Pergerakkan dari belakang punggungnya membuat pria itu membuka matanya. Dia menyipitkan matanya dan melihat ke jendela di depannya. Hari sudah siang, padahal dia belum tidur terlalu lama.
Sasuke mendecih pelan ketika pergerakkan itu kembali dirasakannya. Itu bukan ibunya. Kemungkinan besar itu adalah Karin. Pikir pria itu. Dia sedang tidak ingin meladeni gadis berambut merah itu.
Sasuke bangkit dari kasurnya tanpa menoleh ke belakang dan berjalan menuju jendela dan menatap pemandangan di luar rumahnya. Setelah melakukan itu cukup lama, dia membuang napasnya kasar.
"Apa sudah mendingan?" Bahu Sasuke menegang mendengar suara itu. Suara yang sangat dia kenali. Suara lembut yang selalu dia rindukan. Dia langsung membalikkan badannya dan menemukan sosok berambut merah muda tengah duduk di pinggir ranjangnya.
Sasuke mengedipkan kedua matanya berkali-kali untuk memastikan sosok yang ada dihadapannya itu nyata atau tidak. Ternyata benar, itu Sakura bukan Karin.
Kenapa gadis itu ada disini? Apa Sasuke benar-benar tidak sedang berhalusinasi? Dia melangkahkan kakinya perlahan mendekati gadis itu yang kini memandangnya lekat.
"Kau..." Sasuke menunjuk wajah gadis yang ada didepannya itu seolah masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Plak!
Sasuke menampar wajahnya sendiri untuk memastikan sekali lagi kalau dia tidak bermimpi. Dan ternyata dia tidak bermimpi karena tamparannya di pipinya sendiri itu terasa sangat sakit.
"Kenapa kau ada disini?" Sakura mengalihkan pandangannya dari Sasuke. Gadis itu menggerakkan emeraldnya ke kanan dan ke kiri untuk menghindari tatapan Sasuke. Dia menggigit bibir bawahnya gugup.
"Kata bibi Mikoto kau sakit." Sakura meremas kedua jemarinya dengan gugup dan masih menolak menatap Sasuke.
"Apa kau mengkhawatirkanku?" Sakura langsung berjengit kaget mendengar itu. "A... aku pikir sepertinya kau sakit gara-gara aku."
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Sakura kesini karena merasa bersalah padanya? "Jika kau hanya merasa bersalah tidak apa, kau bisa pulang." Sasuke hendak berjalan kekamar mandi namun pergelangan tangannya ditahan oleh gadis itu.
"Aku bukannya sakit karena kau. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah." Sasuke masih tidak mau menoleh ke arah Sakura. Pria itu masih memunggunginya.
"Aku... juga mengkhawatirkanmu. Saat bibi Mikoto bilang kau sakit selama seminggu... itu membuatku khawatir."
Sasuke terkejut mendengar kejujuran Sakura. Setelah mendengar itu, pria itu langsung membalikkan badannya dan melihat Sakura yang kini memalingkan wajahnya yang sudah memerah itu ke arah jendela. Tangan kecil gadis itu masih menggenggam pergelangan tangan Sasuke.
"Kau... mabuk?"
.
.
.
Sakura sudah berusaha untuk mempertahankan kesabarannya sejak tadi. Namun Uchiha Sasuke malah menanyakan apa dia mabuk. Perempatan siku kini sudah terbit di kening gadis itu.
"Aku pulang." Sakura melepas cengkramannya di pergelangan tangan Sasuke dan bangkit. Sasuke yang melihat itu, entah kenapa tidak rela dan menahan pergelangan tangan gadis itu.
"Kenapa pulang?" Sakura menatap Sasuke yang berada dibelakangnya dengan sinis. "Kau sepertinya sudah pulih, jadis aku akan pulang." Sakura berusaha melepaskan tangannya dari Sasuke.
"Uhuk! Uhuk... uhuk!" Sasuke yang tadinya terlihat sehat walaupun sebenarnya wajahnya masih pucat itu tuba-tiba batuk didepan Sakura. Pria itu juga memegangi kepalanya dan terlihat seperti akan tumbang jika Sakura tidak langsung memeganginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Break Up?
Fanfiction"Sasuke-kun, ayo putus." senyum di bibir sasuke seketika langsung hilang saat mendengar kata-kata yang paling ditakutinya itu. Disclaimer : Masashi Kishimoto Rated : T Genre : Romance Pair : SasuSaku Terinspirasi dari drama korea 'Our Beloved Summer'
