Ra, perlu gw temenin ke dalam ga?"
"Ga usah Van, lo temenin Jesse aja ya di luar. Gw takut kalau dia ikut masuk malah ketakukan ngeliat gw diperiksa" jawab Rara sahabatku, orang yang selalu menguatkan dan menghiburku saat aku dalam keadaan terlemah. Sekarang akulah yang gantian membantu dia melewati kekuatirannya.
"Oke deh Ra...kamu harus yakin kalau hasilnya pasti akan baik-baik saja ya"
"Sipp...ya sudah aku masuk dulu ya, sudah dipanggil lagi nih sama dokter" Rara menjawabku.
Jadilah aku di luar menemani Jesse yang sedang bermain di salah stu sudut rumah sakit ini. Hari ini aku menemani Rara ke dokter kandungan karena suaminya sedang tugas ke luar kota. Rara merasa ada yang aneh pada rahimnya karena akhir-akhir ini dia merasakan nyeri yang luar biasa ketika dia sedang mendapatkan tamu bulanannya. Aku menyarankan dia untuk segera memeriksakan hal tersebut supaya segera diketahui apa penyebabnya dan jika ada apa-apa dapat segera diobati. Selama ini Rara menjadi orang yang selalu berada disampingku melewati kesedihanku. Sekarang saatnya aku ada buat dia, minimal menemani dia saat ini yang aku yakin pasti sedang cemas luar biasa menanti hasil pemeriksaannya.
"Jesse...jangan terlalu jauh nak, nanti kamu bisa hilang" teriak ku ketika melihat Jesse berlari-lari agak menjauh dari ruang tunggu pasien ini.
"Ya Tante, aku ga akan jauh - jauh kok" jawab Jesse.
Aku mengambil handphoneku di tas, mencoba untuk memeriksa apakah ada telepon atau pesan di handphoneku. Ah rupanya ada obrolan di grup chat sahabat-sahabatku, cukup banyak yang mereka bicarakan sehingga tanpa sadar membuatku senyum-senyum sendiri membaca kalimat teman-temanku yang lucu dan nyeleneh, tetapi tak lama aku tersadar kalau udah senyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba Jesse datang dan mengatakan padaku kalau dia lapar, dengan sigap ku buka kotak makanannya dan kusuapi dia karena memang sudah waktunya Jesse untuk makan. Jesse makan sambil bermain-main di ruangan ini.
"Itu anaknya ya? Cantik sekali seperti kamu" aku refleks menoleh kesamping mendengar pertanyaan seorang ibu kepadaku.
"Eh...bukan bu, itu anak teman Saya" aku menjawab.
"Saya kirain anak kamu karena saya lihat kamu sayang dan perhatian sekali pada anak itu".
"Oh Jesse memang sudah Saya anggap seperti anak Saya bu, kami sering menghabiskan waktu bersama makanya jadi keliatan akrab" kataku pada ibu tadi.
"Nama kamu siapa nak?" Tanya ibu itu.
"Nama Saya Vanka bu" jawabku sambil mengulurkan tangan dengan hormat pada ibu itu.
"Panggil saja Saya ibu Mathilda" ibu itu juga menyambut uluran tanganku.
"Senangnya kalau sudah mempunyai cucu, pasti Saya bisa setiap waktu menghabiskan waktu dengannya sambil bersenda gurau dan bercerita apapun"
"Oh maaf, apakah putra atau putri ibu belum memberikan cucu buat ibu?" dengan ragu ku tanyakan padanya dengan hati-hati. Agak aneh juga sih melihat penampilannya yang bisa dibilang sudah tua tetapi belum mempunyai cucu juga. "Eh tapi bukan urusanku juga kan" aku berucap dalam hati karena lancang bertanya hal itu.
Ibu Mathilda menjawab sambil tersenyum " bagaimana mau mempunyai cucu kalau anak saya belum ada yang menikah" . "Anak Saya yang kecil masih sibuk kuliah, sementara yang sulung belum mau menjalin hubungan lagi karena belum bisa melupakan kegagalannya" Ibu Mathilda menjelaskan panjang lebar padahal aku tidak kepo menanyakan itu padanya. "ooh...gagal move on, eh lhaa kok dia curhat" aku tersenyum geli dalam hati. Tapi aku melihat kesedihan dalam matanya, jadi mau tak mau aku mendengarkan dia berbicara mengenai anak-anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Hati
RomanceAku mencintainya dengan segenap hatiku. Kuberikan pengabdian tiada batas untuknya. Kuletakkan kesetiaanku pada tempat yang paling tinggi. Tapi... Itu semua hanya menjadi keping yang terserak tanpa bisa dipungut lagi. Aku berharap melabuhkan bahtera...
