Pavinone ; 18xx
Hogan menurunkan Belga, mereka sampai pada sebuah rumah kecil. Rumah itu terletak di tengah hutan dan benar-benar jauh dari kastil dan rumah warga. Pria itu menggandeng wanitanya untuk masuk, sementara Belga masih dilanda kebingungan.
Hogan masuk tanpa sedikitpun mengucapkan salam atau bahkan sekedar mengetuk pintu, di dalam keluar seorang wanita yang sudah cukup berumur tapi masih terlihat cantik, "salam Alpha, salam Luna," ucap wanita itu menyambut mereka.
Ia mempersilahkan Hogan dan Belga untuk duduk. "Sierra, kau tau kan apa yang membuatku datang kemari," ucap Hogan pada wanita itu.
Wanita itu mengangguk, ia sempat menawarkan minuman tapi mereka menolak. "Sebelumnya aku ingin memastikan sesuatu." Ia menatap Belga lekat-lekat. "Luna, bolehkah saya tau siapa nama Nenek Anda?"
"Ursula... Ursula Montenegro," wanita itu menghela nafas panjang. Ia diam beberapa detik.
"Apa?" desak Hogan.
"Anda adalah anggota Bloodvenom pack yang tersisa," Belga menatap Hogan tapi pria itu malah melemparkan tatapan tajam ke arah Sierra. Ia tak mengerti apa itu Bloodvenom.
"Alpha, mungkin Anda pernah mendengar tentang itu." Belga kembali menatap Hogan, ia menarik tangan pria itu pelan. Pria itu menoleh, ia mengusap pelan punggung tangan Belga.
"Dahulu, ada sebuah pack bernama Bloodvenom." Sierra menarik nafasnya lagi. Ia seperti mempersiapkan untuk menceritakan sesuatu yang besar. "Salah satu anggotanya membantai habis pack tersebut, karena rasa tamak sang pelaku melakukan hal keji itu."
"Jadi maksudmu, aku satu-satunya yang tersisa?"
"Kurang lebih seperti itu, ayahmu adalah Beta Kurth dan ibumu adalah adik dari Alpha Ramon yang bernama Rusee." Bahu Belga meluruh, "dan orang yang menghabisi Bloodvenom pack adalah Nenekmu." Bak tersambar petir di siang bolong, Belga tertegun. Ia tidak percaya dengan apa yang Sierra katakan.
"Ia memberimu kalung ini, karena tidak mau berhubungan lagi dengan bangsamu," Sierra menunjukkan kalung yang sedari tadi Belga cari. "Nenekmu pandai dalam membuat berbagai ramuan, aku yakin jika ia memberimu sesuatu sehingga kemampuanmu terkubur. Itu membuatmu terlihat seperti manusia biass. Kalung ini juga mematikan seluruh kemampuanmu, mungkin ia juga mengubur bentuk serigalamu."
Pikiran Belga langsung teringat pada Raulla. Ia terus berkata bahwa ia terkubur. Kini, Belga tau apa yang membuat ia dan Raulla tidak bisa berkomunikasi dalam waktu yang lama.
"Lalu..." Sierra hendak meneruskan ucapannya tapi Hogan memintanya berhenti. Pria itu melihat reaksi Belga yang terlihat sangat terkejut.
"Lalu mengapa Nenek melakukan itu?" rupanya Belga masih ingin mengorek informasi lebih dalam.
"Ia ingin putranya, Beta Kurth menjadi Alpha menggantikan Ramon. Dia melakukan cara licik dan bekerjasama dengan para vampir."
Lagi dan lagi Belga tidak percaya jika neneknya sejahat itu. "Apa kau yakin itu ulah Nenekku?"
"Ya, Luna," Sierra menyunggingkan senyum tipisnya. "Tapi sekarang tidak ada yang perlu Anda khawatirkan karena Anda sudah berada di sisi Alpha," Belga tidak memberikan jawaban. Ia masih diam menatap kosong ke arah depan.
"Mari kita pulang, Mate." Hogan membawa Belga pulang.
Gadis itu masih terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, "Mate, kau yakin akan berjalan sampai kastil?" ucap Hogan khawatir. Masalahnya, letak rumah Sierra ke kastil tidak dekat, juga kejadian tadi malam yang membuat Belga seharusnya beristirahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADOLPHINE: Ddeungryu [END]
WerewolfHai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, itu adalah suatu ketidaksengajaan. Aku disebut-sebut memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, pada...
![ADOLPHINE: Ddeungryu [END]](https://img.wattpad.com/cover/317779042-64-k63586.jpg)