"Feel better, Nan?"
Suara lembut menyapa telinga Jinan pagi itu. Ia sudah siap dengan jaket kulit hitamnya dan tersenyum pada Shani yang baru datang.
"Udah, Ci. Tinggal nunggu jahitannya kering."
Shani mengangguk, ia mendekat ke arah Jinan dan memberikan sebuah tablet yang layarnya menunjukkan artikel dari portal berita besar di negara.
Sindikat Perdagangan Manusia Terbongkar di Pulau Utara. Ratusan Orang Selamat, 8 Orang Pahlawan Tidak Dikenal jadi Idola Baru Masyarakat.
Jinan tersenyum miring setelah membacanya, "what a long words for a headline." Shani ikut tersenyum dan kembali mengambil tablet itu dari tangan Jinan.
"Bos mereka ternyata orang Taiwan. Sekarang sedang pengejaran aparat."
"Kalau ga ketangkep tolong ajuin kita, Ci. Aku dendam banget sama dia. Apalagi liat anak-anak disana saat itu..."
Entah hanya Shani yang merasa atau mungkin Jinan sekarang lebih sering bicara dan emosional? Hatinya menghangat? Entahlah.
"Aku minta kamu lebih hati-hati mulai sekarang, Nan. Meski kita jadi teman pemerintah secara 'underground', bukan berarti kita tidak punya musuh. Mungkin banyak yang tidak suka dengan kita." Jinan mengangguk, tentu ia tahu hal itu. Hal dasar yang harus diwaspadai oleh semua orang ketika melangkah.
"Oh ya, Ashel dan Marsha sudah bangun semalam. Mereka koma 2 hari satu malam dan itu buat khawatir semua orang."
Belum ada yang tahu apa yang terjadi saat itu karena Marsha dan Ashel belum juga sadar. Justru keadaan mereka semakin drop hingga dinyatakan koma. Beruntung mereka bisa melewati itu sampai sekarang sudah siuman.
Keadaan Jinan juga semakin membaik hari ini, setelah pecahan-pecahan peluru itu diambil dari tubuhnya, ia harus mengurangi gerakan yang bisa membuat jahitan di perutnya kembali terbuka. Dan karena sudah hari ke 3, jahitan itu sudah mulai mengering.
Jinan memang tidak memiliki kekuatan bulletproof, tapi regenerasi lukanya cukup cepat dibanding manusia biasa.
"Belum bisa ditanya, Ci?" tanya Jinan. Shani lantas menggeleng dan berdiri dari duduknya diatas meja kamar Jinan.
"Kita tunggu mereka membaik dulu, tim kamu aku nonaktifkan sampai semua pulih, Nan." Jinan membalas anggukan pada Shani. Gadis itu kemudian berjalan keluar tapi saat sampai di pintu Jinan memanggilnya lagi.
"Ci, aku mau tanya. Nama tim Kak Kinal dulu apa?"
Shani menggelengkan kepala, "they don't have a specific name, Nan. People just knew them as The Pioneers."
"Boleh aku beri nama tim ini, Ci?"
"Of course, apa nama yang kamu pikirkan, Nan?" Senyuman Shani kembali mengembang, ia menatap Jinan dengan teduh. Bak virus, senyum Shani langsung tertular ke gadis yang lebih muda darinya itu.
"Valkyrie, Ci."
* * *
Saat sampai di dapur, Jinan melihat semua sudah berkumpul disana kecuali Ashel dan Marsha. Bahkan Ci Shani ikut sarapan pagi ini. Jinan langsung mendekati Gracia yang tengah memasak entah apa, tapi ia ingin menggantikannya memotong sayur.
"Eit! Mau apa kamu, Nan?" tanya Gre, tangannya mengambil alih pisau dari tangan Jinan begitu saja.
"Bantuin, kan?" Gracia menggeleng sambil mendorong Jinan agar ke meja makan saja, "ga, ga ada kamu bantuin aku hari ini. Posisi kamu udah digantiin Zee sama Ara. Mereka aku hukum."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐕𝐚𝐥𝐤𝐲𝐫𝐢𝐞
FanficPembalasan dendam akan datang pada saat era baru. Dua kubu yang saling berseberangan harus membunuh terlebih dahulu sebelum mereka terbunuh. Jatuh cinta, tidak ada dalam pilihan. Tapi pemberontak akan selalu ada. Another JKT48 story. gxg HeroesLeg...
