Hai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, itu adalah suatu ketidaksengajaan. Aku disebut-sebut memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, pada...
here's wishing your dreams of a new tomorrow come true. Now and always.
And Happy reading y'all!
Pavinone ; 18xx
Dua puluh sembilan hari sudah sejak ia tak sadarkan diri dan berakhir di tempat ini. Belga mulai terbiasa dengan dunia itu. Namun, ia tidak serta merta percaya dengan apa yang dikatakan Hogan tentang dirinya, sebelum pria itu membuktikannya sendiri.
Siang itu, Belga masih dengan kesibukannya membaca buku. Buku sejarah yang membuat hatinya sedikit demi sedikit terbuka tentang makhluk kesukaan Savea itu. Sebenarnya, Belga hampir menamatkan buku yang ia temukan lima belas hari lalu.
Bagaimana dengan Hogan?
Hogan lebih sering menghabiskan waktu untuk tugas-tugasnya. Sesekali ia menemani Belga walaupun hasilnya ia akan teracuhkan oleh buku yang dibaca gadis itu. Ada alasan mengapa ia mengacuhkan Hogan walaupun pria itu sudah berusaha dengan keras untuk meluluhkan hatinya.
Belga tidak terlahir di tempat itu. Ia masih merasa asing. Terlebih lagi, ia belum melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang semua yang Hogan ceritakan. Setiap kali Belga meminta Hogan menunjukkan kemampuannya, pria itu selalu menolak.
"Dasar pembual!" adalah cibiran yang selalu Belga ucapkan.
Namun, sejatinya es adalah air. Perlahan-lahan hati gadis itu melunak. Ia melihat betapa keras Hogan berusaha. Setidaknya jika ia adalah seorang pembual, keseriusan Hogan membuat Belga mulai melirik pria itu. Mungkin tidak ada salah jika aku sedikit membuka hati untuknya, putus Belga setelah lama menimbang.
"Mate," panggilan yang sudah mulai familiar di telinga Belga. Ia menoleh ke belakang, ke arah pintu perpustakaan yang ditutup oleh Hogan. "Kapan kau akan meluangkan waktu untukku?"
Memang mereka ditakdirkan untuk berdampingan, tapi tentunya butuh waktu untuk beradaptasi antara satu sama lain. Belga terkesan acuh, serta Hogan yang terus mendapat panggilan pekerjaan, sebuah perpaduan yang menghambat kedekatan mereka.
"Maafkan aku, Hogan," Belga menutup bukunya. "Aku tidak mau menghambat pekerjaanmu. Sebagai seorang pemimpin, kau memiliki banyak agenda, bukan? Jika kau terus bersamaku, pekerjaanmu akan terbengkalai," alasan Belga karena tak mau terlihat menghindari pria itu.
Hogan mendudukkan dirinya di samping Belga. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari memejamkan mata. "Pekerjaan ini tak ada habisnya, aku lelah."
Belga memberanikan diri untuk memegang tangan pria itu. Hogan membuka matanya, ia tidak percaya dengan apa yang dilakukan gadis itu. "Bagaimana jika kita makan malam bersama malam ini?" Belga sedikit ragu dengan ucapannya. Ada rasa menyesal karena mengatakan hal itu tapi ia hanya ingin membantu Hogan melepaskan tekanannya.
Wajah Hogan berubah, raut nya mengeras. "Tidak. Malam ini kau harus tidur lebih cepat."
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Bukan. Tidak malam ini."
"Aku berjanji akan menemuimu besok pagi," ucapan Hogan sembari mengulas senyumnya. Tidak ada bantahan dari Belga, ia berpikir bahwa pria itu hendak pergi untuk menyelesaikan tugas-tugasnya di luar kastil. "Berjanjilah untuk tidak keluar dari kamarmu untuk malam ini, ya?"
"Apa?! Haruskah seperti itu?"
"Harus. Apapun yang kau dengar, apapun yang terjadi jangan mencoba membuka pintu kamarmu kecuali aku yang membukanya."
-
Belga berusaha melelapkan dirinya, ia sudah memejamkan mata sekitar tiga puluh menit.
Hanya memjamkan mata.
Kantuk tak kunjung mendatanginya, ia memilih untuk membuka buku yang ia baca belakangan ini. Demi memancing rasa kantuk.
Benar saja, selang beberapa menit rasa kantuknya mulai datang. Ia menutup buku itu dan kembali merebahkan tubuh. Ia rasa ia mulai terlelap, sebelum suara jendela membuatnya kembali terbangun.
Belga beranjak dari ranjang ke arah jendela. Rupanya jendela itu tidak tertutup dengan benar dan angin membuatnya terbuka. Dilihatnya pemandangan di luar, entah mengapa malam itu terasa begitu sepi dan mencekam. Bulu kuduknya meremang, suasana malam ini begitu berbeda. Segera ia menutup kembali jendela itu dan kembali ke ranjangnya.
Sebelum tubuhnya menyentuh permukaan ranjang, terdengar sebuah teriakan. Teriakan seorang pria yang ia rasa mirip dengan suara Hogan. Anehnya, suara itu seperti berpadu dengan lolongan serigala.
Belga berlari menuju pintu, ia berusaha membukanya namun pintu itu terkunci. "Sial! Siapa yang menguncinya?!" ia masih bergerak untuk membuka knop pintu.
"Kau tidak boleh keluar, Belga." sebuah suara terdengar di kepalanya. Suara yang sering datang di saat-saat tertentu. Suara itu terdengar seperti berasal dari sosok lain di dalam dirinya. Tak jarang suara itu membuat Belga pusing dan memukul kepalanya sendiri
Wahai pemilik suara di kepalaku, jika kau memang bukan dari halusinasiku, aku ingin kau menjawab pertanyaanku, setelah bertahun-tahun, Belga memberanikan diri untuk berbicara dengan suara itu. Kau tau lolongan dan teriakan itu milik siapa? Jika kau tau, jawablah.
"Nanti kau akan tau, sekarang, jangan keluar atau kau akan terluka." suara itu menjawab. Belga terkejut, ada sosok lain dalam dirinya. "Hiraukan saja suara itu dan kembalilah tidur."
Belga tak menemukan jawaban, ia memutuskan untuk tidak mendengarkan suara di kepalanya. Gadis itu takut jika sesuatu terjadi di luar sana. Beberapa menit ia berusaha membuka pintu, akhirnya ia menyerah. Ia terduduk di depan pintu. Suara itu tak lagi terdengar. Jika kembali dipikirkan, ia teringat pada apa yang dikatakan Hogan tadi.
"Apa ini alasan Hogan melarangku untuk keluar? Sampai-sampai ia membuatku terkurung di dalam sini."
Matanya menangkap bulan yang terlihat penuh dari balik jendela saat sebuah suara geraman terdengar dari balik pintu. Belga berdiri, ia meletakkan telinga kirinya di dekat pintu. Sepertinya ada seseorang di balik sana.
Suara knop terdengar, Belga mundur beberapa langkah menunggu siapa yang datang. Pintu terbuka perlahan, samar-samar terlihat sebuah bayangan makhluk besar. Semakin pintu itu terbuka semakin jelas.
Serigala besar yang ia jumpai hari itu. Serigala besar dengan sorot mata tajam yang berjalan perlahan menuju dirinya. Belga terus berjalan mundur sampai punggungnya sudah menyentuh dinding. Nafasnya semakin memburu saat serigala itu mengendus lehernya.
Belga meraih gagang jendela dan berusaha membuka jendela itu, namun serigala itu dengan cepat menghalanginya.
"Kau tidak bisa pergi dari tempat ini, Mate," suara terakhir yang Belga dengar dari arah serigala itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.