Aku menatap layar yang terpampang jelas di depan mata ku. Para bocah sialan itu menyadap Boboiboy. Cih,rendahan.
Aku yakin Wanwei menyadarinya juga. Ia bersungut tidak jelas,sepertinya geram.
Aku meremat hoodie yang aku pakai untuk meredam emosi. Sungguh. Benar benar mereka ini bebal sekali. Aku sudah muak dengan semua ini. Ingin sekali aku bunuh mereka satu persatu.
Terserah mau bagaimana Power Sphera di luar sana. Meski mereka tersiksa,aku tidak peduli. Aku hanya mau Adikku jauh dari masalah dan hidup dengan tenang.
Aku mencoba tenang dan terus menyimpulkan apa yang terjadi. 15 menit berlalu,kesimpulan ku masih sama. Semua ini direncanakan oleh mereka.
Aku tertawa dengan suara berat ku. Aku menelan ludah,lantas mencoba mengalihkan pandangan dari layar. "Reverse. Lihat!" Wanwei berseru membuat ku kembali menatap layar.
Hey,itu bukan anggota T.A.P.O.P.S yang ada di sana. Fang,Kaizo,dan Yaya masih ada,tapi,satu orang lainnya bukan kelompok mereka. Aku tau wajah itu. Sangat familiar.
...
Vashlar.
"Vashlar Arthaphera!" Seruku dengan nada tinggi-berdiri kesal. Wanwei menatap ku bingung sekaligus kaget. Orang itu. Orang itu adalah bawahan ku. Vashlar Arthaperha. Aku tau dia akan berkudeta suatu saat,tapi aku tidak menyangka dia akan serendah ini.
Aku mendapatkan kesimpulan baru. Puzzle ini..semua puzzle ini akan lengkap. Semua akan segera selesai.
"Wanwei,dengar,kita harus pergi dari sini sekarang juga." Titah ku yang membuat Wanwei berdiri bingung. Dia mengikuti langkah ku,mencoba menjajarkan tepatnya. Aku mengibaskan lengan ku kedepan,lantas semua rak,buku,sofa,dan layar tadi hilang,berganti ruang hampa udara yang berselimut warna putih.
Dia tidak cerewet kali ini. Dia lebih banyak diam dan memperhatikan. Aku senang dia sadar situasi. Aku menyukai dia ketika dia diam dan memperhatikan seperti ini. Membuatnya kelihatan dewasa dan bijaksana.
Aku menatap ke atas,lalu mengangkat tangan sedada. Ku lipat tangan ku,menyisakan telunjuk dan jari tengah ku,lantas ku satukan keduanya-ku kibaskan ke kanan.
Sedetik,ruang hampa udara serba putih di sekeliling kami langsung berubah menjadi kamar Boboiboy. Ah,manisnya dia memeluk guling dengan erat.
Baiklah,aku membuang waktu. "Wanwei,pergi ke kamar tamu. Ambil Headphone dengan warna biru gelap agak terang. Jangan menyentuh busanya" Kata ku bergegas mengambil topi Boboiboy.
Wanwei mengangguk takzim lalu segera turun melaksanakan titah ku. "Àmýřķ ğèķģh æķhțùm" Sesuatu muncul lalu terlempar berbarengan dengan suara ku yang menggema.
Flashdisk.
Flashdisk ini berbeda dengan Flashdisk modern tempat menyimpan file. Flashdisk ini disebut Amer. Flashdisk seperti ini hanya ada di tempat asal ku. Jelas sekali ini punya Vashlar.
Aku mengambil Flashdisk itu lalu menatap lekat benda itu-Flashdisknya menghilang. Aku mulai menyukai mata merah ku. Mata merah darah ku ini mempunya sinar Inframerah yang hanya bekerja pada benda benda dari tempat asal ku.
Wanwei kembali dengan barang yang aku minta. Baguslah dia tidak menyentuh busa Headphone ku itu,bisa bisa dia mati.
Aku mengambil barang itu,lantas mematahkannya menjadi dua. "HEY,HEY. AKU TAU KAU MEMILIKI BANYAK UANG,TAPI JANGAN MEMBUANG BUANG BEGITU!" Tutur Wanwei berteriak.
Ya Tuhan,dalam masa seperti ini kau masih bisa berkata begitu?
Aku memutar bola mata ku,lalu menyeret kursi belajar Boboiboy ke tengah tengah kamar. Wanwei hanya diam duduk di pinggir ranjang. Baguslah,dia diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Yang Telah Tiada 2 : Recall Every Single Memory
Fanfiction𝕸𝖊𝖓𝖌𝖎𝖓𝖌𝖆𝖙 𝕯𝖎𝖆. 𝖄𝖆𝖓𝖌 ỉᦔꫀ᭢ᡶỉᡶꪖక᭢ꪗꪖ 𝕾𝖊𝖑𝖆𝖑𝖚 𝕿𝖊𝖗𝖘𝖊𝖑𝖎𝖕 𝕯𝖎 𝕻𝖎𝖐𝖎𝖗𝖆𝖓 𝕶𝖚. 𝖄𝖆𝖓𝖌 𝕾𝖊𝖑𝖆𝖑𝖚 𝕸𝖊𝖒𝖇𝖆𝖜𝖆 𝕾𝖆𝖐𝖎𝖙 𝕶𝖊 𝕶𝖊𝖕𝖆𝖑𝖆𝖐𝖚 𝕾𝖆𝖆𝖙 𝕬𝖐𝖚 𝕸𝖊𝖑𝖎𝖍𝖆𝖙 𝕾𝖎𝖑𝖚𝖊𝖙 𝖂𝖆𝖏𝖆𝖍𝖓𝖞𝖆. ...
