“Kau tidak bisa menyentuhnya!!” teriakan James memekakkan telinga. Cedric hanya tertawa di ujung panggilan sambil mengetuk-ngetuk meja dengan sebuah kuas kering. “Jangan sedikitpun kau menyentuhnya atau kau akan mati!!”
“Bagaimana mungkin kau bisa membunuhku, James Arthur yang terhormat?” Cedric lebih cenderung mengejek dibanding memberi pertanyaan yang sebenarnya dapat dijawab oleh lawan bicaranya. “Ahh aku lupa. Kau memang sangat pandai dalam hal membunuh bukan?” Cedric menjeda ucapannya, “Kekasih yang tega membunuh kekasihnya?”
“Apa maksudmu?” James mempercepat laju kendaraannya. Batas kecepatan jalan tak berlaku padanya saat ini. Yang ada di pikirannya hanya Alice dalam keadaan baik-baik saja dan tentu tak terluka sedikitpun karena ulah pria sialan itu.
“Jangan pura-pura bodoh! Atau kau memang pria bodoh yang hanya mengenakan topeng di hadapan Megan?”
James mengumpat. Ia hanya mampu memukul setirnya sekarang untuk pelampiasan emosinya yang memuncak. Andai saja pria itu ada di hadapannya, maka satu pukulan telak pasti sudah tepat menghancurkan wajahnya sekarang.
“Ahh, kupastikan kau tak akan lagi bisa menemui istrimu setelah ini James. Dia bersamaku dan—” Cedric berdecak sambil berjalan menuju kamar tawanannya di lantai atas. “—dan terima kasih karena pagi tadi kau sendiri yang mengantarkan istrimu untuk menemuiku.” Cedric melantangkan tawanya. “Aku tahu, kau benar-benar bodoh dan kau lebih suka menuruti istrimu yang jauh lebih bodoh dari yang kuduga.”
Bipp…
Cedric membuka kuncinya. Memasukkan ponsel itu ke saku celana sobeknya setelah memutus panggilannya tadi.
“Kau sudah membaik?” ujarnya santai menatap Alice yang terkejut melihat kehadirannya.
🖤
Tak ada yang bisa mencegah Cedric saat ini. Alice dibawanya pergi dengan tangan terikat dan mulut yang disumpal dengan kain yang menutup.
“Kau hanya harus menurut sekarang! Tidak ada lagi James Arthur. Tidak ada lagi sahabatmu, Keylie si bodoh. Kau hanya milikku sekarang! Kau paham, Alice?!” Cedric mengenakan sabuk pengaman pada Alice sebelum dirinya juga ikut bersiap untuk melaju menuju Hellmes. Kota terpencil di bagian tenggara negara ini.
Satu tangannya yang bebas melepas ikatan di mulut wanita yang hanya diam di sampingnya. Alice tak banyak melawan. Ia tahu ia akan selamat, ia yakin. Ia saat ini hanya akan mengikuti Cedric agar tak terluka sedikitpun. Biar dianggap bodoh, tak apa untuk Alice. Ia akan bermain dengan baik saat ini.
“Kenapa kau membawaku pergi? Bukankah besok pagi kau mengatakan akan memanggil pendeta untuk menikah? Apa kau mengurungkan niatmu?”
Tak peduli pada bagaimana Cedric menatapnya, Alice hanya berusaha untuk tenang.
“Aku tak menyangka jika kau menanyakan hal itu.”
Alice terus berdoa dalam hatinya agar penjahat di sampingnya akan berbaik hati untuknya. Sepantasnya sebuah harapan, tak ada yang mustahil di dunia ini. Begitu pula berharap keajaiban akan memihak padanya meski nyawanya sekarang menjadi taruhan di arena balap liar yang sengaja dilakukan Cedric.
Cedric sengaja menghindari kota dan melalui jalur tepi kota yang bebas hambatan untuk segera tiba ke tujuannya. Kota mati untuk para jiwa yang mati. Ya, Hellmes memang kota terpencil dan tak ada yang berminat untuk tinggal disana karena lokasinya yang jauh dari kota dan bangunan yang dibangun juga tidak selesai proyek. Banyak yang mengatakan jika bos proyeknya melarikan diri dan bangunan yang telah dibangun terlantar begitu saja disana. Tanpa penghuni. Lagipula siapa yang ingin menempati bangunan yang belum selesai dibangun. Tapi sialnya sekarang mereka menuju kesana. Malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARCANE [End]
FanfictionJames Arthur telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Membuat pria itu merasakan kehilangan yang sanggup menghancurkannya dalam waktu sekejap. Namun siapa sangka jika dia menemukan hal lain setelah mendapati sebuah surat di balik lukisan...
![ARCANE [End]](https://img.wattpad.com/cover/302961131-64-k853988.jpg)