1O. Hari Terakhir

691 166 59
                                        

Pavinone ; 18xx

Terhitung tiga hari sudah Hogan pergi berburu. Belga berhasil melakukan apapun yang ia mau, termasuk bermain pedang dan panahan. Di pagi terakhir sebelum kedatangan Hogan sore nanti, ia masih tidak punya rencana apa yang akan ia lakukan hari ini.

Selesai dengan sarapannya, ia berjalan ke arah belakang kastil. Tidak ada seorang pun disana. Ia berjalan dan menemukan sebuah pintu. Belga membuka pintu itu dan menemukan jalan setapak dengan beberapa pohon di tepinya.

Pohon-pohon dengan daun yang mulai gugur itu membuat suasana menjadi sendu. Belga tertarik untuk menyusuri jalan itu. Tanpa ragu, ia berjalan sendirian menyusuri jalan setapak. Sekitar lima menit ia melihat bangunan-bangunan rumah.

Ternyata tidak jauh berbeda dengan dunia manusia, batin Belga.

Gadis itu menelusuri perumahan itu. Beberapa pasang mata dari orang-orangㅡyang ada di depan rumah-rumah ituㅡtak henti memperhatikannya. Samar-samar terdengar bisikan orang yang tengah membicarakannya. Beberapa orang terheran karena tidak pernah bertemu dengannya, beberapa lainnya terpukau karena penampilan Belga.

Hal itu membuatnya tidak nyaman, ia bergegas melangkahkan kaki menuju tempat yang sekiranya tidak banyak orang. Entah kemana kakinya melangkah, ia sampai pada sederet bangunan yang nampak sepi. Hanya ada seorang pria paruh baya yang tengah kesusahan mengangkat beberapa kayu besar masuk ke rumahnya.

Belga berjalan sambil sedikit memperhatikan pria itu, terlihat ia limbung dan hampir terjatuh. Jika saja Belga tidak berlari dan menahannya, bisa dipastikan pria itu tertimpa kayu-kayu itu

"Mari aku bantu, Paman," ucap Belga sembari menurunkan kayu-kayu itu ke teras rumah. Tubuh Belga memang tidak terlalu besar, tapi untuk mengangkat kayu besar itu bukanlah hal yang sulit baginya. Saat pelatihan dulu, ia biasa membawa tas dengan berat sampai dua puluh kilogram.

Selesai dengan beberapa batang kayu itu, Belga berpamitan, "Paman, lebih baik jika meminta bantuan daripada membahayakan dirimu sendiri."

"Terima kasih, Nona. Saat ini sedang tidak ada yang bisa membantuku," Belga hanya tersenyum. Ia tak tau harus menjawab apa lagi selain berpamitan.

Belga melangkahkan kakinya lagi, ia berjalan sampai di tepi hutan. Tidak ada lagi bangunan rumah, hanya hutan. Ia mendongak, hari sudah beranjak sore. Ia sepertinya tersesat.

Belga memutar balik ke arah rumah-rumah tadi, tapi ia tidak menemukannya lagi. Hanya pepohonan lebat yang ia lihat. Tidak mungkin jalanan ini berubah, hanya aku yang tersesat, gumamnya dalam hati.

"Berjalanlah ke arah barat," suara itu kembali.

Raulla? Kau kah itu?

"Ya, ini aku." Belga mendongak kembali melihat arah matahari yang sebentar lagi tenggelam. Ia mengikuti arah tenggelamnya sang surya.

Beberapa menit berlalu, ia menemukan sebuah sungai. Sungai itu mirip dengan sungai tempat ia pergi bersama Hogan beberapa hari lalu. Karena lelah, ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Belga membasuh wajahnya, ia merasakan perih di tangannya saat menyentuh air. Rupanya serpihan kayu melukai telapak tangan gadis itu. Tanpa pikir panjang ia mencabutnya dan membersihkan dengan air.

Raulla?

"Ya?"

Kemana aku harus pergi setelah ini?

"Ikuti saja hilir sungai itu," Belga mengangguk. Rasanya, ia mulai berdamai dengan Raulla. Ternyata ia sering membantu Belga saat gadis itu hampir dalam bahaya atau sedang kesulitan. Walaupun sebagai gantinya ia harus merasa energinya habis, ia tetap berterima kasih.

ADOLPHINE: Ddeungryu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang