Hai, namaku Rubelga. Aku tergabung dalam barisan prajurit khusus untuk mengawal Ratu di istana. Sebenarnya, itu adalah suatu ketidaksengajaan. Aku disebut-sebut memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, pada...
"Dia masih belum bangun?" ucap Hogan memasuki sebuah ruangan dimana Belga masih terlelap. Ia khawatir karena terhitung lima hari sudah gadis itu tak kunjung mendapatkan kesadarannya kembali.
"Belum, Alpha. Ia masih bernafas dengan normal namun tak kunjung sadar," ucap seorang perempuan yang tidak lain adalah tabib. Ia rutin memeriksa keadaan Belga atas perintah Hogan, namun hasilnya sama saja.
"Kau bisa pergi," ucap Hogan meminta tabib itu keluar. Ia mendekat ke arah ranjang dan duduk di tepinya. "Sesakit itu, ya? Sampai Kau tak kunjung bangun?" dialognya pada gadis yang masih tertidur itu. Ia menatap sendu Belga sembari menggenggam tangannya. Tiba-tiba saja ia teringat pada seseorang yang mungkin bisa membantu.
"Beta Jacob, panggilkan Sierra," mindlink Hogan kepada Betanya.
Sierra adalah seorang wanita yang sudah hidup sejak Ayah Hogan masih menjadi seorang Alpha. Ia adalah salah satu orang yang dipercaya mengetahui sejarah panjang bangsanya. Wanita itu juga sudah biasa membantu keluarga Hogan ketika mereka mengalami kesulitan. Bisa dibilang, Sierra adalah paranormal di pack.
"Baik, Alpha."
Selang beberapa menit, tampak seorang wanita berjalan di belakang Jacob. Mereka masuk setelah mengetuk pintu. "Salam, Alpha," ucap Jacob dan wanita yang tidak lain adalah Sierra itu.
Wanita itu mendekat ke arah Hogan, pemuda itu berdiri dan membiarkan Sierra menggantikan posisi duduknya. Wanita itu mengambil telapak tangan Belga, ia tampak menekan bagian tengah telapak tangan gadis itu. Tak berapa lama, Belga mulai menunjukkan pergerakan, ia membuka matanya perlahan.
Hogan merasa lega, ia berjalan mendekat. Ia terdiam beberapa saat, merasa tidak percaya bahwa gadis itu adalah Matenya. Sierra membuka suara, "Alpha, ada sesuatu yang ingin Saya bicarakan dengan Anda."
"Tinggalkan kami di sini, aku akan menemuimu sebentar lagi," ucap Hogan tanpa melepas atensinya ke arah Belga. "Bawakan makanan untuknya," ucapnya lagi kepada Jacob yang berdiri tak jauh dari ranjang.
Sierra dan Jacob berjalan keluar, meninggalkan Belga dan Hogan. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Hogan.
Belga tak memberikan jawaban selama beberapa detik, ia berusaha duduk dan membuat Hogan terkejut. Pria itu membantu gadisnya untuk duduk, "siapa Anda, Tuan?" akhirnya gadis itu membuka suara. "Apa aku sudah di surga?"
Jawaban Belga membuat Hogan terkekeh, "bukan. Ini rumahmu."
Ucapan pria itu membuat Belga bingung, kamar itu tidak seperti kamar di rumahnya. Sesaat ia menyimpulkan bahwa ia sudah di surga, namun ia merasakan kebas di telapak tangan kanannya. Apa di surga bisa merasakan rasa sakit?
"Aku hanya seorang prajurit biasa jika Anda menjadikanku tawanan, itu akan sia-sia."
"Aku tidak menjadikanmu tawanan."
"Lalu?"
"Makanlah dan bersihkan dirimu, aku akan menceritakannya nanti." Suara ketukan dari pintu terdengar, beberapa orang masuk membawakan meja kecil dan makanan. Mereka meletakkan meja kecil itu di depan Belga kemudian berdiri di dekat pintu sembari menundukkan kepala mereka.
Belga menatap makanan-makanan dan orang-orang itu bergantian kemudian menatap Hogan dengan tatapan penuh pertanyaan. Pria itu mengambil sedikit bagian dari makanan di depan Belga kemudian memakannya, "lihat? Aku tidak memberimu racun."
"Ku harap kau makan dengan baik, sudah lima hari kau tertidur tanpa sedikitpun makanan yang masuk," ucapan Hogan membuat Belga terkejut. Ia merasa hanya tidur sebentar saja setelah rasa panas menyerang tubuhnya. Hal terakhir yang ia lihat adalah serigala besar datang menghampirinya. Namun, sekarang ia malah berada di sebuah kamar mewah khas kerajaan.
"Lima hari?!" Hogan mengangguk. Ia tak berhenti melepaskan pandangannya ke arah gadis itu. Belga yang tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya mulai mengambil suapan pertama. Matanya melirik gelisah ke arah orang-orang di ujung sana.
"Kau ingin sendiri?" tanya Hogan seakan paham dengan apa yang membuat gadis itu gelisah. Belga mengangguk sedikit ragu. "Pergilah," ujarnya pada orang-orang itu.
"Baik, Alpha." ucap mereka sebelum menghilang di balik pintu.
Kini Belga beralih ke pria itu. Pria pemilik tatapan teduh dan tajam di saat yang bersamaan. Sesuatu membuat Belga merasa pria ini bukanlah orang jahat. Ia merasa bahwa pria itu tidak memiliki niat untuk menyakitinya. Atau mungkin pria itu yang akan menjaganya?
Hogan beralih ke sebuah lemari besar di depan kasur, ia mengeluarkan sebuah gaun cantik berwarna putih keabuan. Ia meletakkan gaun itu di ujung ranjang, "bersihkan dirimu, pakaianmu kotor. Aku akan meminta para Omega menyiapkan air hangat untukmu." Hogan mengulas senyum tipis sebelum pergi meninggalkan Belga sendiri di ruangan itu.
Belga masih mengunyah santapannya dengan segala kebingungan. Apakah ia sedang berada di sebuah penginapan? Orang-orang memperlakukannya seperti seorang ratu. Jika benar, tamatlah riwayatnya. Ia tidak membawa uang sepeserpun untuk membayar semua itu.
___
Beralih pada Hogan yang berjalan menuju sebuah ruang. Di ruangan itu tampak Sierra dan Jacob yang tengah berbincang, "apa yang ingin kau katakan, Sierra? Apa dia baik-baik saja?"
"Begini, Alpha Hogan," wanita itu bersiap untuk mengatakan sesuatu yang ia temukan saat bertemu dengan Belga. "Saya mendapat satu dugaan setelah membantunya tadi, namun saya tidak bisa mengatakannya sekarang."
"Lalu? Seperti itu saja? Kau meminta waktu untuk membicarakan hal yang bahkan masih kau ragukan?" Hogan melempar pertanyaan itu dengan nada datar. Ia kesal karena Sierra membuat waktunya bersama Belga berkurang.
"Bukan seperti itu, Alpha. Saya meminta bantuan Anda jika suatu saat Saya membutuhkan sesuatu untuk penyelidikan, Saya perlu memastikan beberapa hal sebelum membuat kesimpulan."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.