. Arti dari benda itu sangat besar, jauh lebih besar dari ukurannya yang hanya sebuah kepingan.

Belga terlonjak, ia segera mencari ke seluruh penjuru kamar bahkan rumah.

Nihil.

Ia tak kunjung menemukan benda itu. Pikirannya kalut, ia segera bergegas keluar rumah dan pergi ke asrama. Bisa saja benda itu ada di sana. Ia ingat dengan benar bahwa menyimpan benda itu di saku dalam tasnya.

Sesampainya di asrama, ia segera berlari ke kamarnya. Saat di depan pintu ia berpapasan dengan Savea yang sepertinya hendak mencuci baju, "Bel, cepat sekali kau kembali," ucap Savea saat Belga masuk secara terburu-buru.

"Sav, apa kau melihat lencanaku?"

"Kenapa? Jangan bilang lencanamu hilang."

"Aku harap aku tidak mengatakan itu..."

"Astaga, Bel."

"Apa kau melihatnya? Cepat katakan."

"Tidak, aku sama sekali tidak melihatnya. Coba cari di kamarmu."

Belga segera masuk ke kamar asramanya. Dibantu dengan Savea, ia mencari ke sudut ruangan namun sama saja. Benda itu tidak ada. "Dimana kau menaruhnya terakhir kali?" tanya Savea.

Lawan bicaranya diam, ia berusaha mengingat kapan terakhir kali ia meletakkan benda itu. Yang ia ingat hanya...

"Tas anak panahku!" Belga naik mengambil tempat anak panah di atas lemarinya. Ia mengeluarkan seluruh anak panahnya namun tetap saja.

Nihil.

"Astaga, Sav, apa aku menjatuhkannya di hutan sewaktu kita berburu?"

Mata Savea membulat, "kita harus mencarinya sekarang."

Dua gadis itu bergegas pergi ke hutan tempat mereka berburu. Mereka berpencar untuk mencari benda perunggu itu. Savea pergi ke utara sementara Belga pergi ke barat, ke tempat dimana mereka mendengar lolongan serigala kemarin.

Belga menyusuri rimbunnya pepohonan tinggi, menggunakan daya ingatnya saat mereka berburu. Ia ingat betul kemana mereka berjalan. Tanpa sadar, ia semakin masuk ke dalam hutan itu. Suasana yang tadinya terik menjadi teduh, suhu yang panas tiba-tiba menjadi dingin.

Suhu memang menjadi semakin dingin, namun rasa panas mulai Belga rasakan di tubuhnya. Ia merasa seperti dirinya terbakar dari dalam, tubuhnya terasa panas luar biasa. Apa ini? monolognya. Ia tidak pernah merasakan tubuhnya seperti ini.

Semakin lama tubuhnya semakin terasa panas, gadis itu berinisiatif mencari sungai untuk berendam. Sejujurnya, ia sudah tidak tau kemana kakinya berjalan. Ia hanya mengikuti instingnya.

Semakin tubuhnya melemah, semakin pelan langkahnya. Belga memilih untuk berhenti dan duduk di sebuah batu. Samar-samar ia mendengar gemericik air di belakangnya, ia menoleh dan benar saja, tampak sebuah sungai di balik rerumputan di belakangnya. Dengan bersusah payah Belga berlari menuju sungai. Ia segera menenggelamkan tubuhnya di sungai yang memiliki air jernih itu. Tubuhnya sedikit membaik, namun tidak benar-benar baik.

Suara gesekan ranting membuatnya terdiam, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Manik gelapnya menangkap bayangan serigala besar dengan bulu berwarna putih dengan corak keabuan serta sorot mata tajam. Tanpa banyak berpikir, Belga segera naik. Ia sedang dalam bahaya, bisa saja ia sedang menjadi target buruan serigala itu sekarang.

Belga sudah berdiri di tepian sungai saat serigala itu mendekat. Tubuhnya semakin kacau, rasa panasnya semakin luar biasa. Ia berusaha berlari sebelum tubuhnya kehilangan kesadaran..

-

Hogan menepati janjinya, ia menghabisi para rogue yang masuk ke dalam wilayahnya kemudian menggantung kepala mereka di pepohonan. Fajar menjadi saksi saat ia membuat kepala mereka menjadi pajangan. Sejak tengah malam ia tak berhenti melakukan pengejaran dan bertarung dengan serigala-serigala liat itu.

Sekeras tenaga ia mengancam mereka untuk memberitahu siapa dalang dari penyerangan ini. Karena tidak mungkin jika mereka melakukan hal besar seperti itu tanpa adanya campur tangan pihak yang ingin menghancurkan wilayahnya.

Sayangnya, mereka hanya bungkam. Mereka enggan mengatakan siapa pelakunya walaupun nyawa sebagai taruhannya.

Houser yang tengah mengambil alih Hogan berdiri memandang kepala-kepala itu sebelum berlalu untuk kembali ke kastil. Beberapa warga terlihat menyaksikan kejadian itu, mereka terdiam antara tercengang dan ngeri melihat apa yang ada di depan kepala mereka. Ucapan terima kasih terus terdengar.

Houser, Beta Jacob, serta beberapa warrior bergegas pulang. Houser sebagai seorang Alpha memimpin di depan, ia menembus lebatnya hutan dengan sangat mudah. Semakin lama ia merasakan panas dari tubuhnya. Ia berusaha mengacuhkannya, namun rasa panas itu semakin menjadi-jadi.

Ia berhenti tiba-tiba membuat pasukannya teheran. "Apakah terjadi sesuatu, Alpha?" tanya Jacob yang sedikit khawatir karena Alphanya terlihat gelisah.

Sang lawan bicara hanya diam karena mencium aroma wangi, ia seketika teringat pada Belga. Bisa saja gadis itu merasakan sakit yang luar biasa sekarang, "kembalilah, aku akan menyusul." Houser berlari masuk ke arah hutan, meninggalkan pasukannya yang sedang kebingungan.

Ia berlari mengikuti aroma itu, Houser yakin Belga ada di hutan itu. Lama ia mencari, akhirnya ia menemukan gadis itu tengah berendam di sungai, "pasti sakit sekali," gumam Hogan di dalam tubuh Houser.

Serigala itu berjalan mendekat, ia menimbulkan suara sampai membuat gadis itu hendak kabur. Ia terlihat terkejut akan kehadiran Houser. Siapa juga yang tidak akan ketakutan melihat serigala sebesar itu berjalan ke arahnya. Ia melihat gadis itu berusaha berlari, namun ia tiba-tiba saja pingsan.

Houser bergerak cepat agar gadis itu tidak jatuh ke tanah. "Jika saja kau membawanya lebih cepat, ia tidak akan seperti ini," ujar Houser menyalahkan Hogan.

"Cukup! Aku enggan berdebat denganmu. Cepat bawa dia pulang."

Houser membawa tubuh gadis itu ke kastil. Sepanjang ia berjalan ke kamar, para Omega dibuat penasaran dengan siapa gadis yang dibawa Alphanya.

 Sepanjang ia berjalan ke kamar, para Omega dibuat penasaran dengan siapa gadis yang dibawa Alphanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

TBC

©Alphanorv

08/08/22


Hi! Gimana? Boleh minta vomennya? Sekalian follow juga boleh, mohon krisarnya juga ya? Bisa lewat link yang ada di bio, terima kasih sudah mampir.

ADOLPHINE: Ddeungryu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang