17. Tidak Diundang

549 138 13
                                        

Pavinone ; 18xx

"Sierra membawaku bersembunyi, bahkan ia sengaja membuatku kehilangan kesadaran agar aku tidak kembali ke kastil," Hogan menatap kosong langit-langit kamar. "Namun, akhirnya aku berhasil kembali ke kastil. Aku melihat bagaimana kakakku menangis sembari memeluk abu mate nya, ia tak memperdulikan dirinya yang bermandikan darah. Kemudian bajingan itu menusukkan belati perak di leher kakakku, membuatnya jatuh tersungkur dan meregang nyawa."

"Rasanya hatiku hancur," senyum hambar terlukis di wajah tampannya, "sejak saat itu, aku melihat bangsa mereka sebagai makhluk yang menjijikkan."

Tidak hanya Hogan, Belga juga merasakan hatinya hancur saat melihat pria itu terlihat sangat rapuh. Beberapa kali ia mengusap punggung tangan mate nya tanpa melepas tatapan kepada pria itu. Belga benar-benar mendengarkan setiap kata yang Hogan ucapkan.

"Tapi aku juga merasa jijik dengan diriku yang tidak bisa melakukan apa-apa saat itu, jika saja Sierra gagal membunuh pria itu, aku tidak akan berada di sini." Belga masih terdiam, mendengar kisah pilu dari seorang Hogan. "Seringkali aku membenarkan perkataan orang, bahwa aku hanyalah seorang Alpha pengganti yang belum siap memimpin pack."

-

Cerita Hogan masih melekat di kepalanya, sekarang ia sudah berjalan ke ruang kerja milik pria itu. Seperti yang Hogan katakan, ia hendak mengajak Belga untuk berjalan-jalan di wilayah Pavionne Pack.

Saat ia membuka pintu ruangan, tampak dua pria yang tidak lain adalah Jacob dan Jarome keluar dari ruangan itu. "Salam, Luna," ucap mereka bersamaan.

"Apakah Hogan berada di dalam?"

"Benar, kami baru saja melakukan diskusi dengan para Gamma," balas Jacob.

Belga mengangguk, dengan semangat ia masuk ke ruangan Hogan. Namun, bahunya luruh saat melihat Wynne berada di dekat Hogan, ia membersihkan beberapa gelas di meja sementara Hogan berkutat dengan sebuah kertas besar di atas meja. Tanpa adanya penyebab yang jelas, Wynne menumpahkan sisa minuman ke arah Hogan. Sontak saja pria itu berdiri dan mengambil kertas besar itu agar tidak terkena air.

Di pintu, Belga berjalan cepat ke arah mereka, menolong Wynne yang terduduk di samping kursi Hogan. Pria itu menatap kesal ke arah kertas di tangannya, ia menjadi lebih kesal karena air itu tumpah di atas beberapa bukunya.

Saat Belga menolongnya, Wynne sempat terdiam beberapa detik lalu bangkit untuk membersihkan air yang berceceran di meja Hogan, "m-maaf, Alpha," ucapnya dengan nada bergetar. Dengan cepat ia menyelesaikan pekerjaannya dan berniat untuk segera pergi.

Hogan hampir saja menghukum gadis itu, tapi Belga menghentikannya. Ia menarik lengan Hogan sebagai isyarat untuk berhenti, lalu membiarkan Wynne pergi dengan tangan bergetar.

"Mungkin dia lelah," ucap Belga setelah gadis itu pergi. Ia mengambil buku Hogan yang basah dan menaruhnya di dekat jendela, ia juga sempat memeriksa apakah tinta dari buku itu luntur atau tidak, "tintanya tidak luntur, hanya basah. Kau tak perlu risau."

Ia berusaha menenangkan Hogan walaupun ia sendiri merasa takut karena aura pria itu menjadi lebih menyeramkan. Belga melirik ke arah kertas besar di tangan Hogan, kertas itu terlihat seperti peta. Bekas air masih terlihat di ujung benda itu. Beruntung, airnya tidak menyentuh garis-garis gambar di kertas itu.

Hogan masih belum mengeluarkan suara, ia hanya terus menelisik setiap sudut kertas itu. Ia tampak tidak memperdulikan Belga yang berdiri di sampingnya. Gadis itu sangat bingung harus melakukan apa, ia merasa Hogan sangat sibuk dan merasa bahwa kehadirannya hanya mengganggu pria itu.

ADOLPHINE: Ddeungryu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang