𝕃𝕦𝕟𝕒𝕣'𝕤 ℕ𝕠𝕥𝕖 :
Beberapa jam ini aku sering larut dalam lamunan ku. Terkadang,sikiater yang menurut ku agak bodoh itu menangkap ku memperhatikan Boboiboy yang tengah berbincang dengan salah satu elementalnya yang katanya arogan dan narsis,tapi kecerdasannya melebihi ilmuwan.
Elemen itu namanya Solar. Wajahnya sebelas dua belas dengan Boboiboy. Jika tertawa,tangannya akan mengepal ringan untuk menutup mulutnya. Tawanya kecil,dengan sopan santun. Persis seperti Pangeran Mahkota Denierer. Ah,maksud ku Pangeran Mahkota Reverse.
Aku sering lupa betapa ia membenci nama Denierer itu. Entahlah,tidak pernah diceritakan olehnya alasan logisnya,tapi ia hanya bilang Beliau membenci nama itu.
Aku pikir,tata' krama itulah yang spesial,tapi,jika dipikir lagi,Elemen itu hanya potongan dari jiwa dan sifat Boboiboy. Pasti bukan itu.
Mungkin sekitar 3 hari aku bersama kedua manusia itu. Dan selama itu juga,aku terus memikirkan apa yang spesial dari seorang Boboiboy itu.
Siang itu,aku masih sibuk berkutat dengan laptop Psikiater sambil sesekali beralih pandang dengan Boboiboy dan Solar yang ada di dekat tangga.
Aku takut remaja itu kenapa napa. Bukannya apa,aku hanya takut Pangeran Mahkota tidak lagi mempercayai ku.
Hampir satu jam aku memandu Psikiater untuk mempelajari dimensi kami yang berbeda dengan dimensi Manusia.
Semua teknologi yang manusia dapatkan sekarang hanya 0010,01% Teknologi kami,yang bahkan dianggap remeh di dimensi kami.
Junlah kematian di dimensi kami bahkan tidak sampai satu persen jumlah kematian dunia manusia. Hal itu karna teknologi kami yang sangat pesat,dapat kami gunakan untuk menekan angka kematian.
Tapi,sesuatu yang baru aku pelajari dari dimensi manusia sedikit membuat pikiran ku bingung. Dark Web. Entahlah,di dimensi ku tidak ada Dark Web yang menampilkan informasi Ilegal. Semua web kami bersifat public sehingga semua informasi betul akurat dan aktual. Legal semua.
Anehnya,tak sedikit informasi Dark Web yang mengungkap sebagian besar teknologi dimensi ku. Sepelit itukah manusia sehingga tidak mau membagi informasi berguna seperti ini?,pikir ku.
Memakan sedikit waktu,aku mulai mengerti. Bukannya mereka pelit,hanya saja pemerintah membatasi segala informasi yang belum bisa diterima akal sehat. Seperti alat pembangkit mayat yang akan dikembangkan suatu negara bernama China.
Ada beberapa web berita yang menampilkan informasi itu,tapi dengan cepat Penguasa yang berwenang menimbun informasi itu. Info disini sangat dibatasi sehingga orang orang lebih memilih menguploadnya ke Dark Web.
Aku menyeritkan dahi seiring mata ku membaca informasi soal alat pembangkit mayat itu. Formulanya tepat,tapi cara penggunaannya salah. Kenapa mayatnya dibekukan? Kenapa tidak menggunakan cairan kimia?
"Hahahaha" tawa Boboiboy membuat ku mengalihkan pandangan. "Kenapa,Boboiboy?" tanya Psikiater. "Tidak apa apa. Apa kalian lapar?" Tanya Boboiboy pada kami.
Psikiater mengangguk cepat. Aku hanya seorang pengawal,tidak berhak menjawab. Aku kembali membaca paragraf informasi berikutnya,sampai mata ku dibuat membulat oleh pertanyaan Boboiboy.
"Lunar mau makan apa?" Tanyanya. Aku menengok kaget kearahnya. Aku tidak terbiasa. Sebelumnya,hanya Pangeran Mahkota yang menanyakan hal seperti itu. Itupun sudah lama sekali karna Pangeran pergi ke dunia manusia.
Aku sudah terbiasa dengan perilaku keluarga Dekh yang memaksa ku makan sekali sehari.
Sebelumnya,Ibu kandung Pangeran Mahkota yang biasa menanyaiku,hal itu menular ke Pangeran Mahkota. Tapi,semenjak Ibu Tiri Pangeran datang dengan segala kesombongannya para pelayan hanya dibiarkan terus bekerja dengan minimnya makanan.
Pengawal dan tentara perang hanya dapat makan semangkok gandum setiap harinya. Para rakyat lebih parah lagi. Bahkan belum tentu mereka dapat makan.
"Tidak perlu,Tuan Muda" jawab ku sekenanya setelah cukup lama melamun. "Nanti Lunar sakit" Mata ku membulat lagi mendengar pernyataannya.
Aku diam. Membiarkan semua mata memandang ku heran ditemani dentuman suara jam yang mengisi ruang telinga.
"Lunar..?" Aku tersadar dari lamunan ku seiring suara Solar terdengar. "Ah,maaf,Tuan Muda. Sekenanya saja. Terserah Tuan Muda" Aku menunduk sekilas,lalu kembali mencoba fokus ke layar laptop.
"Mhm,baiklah. Lunar ada alergi,tidak?" Aku bergetar mendengar tanyanya kembali. Aku menggeleng samar untuk menyembunyikan keterkejutan ku.
"Kalau begitu,menu kita disamakan saja ya. Tunggu 15 menit lagi!" Tuan Muda bergegas turun ke bawah,lalu Psikiater. Tersisa Solar dengan ku.
Solar menghampiri ku yang duduk menunduk. Aku sudah tidak bisa fokus lagi. "Kau sudah tau apa yang spesial darinya,Lunar?" Aku tertegun lantas menengok ke arah Solar.
Sebelah matanya merah. "Pangeran Mahkota!" Seru ku lalu membungkuk. "Berdirilah. Jangan terlalu sering membungkuk,tulang punggung mu akan bengkok nanti." Katanya.
Aku mengangguk halus,tapi tetap menunduk. "Gunakan waktu mu disini untuk belajar menyayangi seseorang,Lunar. Jangan terus membuat ku menjadi satu satunya kesayangan mu. Kau paham? Ini perintah." Aku mengangguk dengan bibir bergetar.
"Bagus. Jaga dia. Temukan jati diri mu. Vashlar sudah mulai termakan perangkap,tetap pada rencana awal,ya?" Aku mengangguk lagi,lalu Solar kembali seperti semula. Arogan.
"Dengar tuh,apa kata Pangeran mu. Jangan diam diam terus. Percuma,kau tidak akan sekeren Halilintar atau bahkan aku. " Katanya lalu pergi.
Terserah dia lah. Masa bodoh.
Aku kembali duduk terdiam di depan laptop Psikiater. Tapi,aku sama sekali tidak terfokus kesana.
Aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakan kesamaan antara Pangeran Mahkota dengan Tuan Muda. Aku baru sadar. Cara mereka menatap..
Cara mereka memandang orang lain..
Cara mereka menghargai seseorang..
Cara mereka berpikir tentang orang lain..
Itu yang spesial darinya. Dari Tuan Muda. Benarkan..?
Pikir ku saat itu. Tapi,semakin kesini,aku semakin tercengang dalam. Semakin mengangumi sosok Tuan baru ku yang punya surai hitam kecoklatan dengan seutas surai putih membentang kecil.
Semua semakin jelas setiap detiknya. Dan semua itu,akan aku gambarkan dalam setiap kata dalam bahasa manusia yang agak asing bagiku.
Dan nanti,akan ada waktu,dimana semua kesedihan Pangeran Mahkota pada kalanya akan terbayar,dengan kembalinya sang Adik yang wafat.
________________________________________________________________
Author's Note :
Hell,nah. What take ya so long,boy?
Chapter 23 ~ Progress...%
Author cukupkan sampai disini.
Haii lagi. Mau tau funfact?
Yap,Afa diliburkan seminggu. Kayakny kedepannya bakal sering up nih. Biar cepet kelar juga. Otak sudah memproses story baru soalnya,ngehehe.
Well,Afa enggak tau mau bahas apa juga,so,Afa kasih tau satu hal lagi.
Ada spoiler disana. Ngahahaha,kalo kalian peka sama kalimat kalimat yang agak sepele,pasti dapet spoiler next chapter. Mhm,kalian peka g? //Plakk
Yah,udahlah. Garing.
Makasih yah,mau luangin waktu baca Chapter 23,luangin waktu membaca ocehan Afa,dan ngasih vote juga. Makasi banget
(*´ ˘ '*)
Maaf yah,soal typo,dan alur yg makin lama makin aneh. Makin fantasi genrenya,yaw.
'Kay,Hope y'all still want to read this story
See ya again!
Arigatou,and
Sayonara!ヾ(๑╹◡╹)ノ"
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Yang Telah Tiada 2 : Recall Every Single Memory
Fanfiction𝕸𝖊𝖓𝖌𝖎𝖓𝖌𝖆𝖙 𝕯𝖎𝖆. 𝖄𝖆𝖓𝖌 ỉᦔꫀ᭢ᡶỉᡶꪖక᭢ꪗꪖ 𝕾𝖊𝖑𝖆𝖑𝖚 𝕿𝖊𝖗𝖘𝖊𝖑𝖎𝖕 𝕯𝖎 𝕻𝖎𝖐𝖎𝖗𝖆𝖓 𝕶𝖚. 𝖄𝖆𝖓𝖌 𝕾𝖊𝖑𝖆𝖑𝖚 𝕸𝖊𝖒𝖇𝖆𝖜𝖆 𝕾𝖆𝖐𝖎𝖙 𝕶𝖊 𝕶𝖊𝖕𝖆𝖑𝖆𝖐𝖚 𝕾𝖆𝖆𝖙 𝕬𝖐𝖚 𝕸𝖊𝖑𝖎𝖍𝖆𝖙 𝕾𝖎𝖑𝖚𝖊𝖙 𝖂𝖆𝖏𝖆𝖍𝖓𝖞𝖆. ...
