11. Teman Nenek

637 167 32
                                        

⚠️ Content warning //  Harsh word, violance ⚠️

Pavinone ; 18xx

Hogan sudah pergi sejak fajar menyingsing. Belga tidak tahu kemana pria itu pergi. Saat ia bertanya pada Jarome, pria itu hanya berkata bahwa Hogan pergi untuk menemui seseorang dan akan segera kembali.

Tak ambil pusing, gadis itu kembali pada kegiatannya. Ia terlalu jenuh di dalam kastil sehingga memilih untuk duduk di tepian sungai sembari membaca buku. Sejak Hogan mengajaknya ke tempat itu, ia lebih sering menghabiskan waktunya disana.

Awalnya ia pergi bersama Beta Jarome, tapi Belga menyuruhnya pergi. Lagipula pria itu juga mendapat panggilan mendesak untuk menggantikan Hogan mengerjakan beberapa pekerjaan.

Belga masih dengan buku yang menceritakan sejarah pack yang dipimpin Hogan. Peta yang ia buat hampir selesai. Baru saja ia membuka buku itu, sebuah suara membuat atensinya teralihkan.

"Siapa Anda, Tuan? Ada kepentingan apa Anda kemari?" bayangan seorang pria dengan dua serigala hitam muncul dari balik rerimbunan pohon.

Senyum tipis terlukis di wajah pria itu, "siapa aku itu tidak penting. Aku kemari hanya ingin menyampaikan sebuah pesan untukmu, Nona Rubelga."

"Katakan saja."

"Apa kau lupa dengan nenekmu?" Belga tertegun. "Ini adalah pesan darinya. Karena ia tidak bisa masuk ke dunia ini, ia sangat merindukanmu, Nona."

"Aku juga," ucap Belga lirih.

"Pulanglah, aku akan mengantarmu."

"Jangan, Belga!" Raulla terdengar setengah berteriak.

"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja, aku baru bertemu denganmu beberapa detik lalu."

"Tenang Nona, kau bisa mempercayaiku. Aku adalah teman baik nenekmu, ia yang memintaku mencarimu."

"Benarkah? Lalu bagaimana kau tahu jika aku berada di sini?" pria itu terdiam.

"Temanmu itu menceritakan pada Nenekmu bahwa kau hilang di hutan. Aku tinggal di hutan dan ia meminta bantuanku."

Belga masih tidak percaya dengan pria itu, "apa jaminan jika kau bukanlah orang yang bisa kupercaya?"

"Kalung mu, itu pemberian dari Nenekmu, bukan? Benda itu menarik energi dari liontin ini," pria itu mengangkat sebuah liontin yang memiliki warna sama dengan liontin di kalung Belga.

"Tidak. Jangan percaya mereka," Raulla masih bersikeras dengan ucapannya.

Disini Belga tertegun, liontin itu milik Neneknya. Ia tidak akan menyerahkan benda itu pada siapapun dan ia menyimpan liontin itu di tempat yang hanya diketahui oleh Belga dan Nenek. Selain mereka berdua, tidak akan ada yang tau jika liontin itu adalah pecahan dari kalungnya dan tidak akan tahu jika liontin itu akan saling menarik. Lagipula, kalung itu selalu Belga sembunyikan di balik bajunya.

"Nenekmu mencarimu dengan bersusah payah, sekarang ia terbaring sakit karena terus memikirkanmu. Tidakkah kau ingin menemaninya?"

___

Hogan keluar dari sebuah rumah kecil dengan perasaan campur aduk. Wanita itu tak kunjung memberikan jawaban. Alih-alih memberikan jawaban, ia malah meminta Hogan mengambil kalung yang Belga pakai.

Pria itu mengusap rambutnya kasar, wanita itu benar-benar bungkam, untuk sekedar memberikan prediksi saja ia tak mau. Di sisi lain, ia memikirkan teror para vampir yang sedang mengancam bangsanya. Ia masih belum menemukan waktu untuk menandai Belga sementara keadaan semakin kacau.

ADOLPHINE: Ddeungryu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang