Bab 1 : Duka Marissa

129 7 0
                                    

"Buuun!!!"
"Bundaaa!"
"Buka pintunyaaa!"

Marissa terhenyak dari lamunannya. Sekelebat bayangan Tyara pun menghilang. Didengarnya teriakan Sava. Dengan tergesa ia pun berlari membuka pintu. Dilihatnya Sava yang berdiri dengan wajah cemberut. Entah sudah berapa lama ia menunggu.

Sava mencium tangan Marissa. Lalu dengan gontai menyeret tas sekolahnya masuk ke dalam kamar. Marissa mengejarnya dengan perasaan bersalah. Entah sudah berapa kali ia membiarkan Sava harus menunggu lama untuk dibukakan pintu sepulang sekolah. Ia bahkan sudah tidak dapat lagi mendengar suara mobil sekolah yang mengantarnya pulang.

"Maafin Bunda ya, Nak?" Marissa mengecup rambut Sava. Meraih tas sekolah dari tangannya dan meletakannya di atas meja belajar. Diperbaikinya kunciran rambut Sava yang berantakan lalu disekanya bulir-bulir keringat dari kening anak tercintanya itu dengan tisu.

"Bunda ngelamunin Tante Tya lagi, ya?" Sava menatap Marissa dengan wajah yang masih cemberut. Membuat Marissa semakin merasa bersalah. Ia bahkan tak berani memandang kedua mata polos itu. Ia hanya terdiam. Lalu mengalihkan perhatian Sava dengan mengambilkannya baju ganti dari dalam lemari dan membantunya membuka seragam sekolahnya. Namun ketika ia akan mengenakannya, Sava pun menolak.
"Bun, Sava tuh, sekarang udah kelas dua SD. Bunda lupa ya, Sava kan, udah bisa pakai baju sendiri dari TK?" Tukas Sava lagi seraya mengenakan sendiri kaos dan celana pendeknya. Pakaian pavoritnya saat di rumah.

Marissa tersenyum dan mengangguk. Pura-pura lupa. Padahal ia hanya ingin lebih dekat dengan anaknya yang sangat mandiri itu. Terkadang ia sangat merindukan mengurus Sava seperti saat kecil dulu. Ia berharap kerepotan mengurus anaknya akan membantunya melupakan Tyara.

"Sava lapar, Bun!" Sava lantas ngeloyor pergi ke ruang makan. Marissa bergegas mengambilkan piring untuknya, tapi sekali lagi Sava menolaknya. Ia tidak lupa kalau Sava juga sudah terbiasa menyiapkan makannya sendiri sejak masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Tapi ia hanya ingin menemani Sava makan siang. Mendengar celotehnya tentang sekolah, teman-teman, dan guru-gurunya seperti dulu lagi. Tapi sekarang Sava pun seperti sudah tidak membutuhkannya lagi. Ia sudah bisa mengurus dirinya sendiri.

"Bunda enggak makan?"

Suara Sava menyurutkan langkah Marissa yang akan kembali ke dapur. Dilihatnya Sava menyodorkan piring kepadanya. Seketika Marissa merasa perutnya kelaparan. Ia baru ingat tak ada yang masuk ke dalam lambungnya sejak tadi malam selain secangkir kopi hitam. Ia pun mengangguk. Dilihatnya Sava tersenyum senang.

Sejak empat bulan terakhir ini ia memang sulit sekali makan dan tidur hingga membuat tubuhnya pun menjadi sangat kurus. Dan ia pun menyadari anak serta suami tercintanya begitu mencemaskannya. Ia tidak bisa membohongi mereka dengan berpura-pura baik-baik saja kalau pada kenyataannya ia memang masih belum bisa menjalani kehidupannya seperti dulu lagi. Saat sahabatnya itu masih ada.
Padahal mereka juga sudah berusaha sangat keras untuk menghiburnya dengan berbagai macam cara. Mengajaknya berlibur, memberi hadiah, bahkan menawarkan asisten rumah tangga untuk membantunya. Tapi semua perhatian itu malah membuatnya semakin merasa bersalah karena ia lebih sering mengingat sahabatnya itu hingga mengabaikan keberadaan mereka. Ia masih sering lupa bahwa ia adalah seorang istri dan Ibu yang mempunyai kewajiban untuk mengurus suami dan anak tercintanya.

Kehilangan Tyara telah benar-benar membuatnya melupakan dunia nyatanya. Ia masih saja merasa berada pada dimensi waktu yang berbeda. Waktu yang tidak pernah bergerak. Waktu dimana Tyara masih bersamanya.

Marissa menghela nafasnya yang berat. Ia sangat merindukan Tyara. Merindukan suaranya yang nyaring. Tawanya yang lepas seperti tak punya beban hidup. Dan senyumannya yang hangat. Yang selalu saja bisa mencairkan hatinya yang sering kesepian di rumah, saat ia tengah sendirian menunggu Sava dan Mas Armand pulang.

Ia menyadari bahwa hidup terus berjalan, dan ia pun harus bergerak maju. Meninggalkan masa lalu dan mencoba ikhlas dengan kepergiannya. Tapi bagaimana ia bisa mengikhlaskan dan melupakan sahabatnya itu, jika ia selalu saja datang menemuinya? Tyara tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Ia selalu ada di dekatnya, seperti dulu. Ia masih datang menemaninya sejak Sava mulai berangkat ke sekolah dan Mas Armand berangkat ke kantor. Ia selalu membawa serta kue-kue lezat buatannya untuk mereka nikmati bersama secangkir kopi panas di taman belakang rumahnya. Taman yang penuh bunga mawar yang mereka tanam bersama.

Tidak ada yang bisa memisahkan persahabatan keduanya sejak mereka bertemu pertama kalinya di kampus yang sama. Bahkan setelah menikah pun mereka tinggal dalam satu kompleks perumahan yang sama. Tyara bahkan berjanji padanya akan selalu menemaninya. Mereka akan selalu bersama hingga tua nanti. Hingga maut memisahkan. Tapi kini ia malah meninggalkannya lebih dulu.

"Buun..."

Suara lembut Sava menyadarkan Marissa dari lamunannya. Dilihatnya makanan di piring Sava sudah habis tak bersisa. Dan tiba-tiba ia tersadar melihat makanan di atas piringnya yang masih utuh. Buru-buru Marissa menyuapkan makananya ke dalam mulut. Dan memaksa dirinya untuk menghabiskannya tanpa sisa, meski membuat perutnya sangat mual. Tapi apapun akan dilakukannya demi Sava. Ia tidak ingin membuat anaknya itu bersedih karena mengkhawatirkan dirinya. Ia tidak ingin dikasihani oleh anaknya sendiri. Ia merasa sangat malu. Bukankah seharusnya ia yang mengurus Sava? Mencemaskannya seperti layaknya seorang ibu?

Marissa tersenyum saat dilihatnya raut wajah Sava yang gembira melihatnya menghabiskan makanannya. Buru-buru ia membereskan piring-piring kotor di atas meja dan membawanya ke dapur, sebelum perutnya berontak karena menahan rasa mual yang menyerangnya sejak tadi.

Namun, hampir saja ia menjatuhkan piring kotor yang dibawanya, ketika dilihatnya sosok Tyara kini sudah kembali berada di taman belakang. Marissa merasa lambungnya semakin mual. Ia pun memuntahkan kembali apa yang dimakannya ke dalam wastafel. Dan menyalakan keran air keras-keras agar Sava tidak mendengarnya. Diminumnya segelas air hangat untuk sedikit meredakan rasa mual. Ia merasa tubuhnya sangat lemas. Kepalanya terasa berputar-putar. Dihelanya nafas panjang. Dan diarahkannya kembali pandangannya ke taman belakang.

Dari jendela dapur dilihatnya Tyara yang masih mengenakan baju yang sama saat kematiannya masih berada disana. Duduk membelakanginya. Ia tengah memandangi Bunga Mawar dalam pot gerabah tua kesayangannya itu. Pohon Mawar yang paling subur diantara pohon lainnya. Berbunga paling cepat dan paling lebat. Dua hari sebelum kepergiannya Tyara mengatakan ingin mengganti sendiri pot mawar itu dengan pot baru yang lebih besar. Tiba-tiba Marissa mengernyitkan keningnya. Apakah itu yang membuatnya selalu datang ke sana? Apakah ia ingin pot itu diganti?

Marissa melirik ke ruang makan. Dilihatnya Sava masih berada di sana. Menikmati es krim kesukaannya, sambil bercengkrama dengan temannya melalui panggilan video. Ia selalu merasa khawatir Sava akan muncul tiba-tiba dan melihat Tyara di sana. Meskipun Tyara selalu menghilang jika terlihat oleh orang lain selain dirinya.

Marissa memejamkan kedua matanya sesaat. Berharap sosok Tyara pergi dari sana. Tapi sosok itu masih tetap di sana saat ia kembali membuka mata. Duduk terdiam sambil memandangi Bunga Mawar itu. Ia tahu Tyara menunggu dirinya. Ini adalah waktu mereka biasa bersantai setelah makan siang bersama. Marissa menghela nafas panjang. Diambilnya ketel kecil untuk merebus air, disiapkannya dua buah cangkir dan diisinya dengan dua buah kantong teh.

Tanpa berkata Marissa meletakan kedua cangkir teh itu di atas meja kecil. Diletakannya satu cangkir di dekat sahabatnya yang masih mematung dalam duduknya. Ia tidak pernah sekali pun menoleh. Pandangannya selalu lurus ke depan, ke arah Bunga Mawarnya yang semakin subur. Rambutnya yang tebal sebahu tampak menutupi separuh wajahnya yang pucat pasi. Ia tidak seperti orang yang sudah mati. Bahkan tidak ada bekas luka di wajahnya seperti saat ia ditemukan dalam kecelakaan mobil itu. Marissa menyeruput teh hangatnya. Seketika hatinya pun menjadi hangat. Kini ia tersenyum memandangi tanaman mawarnya yang tengah berbunga. Membiarkan dirinya terbenam kembali dalam kenangan masa lalu yang dirindukannya. Bersama Tyara.

Dari kejauhan, Sava menitikan air mata. Melihat Sang Bunda yang tengah duduk sendirian, dengan dua cangkir teh di atas meja sambil memandangi pohon-pohon mawarnya yang sudah mengering.

Janji Sampai Mati Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang