Pavinone ; 18xx
Sebuah usapan lembut membangunkannya, Belga terbangun dengan Hogan yang duduk tepi ranjang. Belga segera bangkit dan mendudukkan dirinya, "selamat pagi, Mate," ucap Hogan setelah gadis itu bangun
"Selamat pagi," balas Belga. Ia menoleh ke arah jendela yang sudah menunjukkan pagi hari, "kau benar-benar menemuiku di pagi hari."
Hogan tersenyum tipis, "apa tidurmu nyenyak?"
"Aku mengalami mimpi buruk," Belga menggeleng ragu. Ia tak yakin itu mimpi atau bukan. Karena ia merasa kejadian itu begitu nyata.
Di samping itu, hati Hogan terasa tercabik. Ia membuat Matenya pingsan. Apakah Belga setakut itu pada bentuk serigalanya?
"Hogan," gadis itu membuyarkan lamunan Hogan. "Terjadi sesuatu?"
"Tidak."
"Kau sudah sarapan?"
"Aku menunggumu."
"Oh," Belga bergegas menuju ke kamar mandi. Ia tak mau Hogan menahan lapar lebih lama.
Selang beberapa menit ia selesai, mengintip dari balik pintu kamar mandi. Tidak mungkin ia keluar dalam keadaan seperti ini.
Ruangan itu kosong, sepertinya Hogan sudah pergi. Ia segera berjalan ke arah lemari dan mengganti bajunya. Pintu balkon terbuka tepat setelah Belga meletakkan sisir di meja riasnya. Ia memekik terkejut karena tidak tau kalau sedari tadi Hogan berada di sana.
"Apa?" tanya Hogan.
"Kenapa kau masih di sini?"
"Aku menunggumu," Hogan menarik tangan gadisnya. Ia menuntun Belga ke ruang makan. Ruangan itu luas tapi hanya mereka berdua yang berada di sana.
Tidak banyak percakapan saat mereka menyantap sarapan. Belga yang tidak biasa makan dengan banyak bicara, lalu Hogan yang faham karena Belga hanya memberikan jawaban singkat saat ia memulai percakapan.
Selesai mereka menyantap sarapan, Hogan mengajak Belga untuk keluar kastil. Di sebelah kiri bangunan terdapat sebuah sungai yang mengalir ke belakang kastil. Sungai itu sangat jernih sampai mereka bisa melihat bebatuan di dasarnya.
Belga sedikit berlari menuju batu besar di tepi sungai. Sekian lama rasanya ia tidak bermain di dunia luar. "Hati-hati, Mate," Hogan berteriak ke arah gadis itu. Ia segera menyusul Belga yang berusaha memanjat batu itu.
Tubuhnya yang terlihat mungil dibandingkan batu itu membuat Hogan sedikit ngeri. Ia takut Belga terjatuh, namun ia salah. Rintangan seperti itu bukan masalah besar baginya, walaupun ia terlihat sedikit mengalami kesulitan karena gaunnya, ia berhasil.
"Apa kau sudah nyaman berada di sini?" ucap Hogan setelah mendudukkan dirinya di samping Belga.
"Aku merindukan duniaku yang dulu. Di tempat ini, aku hanya menghabiskan waktuku di dalam kastil, bahkan kau tidak mengizinkanku pergi ke tempat latihan para warrior." ucapan Belga dengan nada lemas. Sejujurnya, ia selalu ingin melompat dari kamarnya dan kabur. Namun, tempat itu terlalu tinggi dan ia juga tak tahu arah.
Sebenarnya, ia tak benar-benar menghabiskan waktunya di kastil. Walaupun Hogan melarangnya untuk bermain dengan senjata, ia tetap melakukannya saat pria itu pergi. Selama ini, ia membungkam mulut Beta Jarome agar tidak mengadu kepada Alphanya. Sebagai ganti, Jarome selalu berada di belakang Belga untuk menjaganya.
"Karena kau bukan lagi seorang prajurit di sini," Hogan memindahkan posisinya. Ia meletakkan kepalanya di pangkuan Belga. Gadis itu tak tau apa yang harus ia lakukan. Tubuhnya mematung saat Hogan memperlakukannya seperti itu. "Kau harus terbiasa, kita akan melakukan sesuatu yang lebih dari ini," ucapan Hogan setelah melihat raut muka Belga.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADOLPHINE: Ddeungryu [END]
Manusia SerigalaHai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, itu adalah suatu ketidaksengajaan. Aku disebut-sebut memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, pada...
![ADOLPHINE: Ddeungryu [END]](https://img.wattpad.com/cover/317779042-64-k63586.jpg)