22. Apalagi?!

572 137 32
                                        

Pavinone ; 18xx

"Jadi, aku harus menunggu dia mengalami pendarahan agar tahu nasib anakku?" Hogan menaikkan intonasi bicaranya karena kesal. "Kalau kau tidak tahu cara mengobatinya, setidaknya kau tahu bagaimana keadaanya."

"M-maaf Alpha, tapi hanya itu yang bisa saya beritahukan," jawab seorang wanita yang menunduk ketakutan. "Bius yang masuk ke tubuh Luna cukup mengganggu pertumbuhan janinnya. D-ditambah lagi, tubuhnya yang-"

"Aku tahu!" potong Hogan. Ia marah karena baru mengetahui tentang keadaan Belga. Rasa menyesal menyelimutinya, ia merasa gagal. Mengingat Belga yang dikurung selama beberapa hari, kemudian bertarung dengan neneknya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakit yang Luna nya rasakan.

Beruntungnya ada Jacob yang berada di belakang mereka, "tolong tenanglah, Alpha," ucap pria itu.

Tanpa mereka sadari, Belga sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Hogan adalah orang yang pertama kali mengetahui keberadaan gadis itu. Ia segera memerintahkan Jacob dan wanita di sampingnya untuk pergi.

"Mengapa kau sangat kasar?" ucap Belga saat Hogan menuntunnya duduk di sofa. "Seharusnya kau berterima kasih kepadanya."

"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan sekarang?"

"Aku merasa lebih baik."

Hogan duduk berlutut di depan Belga, ia menggenggam erat tangan wanitanya seakan dunia akan merebutnya jika terlepas. "Mengapa kau tidak bilang kepadaku?" tanya Hogan.

"Aku belum sempat bertemu denganmu, Hogan," ia menjawab.

"Kau pasti merasakan gejala sebelumnya, mengapa kau hanya diam?" Belga terdiam karena merasa bingung menjawab pertanyaan pria itu. "Sejak kapan kau merasakannya?"

"Sejak... Aku bertukar tubuh dengan Raulla."

Hogan menarik nafas panjang, "dan kau sudah mendengar semua yang tabib katakan, bukan?'

Belga mengangguk, "maaf, aku telah membawanya bertarung." Ia menghentikan ucapannya sejenak, "aku sempat berpikir kalau kau tidak akan mencariku lagi." Belga teringat saat ia hampir menyerah saat Ursula hendak membunuhnya. Namun, sosok bayi di perutnya membuat Belga bertekad untuk keluar pergi dari kastil Julien.

"Tidak mencarimu lagi? Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu?" Belga hanya menundukkan pandangannya. Hogan menarik dagu Belga agar bisa menatap matanya, "jangan memalingkan pandanganmu dariku, Luna."

Belga yang masih enggan menatap pria itu berusaha keras agar tatapan mereka tidak bertemu. "Aku pantas disalahkan jika bayi ini tidak selamat," ucapannya membuat Hogan tersentak.

Pria itu menangkup wajah Belga dan menatapnya lekat-lekat, "nenekmu lah yang pantas disalahkan," kalimat yang dilontarkan Hogan terdengar menusuk. Amarahnya benar-benar memuncak saat mengingat perbuatan keji yang dilakukan Ursula. "Tidak apa jika bayi itu pergi, asal dia tidak membawamu pergi bersamanya."

Sorot mata Belga memudar, air mata mulai menggenangi matanya. Sontak, Hogan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia tak sanggup melihat sosok yang amat dicintai menitihkan air mata. Dengan posisi yang sama, Belga mengeluarkan tangisnya. Kesedihan ia rasakan karena karena kehilangan orang yang merawatnya, serta pengorbanan Sierra. Ia tidak menyangka kalau jalan hidupnya menjadi lebih runyam.

"Apa kau membawa tubuh nenek dan Sierra?" tanya Belga tiba-tiba.

"Hanya Sierra."

Belga menarik tubuhnya, ia menatap Hogan dengan tatapan serius, "mengapa?"

"Dia tidak pantas mendapatkannya, biarkan dia menjadi bangkai di dalam kasti Julien."

"Dia nenekku!"

"Dia melukaimu, Mate."

ADOLPHINE: Ddeungryu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang